Urban Farming untuk Kota Padang

Ilustrasi. (Foto: IST)

Munzir Busniah
Dekan Fakultas Pertanian Unand

Urban farming atau pertanian perkotaan berdasarkan defenisi FAO adalah sebuah usaha menghasilkan, memproses dan memasarkan produk, serta bahan tanaman, khususnya dalam menyediakan permintaan sehari-hari warga perkotaan. Urban farming menerapkan metode produksi secara intensif dengan memanfaatkan, serta mendaur ulang sumberdaya dan limbah di perkotaan untuk memproduksi berbagai macam tanaman, peternakan dan perikanan.

Tinjauan dari kajian sejarahnya, urban farming telah lama ada, bahkan sejak zaman Mesir kuno, yaitu dengan memanfaatkan limbah pertanian untuk input pertanian di daerah “perkotaan” di zaman tersebut. Contoh lain, Kebun Victoria yang dikembangkan di perkotaan semasa perang Dunia I dan II di Kanada, Amerika Serikat dan Inggris ditanami dengan tanaman buah, sayuran dan rempah untuk memenuhi kebutuhan perang pada masa itu.

Dalam perkembangannya urban farming mencakup berbagai aspek, antara lain aspek kesehatan lingkungan, remediasi, rekreasi, keindahan kota, serta kelayakan penggunaan tata ruang yang berkelanjutan.

Dibandingkan dengan pertanian di pedesaan, maka urban farming memiliki tantangan yang jauh berbeda dibandingkan dengan pertanian pedesaan, khususnya permasalahan berkaitan dengan keterbatasan ketersediaan lahan. Namun dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, urban farming dapat berlangsung dengan baik, dapat menjadi sebuah usaha tani yang sangat efisien dalam pemanfaatan sumber daya yang ada, serta menghasilkan nilai ekonomi tinggi.

Keunggulan dari Segi Kualitas Pangan
Dari segi kualitas pangan dan gizi bagi masyarakat perkotaan, urban farming memiliki berbagai keunggulan. Keunggulan urban farming dari segi kualitas pangan dan gizi antara lain adalah; 1) Pangan tersedia dalam keadaan lebih segar. Urban farming langsung berproses tidak jauh dari konsumen, sehingga lebih cepat sampai ke konsumen, serta dalam keadaan jauh lebih segar dibandingkan pangan yang diproduksi di daerah pedesaan yang jauh dari perkotaan, serta membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke konsumen di kota. 2) Pangan tersedia dalam keadaan lebih sehat.

Karena jarak produsen dan konsumen yang dekat, maka produk urban farming tidak membutuhkan perlakuan tertentu, seperti penggunaan bahan pengawet, serta bahan kontaminasi lainnya yang akan menurunkan kesehatan pangan. 3) Pangan tersedia dalam keadaan lebih bergizi. Dengan adanya produk urban farming, maka akan mendorong konsumsi pangan lebih bergizi, serta mengurangi produk olahan yang banyak mengandung kalori dan bernilai gizi rendah, sehingga selanjutnya akan mengurangi masalah kesehatan seperti obesitas dan diabetes.

Perspektif Usaha Tani dan Dampak Ekonomi
Penanganan urban farming secara intensif akan menghasilkan produk dengan kuantitas lebih banyak, serta kualitas lebih tinggi dibandingkan pertanian pedesaan. Dengan demikian dan ditambah dengan berbagai aspek gizi, maka usaha tani urban farming secara umum menghasilkan penghasilan lebih baik. Oleh karena ini, meskipun hanya diusahakan pada lahan sempit akan bisa mendapatkan income cukup baik. Berbagai dampak ekonomi lainnya bisa dihasilkan dari urban farming. Sebagai contoh, urban farming akan mendorong usaha perbenihan, sarana prasarana pembudidayaan, pascapanen dan pemasaran.

Hal ini tentu mendorong aktivitas kewirausahaan, memperluas lapangan kerja, serta mengurangi kemiskinan perkotaan. Rantai pasok pangan lebih pendek, serta mendorong harga produk pangan lebih terjangkau, serta mengurangi risiko kerawanan pangan perkotaan

Perspektif Sosbud dan Lingkungan
Lingkungan alami dan hijau urban farming menghasilkan suasana asri dan pemandangan enak untuk dinikmati. Kondisi tersebut berpengaruh secara sosial dan emosional terhadap orang-orang yang berinteraksi dengannya. Hal positif yang ditimbulkannya adalah meningkatkan aktivitas individu lewat kegiatan bertani, mengurangi tingkat stres, meningkatkan interaksi antarwarga, meningkatkan rasa syukur dan kebanggaan terhadap kondisi yang dimiliki.

Dengan banyaknya tanaman hijau, tentu saja meningkatkan kualitas lingkungan dengan menurunkan kadar CO2 dan menaikkan kadar O2, serta menurunkan suhu perkotaan. Urban farming dapat menjadi ikon sebuah kota atau kebanggaan sebuah lingkungan, sehingga kondisi tersebut dapat dijadikan sebagai destinasi wisata dengan berbagai layanan yang diberikannya, seperti memetik langsung dari kebun, menangkap langsung ikan dari kolamnya dan memasak langsung di tempat tersebut. Sensasi tersebut hal yang dapat laku dijual.

Bentuk Urban Farming
Salah satu yang mendorong berkembangnya urban farming adalah lahan terbatas. Pada kondisi demikian, maka perlu dikembangkan teknik tententu untuk melakukan aktivitas budidaya tanaman. Namun demikian, juga masih ada perkotaan yang masih memiliki lahan terbuka yang cukup luas sehingga masih dapat dilakukan budidaya tanaman di atas lahan tersebut. Secara umum ada tiga bentuk usaha urban farming, yaitu; 1) usaha hidroponik beserta berbagai variasinya, 2) usaha pertanian tradisional dengan berbasis media tanah, dan 3) mix farming, campuran berbagai bentuk usaha pertanian, perikanan dan peternakan.

Usaha hidroponik adalah usaha budidaya tanaman menggunakan media air sebagai tempat tumbuh tanaman tersebut. Hidroponik membutuhkan lebih sedikit air bidandingkan cara budidaya tanaman konvensional. Usaha hidroponik sangat cocok dikembangkan satu daerah perkotaan yang memiliki lahan terbatas. Instalasi hidroponik dapat dibuat dengan berbagai bentuk, seperti bentuk vertikal, sehingga sangat efisien terhadap kebutuhan ruangan.

Urban farming dengan budidaya tanaman di atas tanah secara konvensional dapat pula dilakukan di daerah perkotaan yang sedang berkembang yang masih memiliki lahan terbuka untuk ditanami. Budidaya seperti ini masih sangat banyak dilakukan, biasanya di daerah pinggiran kota atau di areal yang masih terbuka belum didirikan bangunan.
Urban farming dengan menggunakan mix farming dapat pula dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai usaha tani tanaman, perikanan dan peternakan pada lahan tertentu, baik berbentuk modern seperti akuaponik, ataupun tradisional di atas lahan.

Akuaponik sistem pertanian yang menggabungkan akuakultur dan hidroponik bersifat simbiosis. Pada bentuk akuakultur yang biasa, ekskresi hewan peliharaan terakumulasi di dalam air, serta terjadi peningkatan toksisitas air jika kotoran hewan tersebut tidak dibuang sedangkan dalam akuaponik ekskresi hewan diberikan ke tanaman dan kemudian air dikembalikan ke dalam sistem akuakultur.

Urban Farming di Kota Padang
Sebetulnya Kota Padang telah berpengalaman mengembangkan sebuah kawasan menjadi kawasan pertanian, yaitu kawasan Lubukminturun menjadi kawasan bunga-bungaan. Tentu sudah saatnya pula mengembangkan kawasan lain berupa kawasan urban farming.

Kota Padang dengan segala potensinya dapat dikembangkan menjadi kawasan urban farming. Berbagai hal yang dapat dijadikan faktor pendukung dikembangkannya urban farming antara lain; 1) Saat ini Padang masih banyak memenuhi kebutuhan pangannya dari luar kota sehingga perlu dikembangkan kota mandiri pangan; 2) Kota Padang daerah yang tinggi tingkat perkembangan penduduknya sehingga terjadi peningkatan permintaan akan bahan pangan. Sehingga, peningkatan penduduk tersebut perlu diimbangi dengan mengembangkan urban farming; 3) Kota Padang khususnya dan Sumbar secara umum daerah destinasi wisata dengan banyak sarana hotel. Sehingga, hotel tersebut membutuhkan sayuran segar yang perlu dipasok setiap waktu; dan 4) Kota Padang selaku kota wisata tentu perlu mengembangkan destinasi wisatanya dengan membangun sebuah kawasan urban farming yang akan dijadikan destinasi wisata.

Sesuai demografi Kota Padang, yaitu ada daerah perkotaan dengan penduduk padat, serta daerah pinggiran yang penduduknya masih cukup jarang, serta masih terdapat lahan-lahan kosong yang cukup luas untuk dapat ditanami. Makanya, Padang dapat mengembangkan ketiga bentuk usaha tani, yaitu hidroponik, pertanian tradisional dan mix farming. Hidroponik dapat dikembangkan di kawasanpadat penduduk seperti Padang Barat, Padang Utara, Padang Timur dan Padang Selatan. Sedangkan pertanian tradisional dan mix farming dapat dikembangkan di kawasan pinggiran Padang, seperti Kuranji, Kototangah, Pauh, Lubukkilangan dan Bungus Teluk Kabung.

Masing-masing daerah di seluruh Padang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan urban farming sesuai potensi wilayahnya. Namun yang perlu dilakukan adalah bagaimana pengembangan kawasan urban farming tersebut dilakukan dengan cara pendekatan agribisnis. Pendekatan agribisnis dalam pengembangan urban farming Padang suatu hal sangat penting. Hal tersebut sangat ditekankan oleh empat pakar agribisnis (Dr Novialdi, dosen Faperta Unand, Har Adi Basri PhD, dosen Universitas Mercu Buana Jakarta; Muhardaniel, peneliti senior BPTP Sukarami, dan Dr Armen Mara, Dosen Universitas Jambi) yang mengikuti Agriculture Forum bertema “Pertanian Perkotaan Kota Padang”.

Acara yang diadakan Fakultas Pertanian Unand, Ikatan Alumni Fakultas Pertanian Unand dan Dinas Pertanian Padang pada tanggal 12 Juni 2020 secara online melalui media Zoom. Karena lewat pendekatan agrbisnislah, maka urban farming dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dalam pendekatan agribisnis untuk pengembangan urban farming Padang, faktor kuncinya adalah di kawasan tersebut tumbuh atau cikal bakal usaha urban farming. Sebagai contoh, untuk pengembangan kawasan sayuran, maka di tempat tersebut ada petani atau kelompok tani sayuran yang eksis melakukan praktik budidaya sayuran dalam waktu cukup berkesinambungan. Dengan demikian, di tempat tersebut terbangun pemasarannya, sehingga untuk berikutnya yang diperlukan hanya untuk mengembangkan volume usaha.

Berdasarkan hal di atas, Padang bersama segala potensi dan pengalaman yang dimilikinya, sangat layak untuk mengembangkan urban farming. Urban farming tersebut bisa berbentuk pertanian hidroponik, pertanian tradisional dengan media tanah ataupun mix farming. Pendekatan agribisnis sangat diperlukan dalam pengembangan urban farming Padang. (*)