Permasalahan Gambir dan Solusinya

54
ilustrasi. (jawapos.com)

Munzir Busniah
Dekan Fakultas Pertanian Unand

Meskipun permasalahan gambir juga terjadi di hulu atau di budidayanya, tetapi permasalahan utama gambir bukan di tingkat budidaya, atau di on farm-nya. Tetapi, permasalahan utama gambir tersebut berada di hilirnya, yaitu kualitas hasil, kelembagaan petani, tata niaga, pasar, kebijakan dan teknologi pengolahan di hulunya. Tulisan ini mengupas hal tersebut, serta solusi dibutuhkan.

Sebagian besar gambir yang dihasilkan petani adalah melalui pengolahan tradisional dan hasilnya disebut dengan gambir asalan. Gambir asalan tersebut hanya mengandung 40-50% katekin. Sedangkan gambir berkualitas baik mengandung 70% katekin atau lebih. Gambir asalan tersebut akan mengalami pengolahan lanjutan untuk meningkatkan kualitas atau kandungan katekinnya, serta memisahkan bahan yang tercampur.

Untuk membuat gambir yang berkualitas tinggi sebetulnya tidak sulit, hanya membutuhkan teknologi yang cukup sederhana dan sebetulnya petani mampu melakukannya. Namun karena berbagai alasan, petani merasa lebih untung menghasilkan gambir asalan tersebut. Padahal, alasan tersebut tidak cukup logis.

Perbedaan mendasar dalam pengolahan antara gambir asalan dengan berkualitas bagus adalah air yang digunakan dalam proses pengolahan. Gambir berkualitas bagus menggunakan air bersih, sedangkan gambir asalan air kalincuang (air bekas pengolahan sebelumnya). Akar permasalahannya adalah apabila proses pengolahan gambir menggunakan air bersih, maka dihasilkan gambir berkualitas bagus namun bobotnya lebih ringan. Sebaliknya, gambir asalan berkualitas rendah dan lebih berat. Untuk meningkatkan bobot gambir, petani sering pula mencampur gambir asalan dengan berbagai bahan lain sehingga bobotnya bertambah berat. Kondisi tersebut membuat mutu gambirnya semakin rendah, sehingga harga pun lebih murah.

Sebetulnya sudah ada beberapa petani gambir “maju” yang menghasilkan gambir berkualitas bagus (dengan kandungan katekin mencapai 70%) harga jualnya mencapai Rp 52 ribu/kg. Sedangkan harga gambir asalan berada di harga Rp 15 ribu/kg. Hal lainnya, penerapan standar mutu gambir tidak berlangsung baik. Juga, SNI hanya bersifat sukarela.

Petani Gambir Terseret Sistem Ijon

Saat harga gambir murah seperti saat ini, banyak berimbas kepada kondisi ekonomi petani gambir. Hal inilah yang kerap dimanfaatkan pengijon. Mereka membiayai petani dalam pengempaan, kemudian gambir yang dihasilkan ”harus” dijual ke peminjam uang tersebut. Tentu harganya di bawah harga pasar. Kondisi tersebut banyak terjadi di sentra-sentra produksi gambir, seperti Pangkalan, Kapur Sembilan dan Mungka, Kabupaten Limapuh Kota.

Mata Rantai Perdagangan Panjang

Sebagian besar gambir diekspor. Eksportir tersebut biasanya berada di kota besar, seperti Padang dan Medan. Gambir yang dihasilkan petani sampai ke tangan eksportir melalui mata rantai perdagangan panjang. Awalnya, petani menjual gambirnya ke pedagang pengumpul di kampung. Biasanya transaksi ini berlangsung di pasar kampung atau pasar nagari pada hari pasar. Pedagang pengumpul kampung/nagari ini biasanya akan membawa gambirnya pulang untuk dijemur atau dikeringkan lebih lanjut.

Kemudian, pedagang pengumpul kampung menjual gambirnya ke padagang pengumpul kecamatan atau langsung ke pedagang pengumpul kabupaten. Selanjutnya, pedagang pengumpul tingkat kabupaten ini yang akan menjualnya ke eksportir. Kondisi tersebut menyebabkan nilai ekonomi gambir tidak dinikmati oleh petani gambir tetapi pedagang di berbagai level di mata rantai perdagangan gambir tersebut.

Bergantung Pasar Ekspor

Akar permasalahan utama gambir ini sebetulnya adalah sebagian besar gambir Sumbar diekspor, dan negara tujuan ekspor tersebut didominasi satu negara, yaitu India. Lebih dari 80% produk gambir Sumbar diekspor ke India. Kondisi tersebut tentu saja membuat pasar gambir Sumbar sangat tergantung kepada pasar India, sehingga Sumbar sebagai produsen gambir memiliki posisi tawar sangat lemah. Sehingga, harga jual gambir Sumbar ditentukan oleh para pedagang dari negara tujuan ekspor tersebut.

Baca Juga:  Pilgub dan Kolaborasi Pembangunan  

Pasar Gambir dalam Negeri tak Berkembang

Produk gambir masih sedikit sekali diserap pasar dalam negeri. Hal tersebut akibat sangat sedikitnya pengguna dalam negeri memanfaatkan gambir sebagai bahan baku produknya. Padahal, cukup banyak usaha dalam negeri yang dapat memanfaatkan gambir sebagai bahan baku, seperti perusahaan obat, kosmetika dan permen. Namun, hal tersebut belum terjadi sehingga pasar gambir dalam negeri tidak berkembang.

Penyamakan kulit dapat pula memanfaatkan tannin gambir dalam proses penyamakan. Bahkan, kualitasnya pun tidak kalah dengan bahan samak yang umum digunakan. Tannin gambir memiliki keunggulan komparatif karena bersifat natural. Namun, sejauh ini bidang usaha tersebut juga belum banyak yang menggunakan gambir sebagai bahan penyamaknya.

Pengembangan Teknologi Pengolahan

Belum ada perusahaan dalam negeri menguasai teknologi untuk dapat mengolah gambir menjadi bahan-bahan yang dapat langsung digunakan oleh berbagai pengguna akhir, seperti pabrik obat, kosmetika, permen, pabrik penyamakan kulit dan lainnya. Hal tersebut terjadi karena belum dikuasainya teknologi dan belum ada perusahaan yang turun untuk melakukan pengolahan gambir menjadi bahan untuk pengguna akhir tersebut. Sebagai contoh, katekin gambir tersebut mudah teroksidasi, atau dalam kondisi belum stabil tentu saja hal ini membutuhkan teknologi.

Kebijakan tak Konsisten dan Berpihak ke Petani

Tahun 2016 dan 2017 sudah dibangun gudang di Pangkalan Limapuluh Kota untuk penerapan sistem resi gudang gambir. Namun, sampai saat ini gudang tersebut belum pernah dimanfaatkan. Sistem resi gudang gambir bertujuan untuk menampung produk gambir apabila harganya anjlok di pasaran. Namun di samping itu, berdiri pula pabrik pengolahan gambir di Pangkalan dengan modal PMA dari India. Pabrik tersebut membeli daun gambir petani dengan harga murah, hanya Rp 1.200/kg. Sehingga, keberadaan pabrik tersebut semakin melemahkan posisi petani.

Solusi

Dengan berbagai permasalahan tersebut, solusi yang dapat dilakukan antara lain adalah: Pertama, membangun kelembagaan petani gambir. Keberadaan kelembagaan petani gambir dalam kondisi kuat, bisa meningkatkan mutu gambir dan memotong mata rantai pemasaran. Akhirnya, meningkatkan pendapatan petani. Kelembagaan petani gambir tersebut dapat berbentuk koperasi atau bentuk badan usaha lainnya yang akan meningkatkan posisi tawar petani.

Kedua, pengembangan pasar ekspor ke negara lain sehingga ekspor gambir tidak hanya bergantung ke pasar India. Jika ini dapat dilakukan, maka Sumbar akan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dalam perdagangan gambir dunia, serta tidak lagi didikte oleh buyer India seperti berlangsung selama ini. Ketiga, pengembangan teknologi pengolahan gambir khususnya di hulu, sehingga gambir dapat dimanfaatkan untuk berbagai industri. Keempat, pengembangan pasar dalam negeri sehingga pasar dalam negeri dapat menyerap produksi gambir. Kelima, kebijakan yang konsisten dan yang berpihak kepada kepentingan petani. Semoga komoditi gambir dapat mensejahterakan petani gambir Sumbar. (*)