Belajar Daring di Tengah Wabah Virus Korona tidak Efisien?

Ilustrasi. (Foto: IST)

Rizky Firdaus Surya
Tim Peneliti Fourtastic Teknik Lingkungan Universitas Andalas

Virus korona atau Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia.

Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran napas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019. Covid-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.

World Health Organization (WHO) menetapkan darurat dunia atas penyebaran virus korona yang begitu luas sehingga seluruh pihak harus ikut berpartisipasi meningkatkan pengawasannya terhadap kesehatan masyarakat.

Pemerintah Indonesia mulai cepat dan tanggap untuk menganjurkan warganya menerapkan social distancing atau mengisolasi diri di rumah untuk mengantisipasi penyebaran virus yang semakin meluas.

Penyebaran virus Covid-19 yang sangat masif berdampak luas bagi sektor penting di Indonesia terutama pada sektor pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengimbau para pendidik agar dapat menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dari rumah bagi siswa dan mahasiswa.

Pandemi virus korona atau Covid-19 memaksa semua orang untuk melakukan adaptasi, tidak terkecuali para guru. Sekolah boleh saja tutup, tapi aktivitas belajar mengajar harus berlanjut.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Lingkungan, Universitas Andalas (Unand) 100% guru-guru se-Sumatera Barat telah melakukan pencegahan untuk Covid-19 dengan mengikuti peraturan pemerintah yaitu mengadakan pembelajaran secara daring atau pembelajaran yang dilakukan tanpa tatap muka melalui platform yang telah tersedia.

Daya dukung pembelajaran daring tentunya memerlukan sarana dan prasarana seperti Handphone Android, jaringan yang kuat, dan kuota tentunya. Harga kuota dengan jaringan yang kuat tergolong cukup mahal bagi siswa dan orangtua, apalagi di tengah wabah ini, pendapatan orangtua pun menurun signifikan.

Para guru pun tidak bisa memaksakan siswa-siswinya dengan keadaan ekonomi yang tergolong rendah. Lantas bagaimana nasib pendidikan di negara ini ke depannya, jika pandemik ini tak kunjung usai?

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Lingkungan, Universitas Andalas memang rata-rata para guru telah mendapatkan panduan mengajar via daring dari pemerintah. Akan tetapi, hal ini tidak cukup membantu.

Faktanya masih banyak guru dan siswa mengeluh dengan pembelajaran seperti ini, kendala terbesarnya ialah banyaknya siswa yang tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk bersekolah via daring, dan juga siswa yang kurang paham atau gaptek dengan sistem pembelajaran ini.

Hal ini tentunya berdampak serius terhadap para siswa, mereka menjadi sulit memahami materi yang disampaikan oleh gurunya. Para guru pun kewalahan mencari cara untuk menjelaskan materi kepada siswa-siswinya, bagaimanapun guru mengemban amanah untuk mencerdaskan generasi bangsa ini.

Hasil penelitian menunjukkan 68,6% guru menyatakan bahwa efisiensi pembelajaran daring ini hanya 50%. Itu artinya pembelajaran daring tidak cukup efisien untuk dilaksanakan dalam kurun waktu yang lama.

Pembelajaran secara online nyatanya tidak seefektif yang diharapkan. Menurut beberapa guru justru murid terlebih orangtua tidak siap dengan sistem online. Guru-guru pun mulai memikirkan alternatif atau metode lainnya agar para siswanya dapat menangkap pelajaran yang diberikannya dan pembelajaran berlangsung lancar. Dari hasil survey guru menginginkan pembelajaran kembali tatap muka, hanya saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini sudah mulai dilakukan beberapa orang guru.

Ia memberikan hard-copy materi terhadap siswa, lalu siswa diberi tugas dan diberi waktu pengumpulan 1x seminggu dengan cara orangtua mengantarkan ke guru dengan tetap menerapkan pysical distancing dan mengunjungi rumah siswa yang sangat tidak paham akan pembelajaran. Namun, hal ini tidak mungkin dilakukan terus menerus.

Alhasil, guru meminta agar pemerintah memberikan fasilitas yang memadai bagi keluarga siswa yang tidak sanggup memenuhi permintaan kuota dari anak-anaknya, ini semua demi pendidikan bangsa ini. Agar pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi yang bisa bertatap muka seperti zoom atau skype. (*)