Menyuburkan Solidaritas 

Ilustrasi.

MHD. Natsir
Dosen Jurusan PLS FIP UNP/Kandidat Doktor Pendidikan Masyarakat UPI Bandung

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di beberapa daerah telah memberikan dampak kepada seluruh komponen masyarakat, terlebih lagi masyarakat Minangkabau yang dikenal sebagai pedagang. Karena pasar banyak yang ditutup, dan kalaupun dibuka sangat sepi pengunjung.

Kebiasaan berbelanja pakaian baru yang menjadi tradisi di setiap menjelang Lebaran sepertinya tidak akan terlihat. Masyarakat lebih mengkhawatirkan kebutuhan pokok mereka dibandingkan kebutuhan yang lainnya. Jangankan untuk berlebaran, bisa makan saja sudah cukup untuk saat ini.

Kondisi seperti ini dirasakan oleh seluruh masyarakat, baik di rantau maupun yang menetap di kampung. Mereka yang di rantau mungkin saja merasakan kesulitan yang lebih, dibandingkan saudara kita yang ada di kampung. Ditutupnya pasar sebagai tempat usaha mereka, tidak saja menutup sumber dana untuk biayai hidup di rantau, tetapi juga menghentikan keinginan untuk berbagi dengan orangtua di kampung.

Hal ini tentu saja terasa berat bagi perantau, bertahan di rantau dengan kondisi berdiam di rumah adalah pilihan yang sangat sulit. Seperti yang terungkap dari video seorang ibu pedagang kaki lima yang sempat viral karena memilih untuk tetap berjualan setelah libur beberapa hari. Berjualan bukan karena tidak patuh kepada himbauan pemerintah. Tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, sehingga mengalahkan ketakutan pada ancaman virus korona.

Harus dipahami memang, bahwa mereka yang merantau tidak semuanya berhasil dan hidup dengan kecukupan. Banyak di antara perantau yang masih berjuang dengan menjadi pedagang kaki lima. Mereka berpindah dari satu pasar ke pasar yang lainnya (manggaleh babelok). Mereka inilah yang paling merasakan dampak dari ditutupnya pasar sebagai tempat berjualan.

Untuk segera berpindah ke usaha yang lain, tentu tidak semua mereka yang siap. Karena jangankan pedagang kecil seperti mereka, pemerintah juga kaget dengan besarnya dampak Covid-19 ini. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya pulang kembali ke kampung. Namun berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah memaksa mereka untuk tetap di rantau. Tidak ada pilihan bisa pulang kampung karena kampung yang dirindukan saat inipun melarang pulang.

Dalam kondisi seperti ini saatnya bagi kita untuk menyuburkan solidaritas dengan sesama. Saling membantu untuk meringankan beratnya beban yang dirasakan oleh saudara-saudara yang lain. Baik mereka yang tinggal di kampung maupun yang di rantau. Perlu diwujudkan berbagai tindakan sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, seperti menjaga komunikasi yang baik antara anggota keluarga yang di rantau dan di kampung.

Memastikan seluruh anggota keluarga dalam kondisi baik-baik saja. Orang yang ada di kampung perlu mencari tahu dan memahami kondisi keluarga yang ada di rantau. Karena para perantau Minang berpantang berbagi kesedihan dengan keluarga, biasanya mereka pandai baminyak aia. Menutup kekurangan sehingga kabar yang sampai ke kampung selalu kabar baik. Sehingga mencari tahu kondisi mereka yang sebenarnya penting untuk dilakukan.

Jangan sampai ada saudara kita di rantau yang terlantar sementara kita tidak tahu. Meskipun kita tidak akan berkirim bantuan dalam bentuk finansial, paling tidak bertanya kabar saja sudah cukup mengobati kerinduan mereka pada kampung halaman dan menambah semangat mereka di rantau.

Selanjutnya bagi saudara kita yang masih bertahan di perantauan, penting untuk memastikan saudara-saudaranya yang lain tetap sehat dan tidak kekurangan, khususnya dalam kebutuhan pokok. Meskipun pemerintah sudah memberikan bantuan, tetapi bantuan sesama perantau tetap diharapkan sebagai bentuk solidaritas sesama orang Minang. Hal ini bukan berarti tidak peduli dengan suku-suku yang lain, tetapi menjaga keluarga terdekat tentu sangat diutamakan.

Memastikan kondisi saudara sekampung di rantau saat Covid-19 ini sangatlah penting, Karena berita baik dihimbaukan berita buruk dihambaukan. Artinya di saat sulit seperti sekarang kita harus bergerak aktif mencari tahu keadaan saudara-saudara di rantau. Kalau memang saudara kita sedang kesulitan, maka tanpa dimintapun harus segera dibantu. Tentunya sikap itu lebih mulia di sisi Allah SWT, apalagi ini di bulan ramadhan yang dilipat gandakan pahala seluruh amalan kebaikan.

Kemudian ditutupnya pasar berimbas kepada ekonomi kebanyakan perantau Minang. Kondisi ini menuntut kreativitas para pedagang Minang dan saling bantu membuat terobosan agar tetap eksis di saat pandemi. Menunggu santai di rumah sampai pandemi ini berakhir, dengan membiarkan dagangan tanpa pembeli bukanlah pilihan yang baik. Saatnya bangkit untuk berubah dari penjualan tradisional menjadi virtual.

Ini sudah dilakukan oleh beberapa pedagang, tetapi belum massif. Kita berharap ada pelatihan bagi para pedagang. Baik di rantau maupun di kampung untuk bisa memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media untuk berjualan. Sehingga pedagang tidak hanya terfokus kepada pasar sebagai tempat transaksi jual beli. Hal ini sangat penting dilakukan, karena melihat kecenderungan perkembangan pasar saat ini akan sangat sulit bersaing berjualan kalau masih mengandalkan pasar semata.

Seharusnya para pedagang mampu memaksimalkan teknologi untuk menambah keuntungan dan pengembangan usahanya. Lebaran tahun ini sepertinya kita tidak akan melihat rombongan saudara-saudara kita dari rantau yang pulang dengan bus dan mobil bertuliskan pulang basamo. Orang Minang tidak mengenal istilah mudik, mereka lebih mengenal istilah pulang basamo karena pulang basamo biasanya mereka memiliki program yang akan dilaksanakan di kampung.

Sehingga pulang kampungnya perantau Minang tidak hanya untuk keluarganya tetapi juga orang sekampung. Semoga kita semua bisa menyuburkan solidaritas dan saling menguatkan untuk berbuat lebih baik lagi dengan sesama di tengah pandemi Covid-19 ini. Kita berdoa semoga pandemi ini segera berakhir, sehingga kita bisa beraktivitas normal dan bersilaturahim dengan semua orang-orang tercinta. Wallahu A’lam Bishawab. (*)