Kontroversi Legenda Putri Mandalika dan Raja Ampat dalam Tugas Murid SD

Ilustrasi, dok: ceritarakyatnusantara.com

Sejak tiga hari belakangan, media sosial para ibu ramai dengan postingan tugas belajar di rumah untuk hari Rabu, 15 April 2020 melalui televisi (TVRI). Isi postingan tersebut terkhusus pada tugas siswa sekolah dasar. Postingan yang telah dibagikan beberapa kali tersebut mengundang banyak komentar senada tentang cerita Putri Mandalika dan Raja Ampat.

Tulisan yang mereka bagikan seolah mengandung kekhawatiran mendalam terhadap masa depan generasi penerus bangsa. Para ibu, dalam postingan tersebut mengaku bahwa keduanya (cerita Putri Mandalika dan Raja Ampat) merupakan hal yang mengerikan untuk disampaikan kepada siswa SD. Bahkan keluar pula bahasa “Emak sudah cukup bersusah payah jadi guru buat mereka dan sekarang ditambah lagi harus berjuang lebih keras mengawasi aqidah mereka gegara program televisi dari pemerintah yang katanya buat membantu anak-anak SD ini belajar di rumah. Emak sungguh terkejoet dibuatnya.

”Sebetulnya, cerita Putri Mandalika adalah sebuah legenda yang berkembang di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dari cerita yang berkembang, dahulu kala di sebuah kerajaan lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Setelah dewasa putri tersebut dilamar oleh belasan pria. Demi ketenteraman dan kedamaian di Pulau Lombok sang putri memutuskan untuk menjatuhkan dirinya ke laut. Namun, sang putri yang dikenal dengan nama Putri Mandalika tersebut tidak kembali. Setelah itu terlihatlah banyak sekali hewan berbentuk cacing nyale di laut. Hingga kemudian hari di Lombok berkembang sebuah tradisi upacara adat Nyale yang dilakukan setahun sekali. Demikian pula dengan legenda Raja Ampat.

Cerita ini berkembang dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat Papua. Dikisahkan ratusan tahun silam ada sepasang suami isteri yang menemukan 6 butir telur naga saat mencari bahan makanan di hutan. Setiba di rumah, sang isteri segera meracik bumbu, sedangkan telur-telur itu diletakkan di meja. Tiba-tiba terdengarlah suara berisik dari tempat mereka meletakkan telur.

Alangkah kaget mereka saat menghampirinya, 5 dari 6 telur itu telah menetaskan anak manusia. 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Satu telur yang tidak menetas mengeras seperti batu. Pada akhirnya, keempat laki-laki tersebut menjadi raja dan yang perempuan dihanyutkan karena diketahui hamil, sedangkan batu yang mengeras diperlakukan oleh masyarakat sekitar sebagai seorang raja. Bahkan batu itu diberi ruangan tempat bersemayam, lengkap dengan dua batu yang berfungsi sebagai pengawal. Nah, keempat raja tadi lah yang tingal di empat pulau yang disebut Raja Ampat.

Legenda ialah salah satu jenis cerita yang diwariskan dan berkembang dari mulut ke mulut. Ia merupakan prosa lama yang juga dipelajari di sekolah. Cerita-cerita yang dikenal dengan sebutan folklor ini merupakan salah satu kekayaan budaya nusantara. Sebagai warisan budaya tentu anak-anak yang tidak lain adalah generasi penerus bangsa juga berhak untuk mendapatkan pengetahuan tentang hal itu. Pengetahuan tersebut tentu saja sangat berguna bagi mereka untuk menjaga kelestarian budaya nusantara nantinya. Sebab, merekalah di masa depan yang akan memegang kendali atas Indonesia dan segala isi serta budayanya.

Anak-anak ini pula yang kelak akan meneruskan pada generasi berikutnya. Tentang Tradisi Nyale, Raja Ampat, Tangkuban Perahu, Batu Malin Kundang, dan banyak cerita rakyat nusantara lainnya. Dilihat dari tulisan para ibu dalam postingan media sosial, yang sangat dikhawatirkan adalah ajaran yang akan diterima anak mereka dari kisah Putri Mandalika yang menceburkan diri kelaut (bunuh diri). Dirisaukan pula akidah anak-anak akan rusak sebab dalam kisah Raja Ampat, masyarakatnya menyembah batu. Itulah keluh kesah mereka.

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dari kekhawatiran. Hal yang wajar jika orangtua khawatir dengan putra-putri mereka. Akan tetapi, berpikiran positif dan tidak terlalu cepat berkesimpulan negatif juga sangat dibutuhkan. Sebagai salah satu dari jenis prosa lama, Legenda memiliki ciri yakni menyampaikan ajaran moral. Nah, di sini anak-anak, khususnya yang sudah usia sekolah tidak ditugaskan untuk meniru. Mereka harus dibimbing untuk menganalisa. Sedangkan untuk dapat menganalisa dengan baik, tidak menutup kemungkinan adanya pembanding.

Bagaimana seorang anak dapat mengetahui bahwa sesuatu itu buruk dan tidak boleh dikerjakan? Tentu saja dengan mengetahui mana yang baik dan boleh dikerjakan. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, agar anak-anak dapat mengambil hal baik dari sesuatu dan mengenali hal buruk dari sesuatu sangat dibutuhkan peran orangtua sebagai pembimbingnya.

Meskipun anak-anak telah diserahkan ke sekolah, seharusnya orangtua jangan mengeluh terhadap susahnya mendidik anak. Perlu disadari bahwa orang tua terutama ibu, adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bukan hal yang tidak mungkin seorang ibu dapat menggunakan legenda, cerita rakyat, bahkan dongeng dalam pembelajaran di rumah. Dengan ini, selain pengajaran moral dan bekal masa depan, anakpun dapat mengenal adanya keanegaragaman budaya ataupun tradisi di nusantara yang patut dihargai. Dalam pembelajaran tentu saja menjadi hal yang sangat penting pula untuk menyertainya dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada buah hati. Jadi, tidak ada bimbingan terbaik selain bijaknya bimbingan seorang ibu. (*)

*Penulis: Junilawata Resdia – Staff Pengajar Arka Trans Psikologi