Covid-19, Diabetes dan Tatanan Kehidupan Baru

119
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unand, Eva Decroli. (Foto: IST)

Eva Decroli
Guru Besar Fakultas Kedokteran Unand

Dampak pandemi Covid-19 semakin meluas di banyak sektor kehidupan. Pandemi ini dimulai dengan munculnya kasus pertama pada bulan Desember 2019 di negara Tiongkok tepatnya pada Kota Wuhan Provinsi Hubei, terjadi lonjakan jumlah kasus infeksi paru-paru (pneumonia) yang penyebabnya belum dapat diketahui.

Selanjutnya, Negara Tiongkok mengidentifikasi penyebab infeksi paru tersebut sebagai jenis baru Coronavirus yang dinamakan sebagai severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernafasan. Pada banyak kasus virus ini hanya menyebabkan infeksi pernafasan ringan, seperti flu.

Namun, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernafasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia).

Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) kemudian dinamakan sebagai coronavirus disease 2019 (Covid-19). Dalam waktu yang singkat Covid-19 kemudian menyebar ke berbagai negara di dunia. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi.

Di Indonesia, Covid-19 pertama kali ditemukan pada tanggal 2 Maret 2020 dan sejak saat itu virus korona ini menyebar ke berbagai provinsi di Indonesia.

Data terbaru di Provinsi Sumbar pada saat tulisan ini dibuat pada tanggal 16 Juni 2020 terdapat penambahan jumlah kasus yang dinyatakan positif Covid-19 sebanyak 6 kasus, sehingga jumlah total kasus positif Covid-19 di Sumbar bertambah menjadi sebanyak 687 kasus dengan rincian: Kasus sembuh sebanyak 461 orang (67,1%), wafat 30 orang (4,37%), dirawat di rumah sakit 110 orang (16,01%) dan isolasi mandiri sebanyak 86 orang (12,52%).

Berdasarkan berbagai bukti ilmiah, Covid-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui percikan batuk/bersin (droplet). Seseorang dapat tertular Covid-19 melalui berbagai cara, yaitu: tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita Covid-19 batuk atau bersin, memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita Covid-19 dan kontak erat dengan penderita Covid-19.

Kontak erat yang dimaksud berdasarkan pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam ruangan atau berkunjung (dalam radius 1 meter dengan kasus pasien dalam pengawasan atau konfirmasi) dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala. Waktu yang diperlukan dari saat seseorang terpapar sumber infeksi Covid-19 hingga mengalami gejala dinamakan dengan masa inkubasi.

Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan masa inkubasi dari Covid-19 antara 1-14 dengan masa inkubasi rata-rata selama 5 hari. Pada 95% kasus infeksi Covid-19 gejala timbul pada 12,5 hari setelah kontak dengan sumber penularan. Satu orang yang terkonfirmasi positif menderita Covid-19 dapat menyebarkan kepada 2.6 orang lainnya.
Infeksi Covid-19 dapat terjadi tanpa gejala hingga dengan gejala infeksi pernafasan yang berat.

Orang tanpa gejala (OTG) adalah seseorang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang konfirmasi positif Covid-19. Gejala awal infeksi Covid-19 dapat menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, lemah letih, nyeri otot, dan sesak nafas. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Gejala yang jarang ditemui dapat berupa batuk berdahak, nyeri kepala, batuk darah dan diare.

Penderita dengan gejala yang berat dapat mengalami demam tinggi, batuk berdahak, sesak nafas dan nyeri dada. Walaupun infeksi paru-paru merupakan gejala yang sering terjadi namun pada beberapa kasus dapat mengeluhkan nyeri dada yang disebabkan oleh peradangan selaput paru-paru.

Berbagai penelitian yang dilakukan terhadap penderita Covid-19 mendapatkan beberapa hal yang menarik terkait gejala dari infeksi Covid-19 yaitu : 20% dari orang yang terinfeksi Covid-19 di kota Wuhan tidak mengalami gejala demam, selain itu batuk merupakan gejala yang umum pada pasien Covid-19 di Negara Tiongkok yang berada di luar Kota Wuhan. Gangguan penciuman dan pengecapan juga dapat menjadi gejala awal dari infeksi Covid-19, sehingga hal ini dapat menjadi penanda awal adanya infeksi Covid-19.

Orang dengan usia yang lebih tua dan orang-orang dengan penyakit penyerta (seperti penyakit gula (diabetes), penyakit jantung, asma, penyakit ginjal, keganasan, dan lainnya) dapat mengalami gejala Covid-19 yang lebih berat. Pasien diabetes adalah salah satu kelompok yang paling rentan terhadap penyakit Covid-19. Berdasarkan data di kota Wuhan terdapat 42,3% dari 26 kematian kasus Covid-19 yang menderita diabetes.

Data lainnya mendapatkan bahwa diabetes merupakan penyakit penyerta terbanyak kedua pada kasus kematian karena Covid-19 yaitu sebanyak 7,3% setelah penyakit kardiovakular. Ketika seseorang yang menderita diabetes, maka akan lebih sulit untuk mengobatinya karena perubahan kadar gula darah dan adanya komplikasi dari diabetes.Penderita diabetes dapat mengalami komplikasi yang berat dari infeksi Covid-19 dibandingkan orang normal dan memiliki tingkat kematian yang tiga kali lipat lebih tinggi.

Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh pada penderita diabetes telah terganggu sehingga menjadikan penderita diabetes gampang tertular dan mengalami gejala yang lebih berat. Namun berbagai komplikasi tersebut dapat diminimalkan dengan pencegahan dan disiplin yang ketat dari penderita diabetes.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyampaikan bahwa Covid-19 tidak dapat hilang dalam waktu singkat dan menjadi masalah di seluruh dunia. Oleh karena itu tatanan hidup normal yang baru perlu diterapkan oleh masyarakat. Pada saat ini Indonesia akan memasuki tatanan kehidupan baru (new normal) yang merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan dengan tujuan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Tatanan kehidupan baru ini termasuk kebiasaan-kebiasaan untuk hidup bersih dan sehat, untuk selalu cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir minimal 20 detik, memakai masker jika harus keluar rumah, menerapkan etika batuk yang benar, hindari kerumunan dan menjaga jarak fisik.

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh penderita diabetes untuk mencegah penularan Covid-19 ketika menjalankan tatanan kehidupan baru adalah kontrol gula darah yang baik sehingga dapat menurunkan risiko dan keparahan infeksi dengan cara rutin mengkonsumsi dan menggunakan obat antidiabetik secara disiplin, sesering mungkin memeriksakan kadar gula darah dengan cara pemeriksaan gula darah mandiri dirumah, secara rutin memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter spesialis penyakit dalam terutama untuk pencegahan terhadap komplikasi diabetes pada kesehatan jantung dan ginjal, pola makan yang seimbang dengan memperhatikan juga asupan vitamin dan mineral, rutin melaksanakan aktivitas olahraga agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh dengan tetap menjauhi keramaian atau berkumpul serta karantina mandiri khususnya pada orang-orang yang beresiko tinggi.

Penderita diabetes yang terinfeksi Covid-19 harus melaksanakan isolasi diri selama 14 hari atau hingga gejala teratasi. Intinya setiap penderita diabetes harus mewaspadai penularan Covid-19 dan kontrol gula darah yang baik merupakan kunci utama. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang menderita diabetes memiliki kemungkinan yang besar untuk mengalami komplikasi yang serius dari Covid-19, serta orang dengan diabetes juga akan memiliki angka kematian yang tinggi pada infeksi Covid-19.

Risiko dan keparahan dari Covid-19 pada orang dengan diabetes dapat dikurangi dengan kontrol gula darah yang baik, sesering mungkin memeriksakan kadar gula darah, rutin memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter spesialis penyakit dalam, menjaga pola makan yang seimbang, dan rutin melaksanakan aktivitas olahraga, serta karantina mandiri. (*)