Land of Equator Sumatera

104

Oleh: Benny Utama – Bupati Pasaman

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahim ayat 7)

Sungguh Kabupaten Pasaman negeri yang sangat beruntung. Selain dikarunia kekayaan alam dan budaya, bumi Ranah Saiyo ini juga dikarunia banyak keistimewaan, yang tidak dimiliki daerah lain. Jadi sepatutnyalah kita di Pasaman bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan.

Dimana beruntungnya? Banyak sekali jika itu diurai. Sebagai bentuk rasa syukur, Saya akan coba sebut sebagian kecil saja. Di antaranya anugerah keunikan alamnya nan elok. Kedua, kekayaan sejarah dan ketiga kekayaan ragam budayanya.

Keunikan Alam

Pasaman sungguh sangat beruntung. Tak banyak daerah di muka bumi ini yang seberuntung Kabupaten Pasaman. Hanya sebagian kecil saja kawasan yang berada persis dilintasan garis tengah bumi, atau koordinat nol penjuru mata angin atau lebih popular disebut garis Khatulistiwa.

Kendati wilayah lain seperti Kabupaten tetangga juga dilalui garis khatulistiwa, namun posisi paling strategisnya justru berada pada Kecamatan Bonjol, tepatnya di kawasan objek wisata unggulan di Selatan Pasaman.

Ada banyak peristiwa langka di garis nol bumi ini. Peristiwa itu hanya bisa dinikmati dua kali dalam setahun. Yakni di bulan Maret dan September antara tanggal 21 dan 23. Bila kita berdiri tepat di garis koordinat nol tersebut pada pukul 12.00 WIB di tanggal itu, maka bayangan tubuh kita tidak akan tampak, atau tanpa batangan sedikitpun.

Keajaiban ini hanya bisa ditemukan di Kabupaten Pasaman untuk regional Sumatera dan Pontianak untuk Pulau Borneo.

Selain bayangan yang hilang, perbedaan suhu antara dua titik dari titik nol juga dapat dirasakan. Ini sekaligus kembali membuktikan bahwa garis equator memang sangat erat kaitannya dengan siklus musim di bumi.

Kaya Sejarah

Peto Syarif. Begitu gelar yang melekat pada ulama pejuang kelahiran Bonjol tahun 1772 silam ini. Beliau merupakan seorang ulama, pemimpin, dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam Perang Padri pada 1803–1838. Dia menjadi sosok yang alot ditaklukkan oleh Belanda saat itu.

Awalnya Tuanku Imam bersama beberapa ulama besar di Minangkabau berjuang mengangkat pedang menegakkan ajaran Islam. Langkah berani inilah yang melahirkan Sumpah Sakti Bukik Marapalam. “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-BK).

Tak saja menegakkan Syiar Islam, dalam perjalanan perang Paderi yang dikomandoi Tuanku Imam Bonjol justeru berlanjut menjadi perang melawan Kolonial Belanda selama kurun waktu 35 tahun.

Tinta emas berikutnya tertulis dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pasca diumumkannya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Syafrudin Prawira Negara di Koto Tinggi, Kabupaten Limapuluh Kota,
Bonjol ikut tercatat sebagai bagian penting jejak napaktilas jalur perjuangan masa itu.

Dari Bonjol ke Manggani tidaklah terpaut jarak yang sangat jauh (baca tulisan sebelumnya berjudul “Dari Bonjol ke Manggani”). Bonjol adalah pintu masuk bagi perjuangan untuk memperkuat akses menuju Provinsi Sumatera Utara.

Kaya Sumberdaya Alam

Kekayaan alam dan bencana terkadang terletak pada kondisi berdampingan. Jika awal tahun 2022 Pasaman dikejutkan dengan bencana gempa bumi, maka ketika itu muncul sejumlah fenomenal alam di Bonjol.

Bonjol adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam. Bahan mineral kekayaan alam banyak terpendam diperut buminya. Gugusan bukit barisan yang menjadi lumbung emas Kolonial Belanda di Manggani, telah menjadi sumber penghidupan pula bagi masyarakat Bonjol sejak lama.

Selain emas, spot Geothermal juga banyak dimiliki. Ini muncul menjadi fenomena langka ketika “gempa kembar” mengguncang Malampah Kabupaten Pasaman dan Talamau Kabupaten Pasaman Barat. Sebagian spot di Bonjol “meletup” dan menyemburkan air panas.

Fenomena alam ini cukup menjadi bukti bahwa Bonjol memang memiliki Spot Geothermal yang menjanjikan untuk energy terbarukan dimasa mendatang.

Land of Equator

Land of Equator. Begitulah nama yang kami berikan sebagai bentuk syukur atas karunia Ilahi terhadap Kabupaten Pasaman. Sebetulnya masih banyak keberuntungan Kabupaten Pasaman yang lainnya. Semuanya ini kami bungkus dengan program Pasaman Land of The Equator, yang bakal dipatenkan sebagai Icon pariwisatanya Pasaman.

Baca Juga:  Kokain Obat Bius Yang Adiktif dan Alami

Jangan pernah menyamakan Kabupaten Pasaman dimasa lalu dengan Kabupaten Pasaman sekarang. Pasaman hari ini sudah jauh berubah. Selain membangun fisik, Pasaman juga terus melakukan pembenahan dalam kehidupan sosial di masyarakatnya.

Kita menyadari Pasaman minin dari usaha-usaha swasta besar dan sektor industri. Dan untuk mengembangkan usaha di sektor perkebunan serta pertambangan, sepertinya juga mustahil, lantaran 72 persen dari 3.948 Km² luas Pasaman, adalah kawasan hutan lindung dan cagar alam.

Karenanya, sektor usaha pariwisata dengan konsep pelestarian alam dan penyelamatan lingkungan, menjadi pilihan paling masuk akal dan sangat mungkin digarap di daerah berpenduduk 301.000 jiwa ini (Sensus penduduk 2020).

Melalui deklarasi Pasaman Land of The Equator pekan ini di Bonjol, akan menjadi ‘Pondasi Dasar’ untuk dimulainya langkah besar membangun Pasaman menuju daerah Tujuan Wisata (destinasi) baru di kawasan Sumatera Barat.

Melalui Land of Equator kita mencoba mengenalkan Kabupaten Pasaman dalam ‘frame’ kaca mata budaya dan keunikan alam.

Meski berstatus daerah “Rantau” Minangkabau, Kabupaten Pasaman jelas bagian yang tak akan terpisahkan dari sejarah panjang Ranah Minangkabau itu sendiri. Adat dan budayanya sangatlah kental, bahasa dan dialetikanya identik Minangkabau.

Disini pulalah kita kembali mesti bersyukur. Sebagai daerah paling utara di Ranah Minang, Kabupaten Pasaman pun telah menjadi daerah yang bisa melahirkan akulturasi budaya secara total dan terbilang unik.

Pembauran dan bercampurnya antar dua etnis yang berbeda, tidaklah berujung konflik atau penajaman perbedaan. Malah sebaliknya, pertemuan enis besar Minang dan Mandailing dalam kehidupan sehari hari di daerah pembatasan, justru menumpulkan perbedaan itu, dan berhasil mem-framing menyatunya dua perbedaan imendasar itu

Tak percaya? Datanglah ke Pasaman. Ada akulturasi budaya yang tak akan pernah kita jumpai dinegeri lain. Ada penarikan garis keturunan ‘ala’ patriakat tapi bersumber dari garis keturunan (marga) ibu, secara matrilinial.

Bukankah marga (suku) di masyarakat Mandailing diambil dari marga Sang Ayah? Namun itu justru terakulturasi sempurna di Kecamatan Dua Koto, baik di Nagari Simpang Tonang maupun Cubadak.

Walau tetap mengenakan gelar Marga sebagaimana lazimnya dunsanak kita Mandailing, namun garis keturunannya berasal dari Marga Ibu.

Tak sampai disitu, ada lagi akulturasi budaya kesenian Ronggeng yang dikemas dalam bahasa Minang dan atraksi seni budaya lainnya yang telah terakulturasi di beberapa wilayah di Kabupaten Pasaman.

Sebetulnya masih banyak keunikan yang dapat ditemui dan berjalan secara alamiah diakar rumput. Dua etnis yang berbeda ini sangat paham dan pandai mencari jalan tengah. Dua etnis ini sama-sama bersepakat mengedepankan kebersamaan dan menutup rapat perbedaan. Itu pulalah dasarnya para pendahulu menyebut nama Pasaman berasal dari kata ‘Pasamoan atau secara politis kami pernah melabel kalimat “Pasaman untuk Semua”.

Dari sederet keunikan alam dan budaya, Pasaman juga masih menyimpan sebuah sejarah peradaban yang cukup besar, yang berada di Tanjung Medan, Jorong Petok, Kecamatan Panti.

Candi Tanjung Medan atau Candi Puti Sangkar Bulan, diperkirakan berasal dari abad ke 12-13 Masehi, dan berdasarkan bentuk bunga teratai dan isi prasasti emas tersebut disimpulkan bahwa kompleks merupakan percandian agama Buddha Mahayana.

Dan melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa Land of Equator Pasaman adalah langkah awal. Masih banyak informasi dan keunikan lainnya dalam “Kotak Pandora” besar, yang ingin kami perkenalkan dari Kabupaten Pasaman.

Diakui, memang belum banyak fasilitas pendukung dunia kepariwisataan di Pasaman, namun sementara kondisi itu berkembang dan maju, banyak keelokan alam, potensi sungai dan lembah yang bisa kami tawarkan di Pasaman.

Welcome to Pasaman dan kita akan bisa menikmatinya. (***)