Saatnya Menerapkan Think Globally Act Locally

Lawan Covid-19.

Musliar Kasim
Majelis Pengurus Pusat ICMI

Senin (27/4) lalu, kami Majelis Pengurus Pusat (MPP) dan Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI se-Indonesia melaksanakan rapat online dengan menggunakan Zoom. Hadir sekitar 42 participant dari berbagai daerah mulai dari Indonesia Barat sampai Indonesia Timur. Rapat dipimpin oleh Ketua Umum Prof Jimly Assidiqi tampak hadir juga Sekjen, Ketua Dewan Pakar dan juga ada Bapak Ilham Habibie. Ini merupakan rapat kedua yang dilakukan secara online oleh ICMI sejak Covid-19. Teknologi yang sudah lama tersedia, tapi baru sekarang marak dipakai di Indonesia. Selama ini kalau kita ingin rapat rasanya belum afdal kalau tidak melaksanakan di Jakarta atau di tempat lain dan hadir secara fisik. Jika selama ini untuk menghadirinya kita mungkin harus naik pesawat, perlu taksi dari bandara ke tempat rapat, kalau tidak bisa pulang ke tempat tinggal pada hari yang sama harus menginap di hotel, yang sudah tentu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit pula. Tapi hari ini pekerjaan yang harusnya memakan waktu dan biaya yang lumayan banyak, bisa dilaksanakan dengan simple dan murah yaitu menggunakan online.

Pada tulisan ini saya ingin mengulas apa yang berkembang dalam rapat ICMI tersebut, dalam upaya mengantisipasi yang bakal timbul pada masa yang akan datang yaitu deglobalisasi. Jika pada masa sebelum Covid-19 mewabah, hampir semua kita lebih banyak berorientasi keluar negeri, overseas minded. Orang-orang terpelajar dan orang menengah atas sangat senang mengkonsumsi produk impor dari luar negeri, seperti daging, ikan, sayur dan buah-buahan. Jika kita minum orange jus selalu pakai jeruk sunkist yang diimpor dari negara lain. Kita tidak tahu entah sudah berapa lama buah itu habis dipanen dibuat jus yang kita minum. Kita senang meminumnya karena barangnya banyak tersedia di pasaran terutama di hotel berbintang dan di restoran mewah, karena disana hanya jeruk jenis itu yang tersedia. Begitu juga dengan pakaian, jam tangan, parfum dan barang-barang lain, bangsa Indonesia merasa sangat bangga karena rasa bergengsi kalau pakai produk luar negeri. Kadang-kadang sengaja memperlihatkan mereknya agar diketahui oleh orang lain bahwa yang dipakai adalah barang branded. Akibat perilaku kita yang seperti itu, transaki perdagangan Indonesia dengan beberapa negara importir sering mengalami negatif. Hal ini terjadi karena barang yang kita import lebih banyak dibandingkan barang yang kita ekspor ke negara tersebut.

Dengan adanya wabah Covid-19 ini, semuanya berubah. Pola hidup kita otomatis berubah karena tidak bisa dilakukan dengan cara seperti yang selama ini kita lakukan. Perubahan tersebut bukan kehendak kita tapi keadaan yang mengharuskan kita berubah. Saat ini jangankan minum jus jeruk sunkist di hotel atau restorant yang biasa tempat kita nongkrong, pergi ke hotel dan restoran itu saja tidak bisa kita lakukan akibat wabah Covid-19 ini. Untuk itu kita harus mengubah kebiasaan kita, jika selama ini kita sering minum di luar sekarang minum di rumah, jika yang kita minum biasa produk luar sekarang harus produk dalam negeri, karena produk luar negeri pasokannya langka. Kebiasaan itu sudah kita jalani selama sebulan, kita tidak tahu entah kapan akan berakhir. Kita tetap berdoa agar wabah ini cepat berakhir di daerah dan negara kita ini.

Setelah berjalan lebih satu bulan kehidupan di tengah wabah dengan pola atau cara hidup kita yang baru karena telah berubah, saya yakin tubuh kita akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang sekarang. Jika dahulu kita merasa enak dan nyaman sekali makan atau minum produk buah-buahan impor sekarang malah sudah terbiasa minum hasil pertanian atau produk dalam negeri. Kita sudah nyaman memakai masker yang dibuat oleh perajin yang ada di daerah kita. Kita tidak sempat memikirkan masker produk luar negeri karena memang belum dibuat oleh perancang busana yang lebih modis, seperti masker yang seyogianya dipakai oleh anak muda atau orang yang biasa bersolek.

Saya yakin bahwa permintaan buah dan produk dalam negeri sekarang jauh meningkat jika dibandingkan sebelum Covid-19 ini. Permintaan ini meningkat bukan karena keinginan kita saja tapi memang karena produk impor itu yang langka di tempat kita saat ini. Negara importir yang selama ini memasok kebutuhan kita sibuk untuk mengurus warganya yang terdampak Covid-19. Selain itu mereka juga dibatasi beraktivitas, sehingga mereka lebih mengutamakan untuk keperluan mereka sendiri dibandingkan untuk mengekspor ke negara lain. Jika sebelum Covid-19 kita dengan mudah melihat produk buah-buahan impor sampai ke kampung-kampung di daerah terpencilpun ada, sekarang kalaupun masih ada itu adalah persediaan yang lama.

Untuk itu kita sekarang harus berpikir, bagaimana agar kebutuhan kita bisa dipenuhi dari hasil kita sendiri. Apakah buah-buahan, sayur-sayuran dan termasuk barang hasil pabrik yang dihasilkan oleh UMKM. Andaikata terjadi wabah seperti ini,saat produk dari luar negeri tidak bisa masuk ke Indonesia, kita sudah siap dengan produk kita sendiri. Negara produsen biasanya ingin menyelamatkan kebutuhannya sendiri terlebih dahulu di samping juga disebabkan karena distribusinya tergangu karena beberapa negara menerapkan kebijakan lockdown.

Saya optimis kalau dari sekarang kita mulai, bagaimana menggairahkan masyarakat kita untuk menanam dan memproduksi barang-barang dalam negeri, saya yakin negara kita tidak akan tergantung pada negara lain. Negara kita sangat ideal untuk memproduksi berbagai jenis tanam-tanaman tropika. Hampir semua bahan pangan yang kita butuhkan bisa tumbuh dengan baik di Indonesia kecuali beberapa tanaman subtropis yang belum bisa tumbuh seperti gandum. Kita harus berpikir bisa hidup dan mandiri dengan apa yang kita miliki, kepada kita yang terbiasa memakan atau memakai produk impor mulailah berubah mencintai produk lokal. Begitu juga untuk menghasilkan produk manufaktur, mestinya kita siap, karena tenaga kerja kita banyak, dari pada bekerja jadi TKI keluar negeri lebih baik kita ciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka di tanah air sendiri.

Globalisasi yang sudah lama kita siapkan cukuplah untuk mengasah diri kita agar pola pikir dan cara tindak kita saja yang mengglobal seperti mereka dinegara maju tersebut. Mereka bisa memikirkan semua kebutuhan orang, mulai dari makanan sampai kebutuhan yang di luar untuk keperluan komsumsi. Apa saja keperluan yang kita butuhkan apabila terlihat oleh mereka, mereka dengan cepat sekali membuatnya dan langsung dijual secara global. Pasar yang paling banyak mereka bidik adalah kita di Asia Tenggara terutama Indonesia. Lihatlah apa yang dijual di pusat penjualan barang-barang Ace Hard Ware. Mulai dari pernak pernik yang kecil sampai yang paling besar seperti skrup, obeng, pisau, tempat tidur, lemari, alat kantor sampai kemeja kantor dan air conditioner yang kita butuhkan pun ada di sana. Kenapa kita tidak memulai untuk memikirkan keperluan kita sendiri membuat yang simple saja tapi berguna.

Negara Asia yang paling siap untuk menghadapi kondisi seperti ini adalah Tiongkok, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan, karena mereka telah memproduksi hampir semua kebutuhan mereka mulai dari yang kecil dan sederhana sampai ke hal-hal yang besar dan canggih. Kita mesti mencontoh budaya mereka, jika bisa kita membuat sendiri atau menghasilkan tanaman sendiri kenapa harus dibeli produk luar. UMKM kita tidak bisa maju karena masyarakat kita suka membeli produk luar dibandingkan buatan dalam negeri. Contohlah India, mereka bangga memakai produk sendiri walaupun belum senyaman produk luar yang sejenis.

Mari kita ambil hikmah dari wabah Covid-19 ini, di mana sejak wabah Covid-19 kita mulai terbiasa mengkonsumsi dan menggunakan produk dalam negeri. Untuk itu kita harus berpikir andaikata produk global tidak bisa masuk ke Indonesia, maka harus sudah tersedia produk sendiri. Kita harus menerapkan betul Think Globally Act Locally, slogan yang sudah lama kita dengungkan tapi belum pernah kita mulai. Inilah saatnya yang paling tepat kita mulai karena sudah dilakukan selama sebulan lebih. Mestinya dengan membiasakan kehidupan kita dengan produk dalam negeri selama sebulan kita akan semakin mencintai produk kita sendiri. Amin, semoga Indonesia menjadi negara mandiri. (*)