Relevansi dan Makna Hari Kartini Bagi Perempuan di Masa Pandemi

97
Hj. Nevi Zuairina

Anggota Komisi VI DPR RI FPKS Daerah Pemilihan Sumatera Barat II

PERAN penting perempuan bagi kita yang merayakan Hari Kartini di era pandemi Covid-19 ini di tengah keluarga dan masyarakat adalah, yang paling utama kita sebagai perempuan bersyukur kepada Allah SWT karena kemuliaan yang diberikan-Nya.

Hal ini terbukti dari Alquran yang menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat. Maknanya sama dengan ibu atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri.

Masyarakat yang baik lahir dari Ibu yang baik. “Ibu (an-Nisa’) adalah tiang negeri” (al Hadist). Jika kaum perempuan dalam suatu negeri berbudi pekerti baik (shalihah), niscaya akan sejahtera negeri itu.

Relevansinya dengan makna Hari Kartini di era pandemi ini, adalah bagaimana setiap insan perempuan Indonesia, harus dapat menyelami sejarah kehidupan Ibu Kartini yang bisa menjadi tauladan bagi kaum perempuan Indonesia.

Salah satu karakter Kartini adalah ketekunannya dalam melakukan perubahan. Para perempuan dengan konsep sisterhood, saling bekerja sama, juga dapat melakukan banyak hal yang positif untuk mengatasi pandemi ini.

Modalitas sisterhood, bekerja dengan hati serta profesional, sebagaimana dicontohkan komunitas atau organisasi perempuan yang ada di Nusantara ini akan membantu menghadang Covid-19 ini secara signifikan.

Hal ini sejalan dengan teori perbedaan yang menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu mempunyai keunikan sendiri-sendiri yang saling melengkapi.

Perempuan itu bekerja dengan hati, mempunyai jiwa keibuan yang selalu ingin melindungi anaknya, memberikan kehangatan pada anak-anaknya, dekat dengan alam, kelekatan dalam sisterhood, dan karakter positif lainnya yang berbeda dengan laki-laki.

Baca Juga:  Bersama Jurnalis Perempuan, Nevi Santuni Anak Panti Asuhan Aisyiah

Legislator asal Sumbar ini  melanjutkan dalam pandangan syarak (Syariat Agama Islam) disebutkan ad-dunya mata’un, wa khairu mata’iha al mar’ah as-shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (perempuan yang istiqamah pada peran dan konsekwen dengan citra-nya).

Risalah agama mengutamakan pendidikan akhlak. Sebuah bangsa akan tegak dengan kokoh karena etika moral dan akhlaknya. Etika dan moral itu dibentuk oleh budaya dan ajaran agama. Moral anak bangsa yang rusak, membuat bangsa terkoyak.

Rumah tangga sebagai extended family (inti keluarga besar) dalam budaya Minangkabau menjaga dan mencetak generasi bermoral, dengan filosofi yang jelas, Adat bersendi syarak –syarak bersendi Kitabullah.

Kaum perempuan (bundo kanduang, pemilik suku) berperan mendidik, menjaga nikmat Allah. Kaum lelaki (pemilik nasab), membentuk generasi berdisiplin. Kedua peran ini menjadi satu di dalam tatanan pergaulan masyarakat adat, dengan kekerabatan yang kuat.

Saya mendalami apa yang menjadi kelebihan sosok Kartini di zamannya di mana sosoknya telah menginspirasi perempuan Indonesia hingga sekarang ini diantaranya adalah cara pandangnya yang jauh ke depan.

Jika Kartini bisa menjangkau dunia, dalam belenggu tradisi Jawa yang ketat dan lingkungan sosial, melalui surat-surat yang dia tulis.

Kita sebagai perempuan di masa sekarang bisa memanfaatkan media sosial secara kreatif misalnya untuk menulis, membuat karya seni, hingga jelajah kuliner.

Kartini merupakan panutan setiap perempuan Indonesia dan menginspirasi  kita melalui pendekatan cinta kasih, compassion, terhadap kesetaraan dan  kemanusiaan.(*)

Previous articleSimak Pengalaman Masa Kecil Raisa Hadapi Tantangan di Bulan Ramadhan
Next articlePj Bupati Monitoring, Camat: Warga tak Patuhi Prokes, tak Kami Layani