On The Track

55

Oleh : Two Efly, Wartawan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Sumbar boleh saja kalah dibandingkan nasional pada Q1/2022 (data BPS), namun soal report progress bisnis di lembaga keuangan Sumatera Barat jauh lebih baik dibandingkan rerata nasional.

Tak percaya? Mari kita buka data. Dikutip dari data SPI (Statistik Perbankan Indonesia) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Q1/2022 lembaga keuangan di Sumbar terus bertumbuh dengan baik dan mampu melampaui rerata pertumbuhan perbankan nasional. Baik dari sisi Asset, realisasi Kredit, Dana Pihak Ketiga, kualitas kredit maupun intermediasinya.

Hingga Q1/2022 Total asset tercatat Rp 73,30 Triliun. Secara year on year (y-o-y) bertumbuh 12,45 persen. Pertumbuhan asset ini melampaui pertumbuhan asset perbankan nasional. Sumbar sudah bertumbuh double digit, sementara nasional masih terkunci single digit. Re rata pertumbuhan asset perbankan di Sumbar 12,15 persen sedangkan rerata pertumbuhan asset perbankan nasional hanya 9,15 persen.

Begitu juga dengan Kredit. Q1/2022 realisasi kredit perbankan di Sumbar tercapai Rp61,50 Triliun atau tumbuh 7,63 persen secara year on year (y-o-y). Pertumbuhan kredit ini juga melampaui pertumbuhan kredit re rata nasional. Serapan kredit di Sumbar tumbuh 7,63 persen sementara pertumbuhan kredit nasional hanya re rata 1,02 persen. Sama halnya dengan Dana Pihak Ketiga (DPK), Q1/2022 realisasi DPK 53,57 Triliun atau tumbuh 10,88 persen sedangkan rerata pertumbuhan DPK nasional hanya 9,98 persen. Artinya, nasional masih mengalami surplus likuidtas sementara Sumbar sudah masuk dalam “gerbang” ideal disparitas antara Dana Pihak Ketiga dengan realisasi Kredit.

Ratio Kualitas Kredit di Sumatera Barat juga jauh lebih baik dibandingkan kualitas kredit secara nasional. Jika nasional rerata ratio Non Perfomance Loan nya 3,06 persen sedangkan Sumatera Barat hanya 1,97 persen.

Ini menandakan kredit bermasalah di Sumbar lebih rendah dibandingkan kredit bermasalah secara nasional. Sementara itu Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di Sumbar tercapai 114,81 persen sedangkan intermediasi perbankan nasional hanya 79,48 persen.

Artinya, sampai saat ini Sumbar masih mampu melakukan cash inflow untuk menutupi kebutuhan kredit. Perbankan di Sumbar berhasil menarik dana dari luar Sumbar untuk diputarkan di Sumatera Barat memenuhi permintaan kredit.

Dari data di atas dapat kita lihat bahwa kinerja lembaga keuangan khususnya perbankan di Sumbar sudah on the track dan jauh lebih baik dibandingkan nasional. Perbankan di Sumatera Barat lebih cepat pulih dibandingkan dengan perbankan secara nasional. Pengelola otoritas jasa keuangan musti menjaga momentum itu agar tak turbulensi kembali seperti dimasa lalu.

Kredit Konsumtif : Kredit Modal Kerja Vs Kredit Investasi

Kenapa pertumbuhan ekonomi Sumbar lambat? Usut punya usut ternyata pertumbuhan ekonomi Sumbar masih bertumpu pada sektor konsumtif.

Kondisi ini linier dengan realisasi kredit perbankan di Sumatera Barat. Hingga Q1/2022 realisasi kredit di Sumbar secara nominal masih didominasi oleh kredit konsumtif. Setelah itu baru disusul kredit modal kerja dan juru kuncinya kredit investasi.

Data SPI OJK pada Q1/2022 menujukan bahwa dari Rp 61,49 Triliun realisasi kredit, 45,01 persenya atau Rp 27,68 Triliun masuk dalam kelompok kredit konsumtif, sebanyak 40,38 persennya atau Rp 24,83 Triliun masuk ke dalam cluster kredit modal kerja dan hanya 14,60 persen atau Rp 8,98 Triliun yang masuk dalam jenis kredit investasi. Dari serapan kredit ini wajar saja ekonomi Sumbar terbilang lambat untuk bangkit. Pasalnya, multiplier efek kredit konsumtif tidaklah sekuat “tendangan” kredit investasi dan modal kerja.

Selain rendah menghasilkan daya ungkit ekonomi, relatif kecilnya kredit investasi juga menjadi gambaran bahwa minat dan keinginan investasi pelaku ekonomi di Sumbar terbilang juga rendah. Masyarakat Sumatera Barat dan pelaku ekonomi lebih condong konsumtif dibandingkan berinvestasi. Ini musti jadi perhatian kita bersama. Konfigurasi jenis kredit ini mustilah diubah kalau kita mau bangkit. Jangan biarkan kredit investasi ini tercecer jauh dibelakang seperti saat ini.

Baca Juga:  Kendala Ranah-Rantau

Harapan sedikit muncul dari kredit modal kerja. Walau secara nominal masih kalah dibandingkan kredit konsumtif namun secara progress kredit modal kerja jauh lebih tinggi pertumbuhannya dibandingkan kredit konsumtif. Secara year on year kredit modal kerja hingga Q1/2022 tumbuh 11,97 persen sementara kredit konsumtif tumbuh 3,79. Artinya, dunia usaha mulai bergerak terutama di sektor perdagangan dan jasa. Apakah itu termasuk sector pariwisata kita masih membutuhkan traking yang lebih dalam.

Kalah dari Riau dan Nyaris Sebanding dengan Jambi

Tanah dan iklim Sumbar boleh saja jauh lebih baik dibandingkan dengan Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Namun soal keseriusan untuk berinvestasi di sektor Pertanian Sumbar kalah jauh dibanding Riau dan Jambi.

Serapan kredit sektor pertanian di Sumbar terendah di Sumatera Bagian Tengah. Kita hanya menang sedikit dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan kalah jauh dibandingkan Provinsi Sumatera Utara. Hingga Q1/2022 serapan kredit pertanian Sumbar hanya Rp 9,5 Triliun sementara Provinsi Jambi terserap Rp 11,1 Triliun sedangkan Provinsi Riau mencapai Rp 19,8 Triliun. Ini menandakan bahwa Provinsi Riau dan Provinsi Jambi jauh lebih serius dan diminati pertaniannya dibandingkan kita di Sumatera Barat.

Dari enam bidang utama cluster kredit, Sumbar hanya sedikit lebih unggul dalam bentuk kredit modal kerja perdagangan dan jasa. Meskipun begitu, bila dibandingkan Provinsi Sumatera Utara kitapun masih tertinggal jauh. Realisasi kredit perdagangan Sumatera Barat sebanyak Rp 15,5 Triliun sementara Provinsi Riau sebanyak Rp 12,2 Triliun sedangkan Provinsi Jambi Rp 8,2 Triliun.

Untuk kategori industry olahan Sumbarpun lebih rendah dibandingkan Provinsi Riau dan hanya sedikit diatas Jambi. Serapan kredit untuk industry olahan di Provinsi Riau sebesar Rp 6,1 Triliun sementara kita di Sumbar hanya Rp 3,2 Triliun dan Provinsi Jambi sebesar Rp 2,2 Triliun. Begitu juga untuk kelompok Akomodasi dan Makanan. Di sektor ini, Sumbar kalah tipis dari Jambi dan tertinggal oleh provinsi Riau, apalagi dari Sumatera Utara. Serapan kredit untuk kategori Akomodasi dan Makanan di Sumbar hanya Rp 900 Miliar sementara Provinsi Jambi Rp 1 Triliun lebih dan Provinsi Riau Rp 1,6 Triliun. Data ini juga menunjukan bahwa Sumbar sebagai pusat kuliner juga mulai perlu dipertanyakan kembali.

Minim Infrastruktur

Stigma minimnya pembangunan infrastruktur di Sumbar yang didengungkan dijagad medsos satu persatu mulai mendekati benar. Data keuangan dari perbankan juga mengarah juga seperti itu. Lihatlah serapan kredit untuk sector infrastruktur atau konstruksi. Dari tiga Pronvisi berdampingan, Sumbar merupakan provinsi yang terendah serapan kredit kontruksinya.

Hingga Q1/2022 tercatat total serapan kredit konstruksi hanya sebesar Rp 700 Miliar. Kita masih kalah dibandingkan Provinsi Jambi dengan serapan kredit konstruksinya sebesar Rp Rp 900 Miliar dan Provinsi Riau dengan serapan kredit konstruksinya sebesar Rp 2,4 Triliun.

Betul terlalu dini kalau kita menggunakan SPI OJK Q1/2022 untuk evaluasi apalagi menjustifikasi. Ini baru awal tahun dan out standing pemerintah belumlah berjalan maksimal. Masih ada waktu Sembilan bulan ke depan untuk berbenah. Semoga saja di Sembilan bulan tersisa ini kita bisa bangkit dan rebound untuk mendampingi Provinsi Riau dan memperlebar jarak dengan Provinsi Jambi. (***)