Haji Yang ”Gagal”

66
Ahmad Zainul Hamdi Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Ampel.

DIA seorang guru biologi di sebuah SMA, di salah satu kota di Jawa Tengah. Dia berangkat haji bersama istrinya. Ini adalah perjalanan ke Mekkah yang diidam-idamkan banyak orang.

Dalam situasi yang masih diliputi pandemi Covid-19, di mana kuota haji setiap negara dan maksimal usia calon jamaah dibatasi, tidak semua pasangan suami istri bisa berangkat bersama. Jadi, semestinya ini menjadi ibadah haji yang menyenangkan baginya.

Teman saya menjumpai dia saat termenung seorang diri di teras hotel. Pemandangan itu terasa janggal di tengah ramainya jamaah haji yang biasa duduk-duduk di dalam maupun di luar hotel bercengkerama dengan sesama jamaah. Dia termenung sendirian sambil menikmati rokoknya batang demi batang.

Setelah didekati dan dibuka dengan beberapa obrolan hangat, tak butuh waktu lama untuk mengetahui apa yang membuatnya gundah. Tampak bahwa dia butuh teman untuk menjadi curahan apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya. Dengan lirih dia menyatakan, “Hingga detik ini saya belum menemukan hakikat haji.”

Tentu saja, tidak semua orang sanggup mendengarkan kalimat tersebut. Jika itu diucapkan kepada jamaah lain, tidak hanya akan mendapatkan tanggapan negatif, dia juga bisa dihakimi sebagai orang yang dangkal imannya. Bahkan, istrinya tak sanggup menerima kejujurannya sehingga terjadi perdebatan yang tidak mengenakkan.

Menyendiri dengan batang-batang rokoknya adalah pelarian yang menyakitkan, tapi itu adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan. Apakah si guru ini satu-satunya orang yang merasakan hal itu? Mungkin banyak orang yang merasakan hal yang kurang lebih sama.

Yang membedakan adalah dia mengutarakannya dengan jujur, sedangkan yang lain menyimpannya sendiri dalam hati. Di momen berbeda, ada seseorang yang merasa “bersalah” karena tidak bisa menangis pada saat kali pertama melihat Kakbah.

Perasaan “bersalah” itu membuatnya “malu-malu” untuk mengatakan kepada orang lain karena banyak orang yang menemukan momen “spiritual aha” saat melihat Kakbah kali pertama.

Momen keharuan dan tangisan saat melihat Kakbah dianggap sebagai standar baku yang semestinya dirasakan siapa saja saat melihat Kakbah. Ketika ada orang yang tidak merasakan perasaan itu dan air matanya tidak meleleh, dia akan didera perasaan bersalah.

Pilgrimage studies (studi ritual ziarah ke tempat-tempat suci) telah lama menjadi kajian menarik bagi para ilmuwan, terutama para antropolog. Para ilmuwan itu mencatat berbagai hasil positif dari ibadah ziarah spiritual (pilgrimage).

Pilgrimage, termasuk haji dan umrah dalam konteks Islam, bisa membuat orang menjadi pribadi yang lebih baik, meneguhkan konsep penyelamatan Tuhan, meneguhkan kembali identitas keagamaan, menyediakan momen break dari rutinitas kehidupan sehari-hari, hingga healing dan pembaruan diri.

Akan tetapi, Hillary Kaell (2016) dalam tulisannya Can Pilgrimage Fail? menyatakan bahwa konklusi yang terlalu optimistis itu bisa jadi karena terlalu terpaku pada konsep-konsep ideal teologis yang bersifat umum.

Baca Juga:  Tali Pembohong Itu Pendek

Dalam studi antropologisnya terhadap hasil yang dirasakan dua peziarah ke Tanah Suci, Kaell mencatat tujuan seseorang sebelum berangkat menjadi faktor penting dalam menentukan hasil pascaziarah.

Itu berarti konteks kehidupan seseorang –termasuk di dalamnya adalah profesi, pola pikir, kelas sosial, masalah yang sedang dihadapi– memengaruhi hasil yang mengiringi proses sebuah ziarah spiritual.

Ajaran-ajaran ideal teologis bisa saja diyakini semua orang, tapi pada akhirnya makna ajaran-ajaran tersebut dikonstruksi secara kontekstual dan personal.

Suatu ajaran agama yang ideal tidak selalu memiliki relevansi yang sama bagi setiap orang. Sekalipun ibadah peziarahan selalu berjamaah, pada akhirnya setiap orang memiliki tujuan masing-masing yang bersifat sangat personal.

Mengapa seseorang merasa dirinya gagal? Menurut Kaell (2016), ketika merasa hasil ziarahnya tidak sesuai dengan tujuan yang dicanangkan sebelum berangkat, seseorang akan merasa bahwa perjalanan tersebut hanya menghasilkan kegagalan.

Orang-orang yang merasakan itu tidak mudah menyatakan kepada orang lain secara terbuka sekalipun dia didera beban batin yang luar biasa. Ketika dia memutuskan untuk melakukan ziarah, itu adalah sebuah keputusan iman.

Tapi, ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang diekspektasikan, dia akan menyimpan perasaan “gagal” seorang diri karena menyatakannya kepada orang lain itu seperti menghantam dirinya sendiri. Tidak banyak studi peziarahan (pilgrimage) yang mengangkat risiko kemungkinan kegagalan itu.

Meski demikian, berbagai hasil dari studi peziarahan pada akhirnya mengharuskan para ilmuwan sosial-humaniora berani mengakui bahwa peziarahan adalah sebuah proses yang sepenuhnya terjadi di dalam konteks ruang dan waktu, di mana hakikat dan maknanya bersifat personal, daripada mengafirmasi sebuah paradigma teologis yang sepenuhnya koheren dan pasti.

Dalam konteks peristiwa dua orang di awal tulisan ini, apa yang mereka rasa sebagai kegagalan sebetulnya adalah “keperbedaan” cara memaknai haji. Seseorang memiliki makna (atau sedang dalam proses mengonstruksi makna) yang berbeda dengan pandangan umum yang dibakukan.

Perasaan “kegagalan” itu sangat bergantung pada tujuan dan sudut pandang personal atas haji. Bagi orang yang menemukan hasil haji sesuai dengan tujuan awalnya dan koheren dengan pandangan hidupnya, dia akan merasa telah menemukan hakikat haji.

Bagi orang yang memiliki tujuan dan cara pandang lain, sementara norma-norma keagamaan mainstream yang ada di sekitarnya berbeda, dia mungkin menemukan dirinya telah gagal.

Istilah “gagal” dalam tulisan ini sesungguhnya lebih bermakna konotatif. Dua kasus yang diangkat di awal tulisan ini sama sekali tidak sedang menggambarkan orang-orang yang berada dalam krisis iman.

Yang terjadi adalah mereka mencoba untuk menemukan atau menyinkronkan ideal-ideal teologis dengan pencarian spiritualnya yang lebih bersifat personal. Ketika menemukan dirinya berbeda dengan pandangan mainstream, mereka didera perasaan “bersalah” karena merasa gagal. (*)