Rajin Silaturahim Rezeki Tetap Seret

145

Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

Beberapa teman dengan nada kecewa dan agak protes menyampaikan curahan hati (curhat)-nya senada ke saya. Mereka rajin silaturahim, namun rezekinya seret. Itu terutama makin dirasakan selama pandemi Covid-19 ini.

Mereka membandingkan dengan rezeki yang saya dapatkan. Hampir setiap hari ada kegiatan, terutama Sharing Komunikasi dan Motivasi. Nyaris tidak pernah berhenti.

Bahkan rasanya waktu 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu kurang. Begitu banyaknya amanah yang diperoleh dari berbagai pihak yang memberikan kepercayaan.

Saya mensyukuri semua itu. Meyakini bahwa seluruh rezeki tersebut datangnya bukan tiba-tiba. Merupakan “buah” dari rajin silaturahim tanpa pamrih selama puluhan tahun.

Juga rajin merawatnya. Ibarat tanaman, dipupuk dan disiram secara rutin. Dilakukan dengan sentuhan hati dan hati-hati.

Tidak hanya saya yang merasakan rezeki tersebut, tapi berimbas ke banyak teman. Mereka turut menikmatinya. Tentu mereka sangat mensyukurinya.

Wujudnya beragam. Ada yang dalam bentuk materi. Ada juga beragam fasilitas yang mereka nikmati. Jika semua itu diwujudkan dalam bentuk materi jumlahnya lumayan besar.

Totalitas Introspeksi Diri
Kembali ke teman-teman yang curhat itu, saya sarankan untuk totalitas melakukan introspeksi diri. Berani “menelanjangi” dirinya dan berkata jujur di hadapan Tuhan.

Semuanya berproses. Tidak tiba-tiba. Juga sebab akibat. Apa yang ditanam itulah yang dituai.

Begitu juga dengan rezeki. Meski mereka merasa selama ini sudah rajin silaturahim, tapi penghasilannya dalam bentuk materi tetap seret. Bisa saja itu terjadi karena mereka melakukannya ada pamrih.

Makanya perlu totalitas melakukan introspeksi diri. Jujur pada diri sendiri. Begitu menemukan kekeliruan segera memperbaikinya.

Untuk melaksanakan silaturahim tanpa pamrih tidak ada kata terlambat. Mengawali melakukannya dengan hati yang bersih dan niat baik.

Setiap komunikasi dan ketemu siapapun, jangan pernah sedikitpun terlintas mendapatkan sesuatu dari mereka. Sekecil apapun itu.

Sebaliknya yang selalu diniatkan dan dioptimalkan adalah komunikasi dan ketemu siapapun adalah membantu mereka tanpa pamrih. Melakukannya sesuai dengan kemampuan.

Jangan pernah sedikitpun ragu melakukannya, apalagi sampai menyesalinya. Semua perbuatan tanpa pamrih itu adalah investasi, baik di dunia maupun di akhirat.

Kepada teman-teman yang curhat itu saya memberikan pesan yang sama. Secara optimal melaksanakan semua saran saya. Lakukan secara konsisten. Kemudian baru merasakan hasilnya.

Petik Hasilnya
Semua yang saya sampaikan ke mereka, sudah saya lakukan selama puluhan tahun. Kini setiap hari saya tinggal memetik hasilnya berupa “buah” yang rasanya manis sekali dan aromanya sangat harum.

Baca Juga:  Pilgub dan Kolaborasi Pembangunan¬†¬†

Saya telah membuktikan janji Tuhan. Rajin silaturahim tanpa pamrih memperbanyak rezeki. Jumlahnya tak ternilai, mengalahkan materi sebanyak apapun.

Saya memaknai rezeki tidak semata-mata materi atau uang. Itu adalah bagian kecil dari rejezki.

Paling utama adalah rezeki memiliki kesehatan yang prima. Selama pandemi Covid-19 bisa tetap sehat dan segar merupakan hal yang luar biasa. Apalagi ancamannya nyata selama 24 jam dan virusnya tidak dapat dilihat. Itu musuh utama seluruh umat manusia di muka bumi saat ini.

Rezeki kedua memiliki banyak teman di berbagai kota di dunia. Jalan ke mana saja nyaman sekali dan lancar. Nyaris tidak ada kesulitan.

Salah satu contohnya saat Sharing Komunikasi dan Motivasi dengan jajaran Polri dan TNI di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama 6 hari sebanyak 12 sesi dua minggu terakhir. Dilaksanakan di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Sambil guyon saya mengatakan selama di NTB lancar sekali dan sangat nyaman karena “dikawal” tiga bintang, yakni Kapolda Irjen Pol Mohammad Iqbal yg bintang dua dan Danrem 162/Wira Bhakti NTB Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani yang bintang satu. Jika digabung semuanya jadi tiga bintang.

Iqbal dan Rizal sangat mendukung semua kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasi. Dua jenderal yang sangat kompak itu sama-sama memberikan penghargaan ke saya sebagai apresiasi mereka atas sharing yang saya lakukan dengan jajarannya.

Rezeki ketiga dalam bentuk amanah. Sebelum dan saat pandemi Covid-19 ini banyak sekali amanah yang saya peroleh. Nilainya melebihi uang berapapun juga.

Saya sangat serius menyikapi amanah tersebut. Targetnya harus optimal dan sukses agar yang memberi kepercayaan puas.

Setelah itu saya yakin akan mendapatkan amanah-amanah yang lainnya. Nilainya tentu lebih besar dan pemberi kepercayaan tambah banyak.

Semua itu bisa terjadi karena saya selalu menjaga kredibilitas dan berintegritas. Pemberi amanah tentunya menilai meski tidak berucap.

Rezeki yang keempat atau terakhir dalam bentuk materi yang jumlahnya sangat relatif.

Saya berdoa semoga dengan semua penjelasan yang saya sampaikan tersebut seluruh teman yang curhat jadi sadar dan segera melaksanakan saran-saran terutama melakukan introspeksi diri secara total. Aamiin ya robbal aalamiin.(*)