Potensi Gempa dan Tsunami di Barat Mentawai

ilustrasi. (dok. jawapos.com)

Rusnardi Rahmat Putra
Peneliti Gempa Kyoto University/ Staf Pengajar Teknik Sipil UNP

Gempa adalah getaran yang dimunculkan oleh pergerakan plat yang terjadi di kedalaman tertentu secara tiba-tiba, biasa gempa terjadi kulit bumi yang disebut dengan crust sampai bagian luar mantel yang dalamnya kira-kira 0-1.000 km.

Gempa berdasarkan kedalaman bisa dibagi atas gempa dangkal dari 0-100 km, sedang 100-300 km dan gempa dalam >300 km. Gempa dangkal akan semakin kuat getaran kita rasakan begitu juga risiko yang dimunculkan akan lebih tinggi dibandingkan dengan gempa yang lebih dalam, jika energi gempanya sama.

Contoh gempa dangkal adalah gempa Kobe yang terjadi 17 Januari 1995 di kedalaman 17 km yang merusak infrastruktur di Kobe dan daerah sekitarnya. Sampai saat ini jumlah gempa yang terjadi di Indoensia >80.000 kejadian gempa dengan kekuatan lebih 4 skala Richter dari tahun 1779-2020 dan 109 kejadian tsunami dari tahun 1674 sampai 2018.

Tidak semua kejadian tsunami dipicu oleh gempa seperti kejadian tsunami di Selat Sunda di tahun 2018 meskipun kejadian tsunami biasanya dipicu oleh kejadian gempa seperti, kejadian tsunami di Kepulauan Mentawai 2010, tsunami di Fukushima Jepang 2011 dan terakhir tsunami di Palu (reruntuhan tebing pinggir laut).

Secara geografis Sumbar berada di antara sumber-sumber gempa yang aktif, persis di daratan Sumbar kita mengenal patahan semangka, wilayah yang dilewati seperti Siulak, Suliti, Sumani, Sianok dan Barumun, di bagian Barat adalah patahan antara Pulau Sumatera dengan Kepulauan Mentawai yang merupakan patahan yang dimunculkan akibat dorongan plat Indo-Australia, contoh kejadian gempanya adalah gempa Padang di tahun 2009. Sumber gempa yang terakhir adalah paling barat Pulau Sumatera yang dikenal dengan megathrust yang memiliki energi besar yang berpotensi terjadinya tsunami.

Masing-masing sumber gempa tersebut memiliki potensi yang sama dan bisa saja memiliki risiko yang sama karena masing-masing sumber gempa memiliki mekanisme kejadian sendiri-sendiri.

Timbul pertanyaan apakah kejadian gempa itu bisa diprediksi dengan tepat? Pertanyaan ini masih sulit dijawab oleh para ahli, meskipun perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju seperti saat ini dikarenakan masih banyak parameter-parameter lain yang belum diketahui. Penulis pernah melakukan penelitian sama yaitu memprediksi waktu kejadian gempa.

Tapi, sayangnya masih belum berhasil. Keterbatasan ilmu pengetahuan saat ini bukan berarti kita tidak bisa memprediksi gempa itu sendiri, para peneliti bisa menghitung atau memprediksi kekuatan gempa yang akan terjadi dengan menganalisis gempa-gempa sebelumnya, luasan pergerakan plat bumi dengan masa ulang gempa yang berbeda-beda.

Sekarang bagaimana potensi gempa yang bisa memunculkan tsunami di Barat Pulau Sumatera yang tepatnya yaitu, megathrust. Berbicara tentang megathrust (megathrust yang artinya energi besar) tentu sangat menarik, di mana segmen ini juga dikenal dengan seismic gap (segmen yang berada di antara segmen aktif lainnya.

Di mana, segmen lain ini pernah terjadi gempa besar yang memunculkan tsunami sebelumnya). Berdasarkan data gempa dari tahun 1779-2020 menginformasikan belum ada kejadian gempa besar yang memunculkan tsunami di segmen ini. Kita mengetahui kejadian gempa yang memunculkan tsunami terjadi di tahun 2010 yang lokasi gempanya adalah di Selatan Pulau Pagai. Tsunami ini menelan korban sebanyak 408 orang.

Baca Juga:  Gempa Dirasakan di Bukittinggi, BMKG: Aktivitas Sesar Sianok

Ada pertanyaan, apakah gempa ini bisa memunculkan atau memicu gempa baru di segmen megathrust? Berdasarkan lokasi, waktu dan energi gempanya dapat disimpulkan bahwa gempa ini adalah terpisah atau independen yang artinya tidak ada hubungan, atau tidak bisa memunculkan gempa di segmen megathrust. Segmen megathrust perlu dikhawatirkan karena panjang segmen yang panjang 400 km dengan lebar 200 km berbeda sedikit dengan segmen Iwate-Ibaraki (Panjang 500 km dan lembar 200 km) yang dikenal dengan gempa Tohoku yang terjadi di tahun 2011.

Kemarin tanggal 17 November 2020 terjadi gempa dengan kekuatan 6,0 skala Richter dengan pusat gempa 2,90 LS dan 99,07 BT di kedalaman 31 km, bagaimana juga dengan gempa ini? Sesuai dengan koordinat pusat gempa ini berada antara segmen Pagai dan segmen Siberut (megathrust), ada beberapa pendapat berbeda apakah mekanismenya adalah intraplate (di dalam plat) atau interplate (antara 2 plat yang berpotensi tsunami)?

Memang, susah membedakan dikarenakan sangat dekat sekali dengan subduction. Pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian gempa ini? Secara teori, gempa ini berpotensi memicu gempa dengan energi besar di daerah subduction (bergeraknya segmen Siberut karena terdorong oleh plate Indo Australia) yang dikenal dengan gempa berhubungan atau dependent dan ditambah lagi lokasi ini (atau lokasi yang berdekatan) pernah terjadi gempa dengan magnitude 7,8SR yaitu, gempa Mentawai 2010. Kejadian gempa yang baru saja terjadi harus membuat kita lebih waspada dengan mengikuti imbauan pemerintah. Tentu, setiap kejadian ditentukan oleh membuat kejadian itu sendiri yaitu Allah SWT.

Kekuatan gempa bisa dihitung, tapi waktu dengan masa ulang itu yang belum bisa dipastikan oleh para ahli saat ini. Penulis masih ingat sewaktu menempuh pendidikan S-3 di Jepang dulu persisnya di tahun 2014, banyak sekali para ahli di Jepang berpendapat bahwa akan terjadi gempa dan tsunami di megathrust dibandingkan dengan gempa di Fukushima, tapi kenyataan gempa Fukushima lebih dahulu terjadi di tahun 2016.

Beberapa kejadian gempa besar di Indonesia bisa diprediksi kekuatan dan risikonya oleh para ahli sebelumnya seperti, gempa di Palu dan gempa anak Krakatau di tahun 2018. Tetapi, bukan untuk waktu kejadian yang tepat. Meskipun ada keterbatasan manusia, tetapi kita harus meningkatkan kewaspaan karena sudah ada hasil penelitian yang menginformasikan potensi kejadian gempa dan tsunami yang akan terjadi. Semua ini mungkin hanya masalah waktunya saja.

Banyak pelajaran yang diambil dari kejadian gempa hingga keterbatasan ilmu manusia, meskipun ilmu yang ada sekarang ini sangat maju. Betul yang di sampaikan dalam ayat Al Quran surat Al Baqarah ayat 255 yang dikenal juga dengan ayat kursi: Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (*)