Sinyal Motor Ekonomi Mulai Bergerak

9
Bhima Yudhistira Direktur Celios

KABAR gembira datang dari pemulihan ekonomi setelah dua tahun bergelut dengan pandemi. Masyarakat mulai berbelanja di luar rumah, perjalanan antarkota mulai marak, khususnya jelang Lebaran. Pada kuartal I 2022, BPS mengeluarkan rilis pertumbuhan ekonomi berada di level 5,01 persen.

Kinerja konsumsi rumah tangga tidak mengecewakan, yakni naik 4,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Ada korelasi antara penurunan kasus Covid-19 dengan pemulihan pergerakan masyarakat. Berbagai pasar tradisional sampai supermarket kembali dibanjiri kelas menengah yang tidak sabar berbelanja.

Konsumsi tentu berkorelasi dengan pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja. Ada perbaikan dari data pengangguran yang turun ke level 5,8 persen, meski 11,5 juta pekerja masih terimbas pandemi.

Pemulihan serapan kerja tentu butuh waktu, di mana kuncinya terletak pada kepercayaan industri manufaktur untuk melakukan ekspansi dan kenaikan sektor usaha pertanian. Perbaikan kinerja industri pengolahan tecermin dari PMI manufaktur yang berada di angka 51,9 atau dalam fase ekspansi.

Penyaluran kredit investasi ke sektor industri tumbuh 4,9 persen per Maret 2022. Pelaku usaha mulai pede lagi untuk melakukan ekspansi, baik ke dalam maupun luar negeri. Sektor yang berkaitan dengan pariwisata seperti transportasi tumbuh 15,7 persen, disusul oleh perhotelan dan restoran yang naik 6,5 persen pada kuartal pertama.

Gairah masyarakat untuk membelanjakan uang di sektor pariwisata mulai terlihat. Ada tahapan dimulai dari wisatawan domestik yang memanfaatkan libur Lebaran sehingga pemesanan tiket sudah dilakukan sejak Februari-Maret. Berikutnya saat libur musim dingin, wisatawan asing mulai berdatangan.

Harga komoditas yang naik signifikan dalam satu tahun terakhir ibarat berkah yang ditunggu-tunggu. Ketika permintaan nikel, batu bara, dan sawit naik pesat, neraca dagang langsung berkilau.

Ekspor berhasil tumbuh 16,2 persen, meski angka impornya juga ikut naik 15 persen. Impor naik karena industri mulai bergerak kembali dan butuh bahan baku impor lebih banyak. Perang Ukraina-Rusia tentu punya dampak negatif ke berbagai sektor.

Baca Juga:  Land of Equator Sumatera

Tapi, Indonesia sebagai produsen energi dan pangan strategis ikut kejatuhan durian runtuh. Kalau kondisi booming harga komoditas berlanjut, kinerja ekspor diperkirakan mengulang kesuksesan tahun 2011–2013 lalu.

Di tengah badai geopolitik yang tidak menentu, investasi pun terbilang mulai tancap gas. Kenaikan investasi sebesar 4 persen pada awal tahun menjadi sentimen positif. Beberapa investor penanaman modal langsung (PMA) berkejaran dengan waktu untuk merealisasikan investasi ke sektor yang potensial.

Bukan hanya pertambangan yang mengalami kenaikan investasi, melainkan juga sektor teknologi informasi. Kebutuhan akan internet yang tinggi dan layanan secara digital memunculkan peluang masuknya modal dari luar negeri.

Maklum, Indonesia punya 202,6 juta pengguna internet aktif. Ekonomi digital menjadi daya tarik investasi yang tidak bisa dipandang remeh. Yang perlu diwaspadai ke depan adalah tekanan inflasi mulai berimbas ke biaya produksi.

Indeks harga produsen mengalami kenaikan 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2022. Tinggal menunggu waktu bagi produsen untuk menyesuaikan harga jual ke konsumen akhir atau terpaksa memangkas margin keuntungan.

Konsumen kelas menengah bawah pun harus bersiap mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli bahan-bahan kebutuhan pokok. Inflasi akan menjadi tantangan serius di paruh kedua tahun ini. Meski nada pemulihan ekonomi berjalan optimistis, banyak tantangan yang harus dihadapi dan dimitigasi oleh berbagai kalangan.

Pelarangan ekspor minyak kelapa sawit, dan baru-baru ini India ikut melarang ekspor gandum, berlanjutnya perang di Ukraina, harga minyak masih di atas USD 100 per barel, menimbulkan tantangan yang lebih kompleks dibanding saat pandemi.

Lockdown di Tiongkok serta naiknya suku bunga acuan bank sentral AS pun berdampak terhadap stabilitas sektor keuangan di dalam negeri. Optimisme yang dibalut kehati-hatian akan membawa pemulihan yang jauh lebih solid. (*)