Berpuasa di Tengah Ancaman Covid

Aksi Komunitas Ramadhan Berbagi saat membagikan paket sembako kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. (IST)

Badrul Mustafa
Dosen Unand

Puasa Ramadhan kali ini terasa lain. Baru kali ini umat Islam yang sedang berpuasa mengalami hal seperti ini selama hidupnya. Di mana-mana, umat Islam melaksanakan ibadah puasa diliputi kecemasan merebaknya wabah virus korona (Covid-19) yang telah merenggut banyak nyawa. Baik yang berada di negara yang berpenduduk mayoritas muslim maupun di negara maju seperti di Eropa dan Amerika, praktis semua merasakan hal yang sama. Hampir semua negara menerapkan lockdown atau sejenisnya, sehingga orang tidak dibolehkan keluar rumah kecuali untuk urusan tertentu yang penting. Bekerja pun harus dari rumah untuk kebanyakan pegawai. Temanya puasa kita kali ini adalah puasa di tengah musibah virus korona.

Bagi seorang muslim, dalam hidup itu selalu ada dua sikap yang harus ditunjukkannya, yakni bersyukur dan bersabar. Bersyukur apabila diberi nikmat oleh Allah, dan bersabar bila mendapat musibah atau cobaan. Jadi, dalam hidup ini seorang muslim tidak boleh mengeluh, apalagi menggerutu, terlebih lagi marah atau protes dengan musibah yang ada. Mengeluh atau marah yang dimaksud di sini adalah sikap yang tanpa sadar tertuju kepada Allah. Tidak patut kita melakukan hal seperti itu.

Dengan bersabar dalam menghadapi musibah atau cobaan, kita bisa mengambil sebuah hikmah. Melalui hikmah tersebut kita menjalani puasa Ramadhan ini dengan penuh kesabaran. Melaksanakan ibadah puasa itu sendiri sudah merupakan ujian kesabaran. Jadi, di tengah kita berjuang melawan penularan wabah ini sejatinya kita diuji kesabaran ganda.

Banyak yang dapat kita lakukan di saat berlakunya PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ini. Tatkala kita lebih banyak diam di rumah, selain waktu kita lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga, hal yang jarang terjadi terutama bagi orangtua yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, kita punya kesempatan untuk lebih intens berinteraksi dengan Al Quran. Kita dapat mengkhatam baca Al Quran, menambah hafalannya, serya meresapi artinya. Tidak itu saja, buku-buku agama atau artikel-artikel agama yang bagus-bagus yang banyak tersedia lewat internet juga dapat mengisi waktu kita.

Anak-anak yang sudah lebih sebulan sekolah lewat online dari rumah dapat dilatih untuk berceramah tarawih di tengah keluarga, selang-seling dengan ayahnya serta anggota keluarga yang lain. Inilah kesempatan yang langka untuk membuat anak percaya diri tampil di depan publik di kemudian hari.

Pelajaran dari ibadah puasa lainnya adalah adanya rasa empati kepada orang yang kurang beruntung secara ekonomi. Rasa lapar yang dirasakan oleh orang yang berpuasa akan membuat dirinya punya rasa kasih sayang kepada kaum yang tidak berpunya, yang ekonominya lemah. Orang miskin tentu sangat sering merasa kelaparan. Di situlah timbul rasa empati tadi, yang oleh islam dimotivasi untuk diwujudkan dalam bentuk sedekah yang ganjaran pahalanya dilipatgandakan bila dilakukan pada bulan Ramadhan.

Sejak diberlakukannya PSBB, diam di rumah dan bekerja dari rumah (WFH), banyak orang terdampak secara ekonomi karena kehilangan pekerjaan. Terlebih-lebih lagi kaum dhuafa tadi. Banyak kegiatan ekonomi terhenti. PSBB yang sudah dimulai sebelum bulan Ramadhan tiba menimbulkan empati bagi masyarakat luas. Berbagai kelompok dan lembaga menggalang para donor untuk membantu orang-orang terdampak PSBB ini, terutama yang tidak memiliki tabungan. Bantuan yang diberikan berupa paket-paket sembako. Jadi, sejak sebelum bulan puasa tiba, sebelum bantuan resmi dari pemerintah datang, berbagai paket bantuan untuk kaum dhuafa sudah berjalan. Bulan puasa ini kesempatan pula kita mengajak anak-anak untuk berbagi kepada tetangga dan kaum dhuafa memberikan paket bantuan. Selain ini merupakan amalan yang diperintahkan oleh rasulullah untuk dilakukan di bulan Ramadhan, sekaligus kita memberikan latihan kepada anak-anak untuk berbagi, untuk menanamkan rasa empati di hati mereka.

Selanjutnya, puasa yang kita lakukan menurut pakar kesehatan, dr Arti Indira M Gizi SpGK, akan meningkatkan daya tahan tubuh. Menurutnya, dari banyak penelitian, setelah berpuasa selama 30 hari ternyata sistem imun kita malah lebih baik. Sementara salah satu kunci mencegah infeksi virus korona adalah memperkuat daya tahan tubuh atau imunitas kita. Mudah-mudahan puasa Ramadhan yang kita kerjakan, yang meningkatkan imunitas tubuh dapat menangkal virus korona (Covid-19) yang sangat berbahaya ini.

Allah menjanjikan berkah yang bertebaran di bulan Ramadhan. Berkah itu haruslah diupayakan semaksimal mungkin untuk diraih. Berkah merupakan lawan dari azab atau laknat seperti yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya dalam surah Al A’raf ayat 96. Insya Allah, melalui puasa Ramadhan ini umat Islam dapat dimasukkan ke dalam kategori orang yang bertakwa sehingga layak untuk mendapat berkah Allah dari langit dan bumi seperti firman Allah dalam ayat 96 di surah Al A’raf di atas.

Kalau dipikir-pikir Allah masih sayang kepada kita. Ujian yang diberikan-Nya berupa virus korona (Covid-19) ini insya Allah belum sampai membuat kehidupan kita berhenti. Barangkali ini cara Allah agar kita mendekat kepada-Nya. Kita harus bersyukur untuk itu. Tentu saja kita harus terus berusaha agar rantai penyebaran virus ini dapat diputus melalui kepatuhan kepada aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam PSBB ini. Kasih sayangnya Allah kepada kita terlihat dari tidak munculnya bencana alam geologis yang potensinya sangat besar di negara kita, terutama potensi gempa yang berasal dari megathrust Mentawai. Marilah kita lebih kuatkan doa kita agar potensi bencana alam geologis ini tidak muncul di saat kita sedang fokus berperang melawan virus korona (Covid-19) ini. Semoga dengan ibadah puasa Ramadhan yang kita kerjakan, bersama amalan-amalan lainnya dapat membawa kita ke tingkat ketakwaan yang diharapkan Allah, sehingga kita bisa terbebas dari wabah virus korona, beserta ancaman bencana alam geologis. Aamiin YRA. (*)