PSBB dan Penutupan Pasar Raya

“We know how to bring the economy back to life, What we do not know is how to bring people back to life”

(“Kami tahu bagaimana menghidupkan kembali perekonomian, yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang meninggal”).

Itu kutipan pidato bijak Presiden Ghana Nana Akufo ketika mengumumkan akan me-lock down negaranya untuk menbatasi penyebaran wabah Virus korona.

Pidato yang sangat bijak dan penuh makna ini relevan sekali dengan apa yang dialami oleh Sumatera Barat, khususnya Kota Padang saat ini melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Walau terkesan dan berisiko tertekannya pereknomian di Sumatera Barat dan di Kota Padang, namun PSBB jauh lebih penting. Itulah jalan satu- satunya yang bisa dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus yang terkenal agresif dan sadis ini. Apalagi sampai saat ini tak ada obat medis yang betul-betul teruji bisa menyembuhkan virus korona tersebut. Info medis hanya satu yang bisa memulihkan diri apabila kita terpapar virus korona yakni imunitas tubuh.

Hancurkah ekonomi Sumbar dan Kota Padang dengan PSBB dan penutupan sementara pasar raya? Penulis pastikan tidak. PSBB bukanlah berarti kiamat. Tapi justru sebaliknya PSBB itu memberikan harapan baru untuk kita semua agar terlindung dari wabah korona. PSBB juga menunjukkan kepada kita semua bahwa pemerintah betul betul hadir untuk melindungi segenap jiwa dan raga masyarakatnya. Inilah langkah nyata yang kita harapkan. Kenapa ini tidak dilakukan sebelum wabah itu menghasilkan korban seperti bilangan berpangkat.

Penulis melihat ada beberapa manfaat yang dapat diraih dengan PSBB dan penutupan pasar raya ini. Setidaknya, PSBB akan memperlambat penyebaran wabah virus korona. Selain itu, PSBB menunjukkan kepada kita semua bahwa pemerintah tidak tinggal diam ketika warganya resah. PSBB menunjukkan kepada kita semua bahwa beban dan tanggungjawab menjamin keselamatan jiwa dan raga warganya diambil alih oleh pemerintah.

Tak ada yang perlu dicemaskan apalagi ditakuti dengan PSBB itu sendiri. Sebab, PSBB bukanlah untuk selama lamanya. PSBB hanya dilakukan untuk satu siklus inklubasi yakni 14 hari dan bila dipandang perlu maka dapat diperpanjang kembali. Artinya, PSBB bukanlah penutupan aktivitas untuk selama lamanya. Itu hanya langkah sementara.

Sebagai warga negara yang baik kita diajarkan oleh agama untuk mematuhi apa yang sudah ditetapkan Ulil Umri. Kita patuhi, kita laksanakan. Namun pemerintah juga musti melaksanakan kewajiban lainnya. Terutama untuk pekerja harian dan warga miskin, bantulah kebutuhan hidup mereka. Khususnya Pemko Padang serahkanlah paket bantuan itu. Jangan data ke mendata juga lagi. Kalaupun ada bantuan nanti yang tak tepat sasaran biarkan sajalah, khan mereka itu juga warga kita.

Selain itu kita sebagai warga Kota Padang, saat nya pula untuk menanyai diri. Patutkah kita menerima bantuan? Adakah orang lain yang lebih membutuhkan? Intinya bukalah hati dan tanya lah nurani ketika negeri ini sedang dilanda musibah.

Sementara itu untuk Pasar Raya yang ditutup hampir seminggu ke depan karena sudah ada 17 warganya yang terpapar korona juga bukanlah sesuatu yang mencemaskan. Memang akan ada aktivitas perdagangan terhenti. Masyarakat akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Pedagang akan kehilangan pendapatan. Apalagi waktu hampir satu minggu bukanlah waktu yang pendek. Rentang waktu itu cukup bisa membuat konsumen berpaling muka dan ini butuh waktu lama untuk mendatangkannya kembali ke Pasar Raya. Namun, bila dibandingkan dengan risiko nyawa semua ancaman itu, tidak lah berarti apa apa. Kinilah saatnya kita mengedepankan pikiran yang rasional. Mari kita tutup untuk sementara Pasar Raya dan pemerintah Kota Padang segeralah mensterilkan jantung ekonomi Kota Padang itu.

Orang bijak berkata setiap tantangan selalu membawa kesempatan. Begitu juga dengan penutupan Pasar Raya. Walau Pasar Raya ditutup untuk rentang waktu relatif lama bukan bearti ekonomi Kota Padang ini akan terhenti. Justru penulis melihat sebaliknya. Penutupan Pasar Raya akan memberikan imbas positif bagi pasar pasar satelit yang ada di Kota Padang seperti Pasar Simpang Haru, Pasar Pagi Tarandam, Pasar Alai, Pasar Pagi Raden Saleh dan Pasar Siteba, Pasar Belakang Tangsi, Pasar Gaung dan beberapa pasar kaget lainnya.

Jangan terlalu mencemaskan kalau pasar ditutup maka kebutuhan masyarakat akan sembako akan terputus. Hari ini sudah ada pedagang garendong bak mini market berjalan ke kompleks perumahan. Konsumen cukup berdiri di depan rumah dan bisa memilih barang apa yang dinginkan. Selain barang dagangan bagus dan segar hargapun relatif lebih murah.

Selain itu, jujur kita akui pasca gempa besar 30 September 2009 yang lalu telah mengubah prinsip dan perilaku konsumen di Kota Padang. Jika dimasa lalu belum berbelanja namanya kalau belum ke Pasar Raya. Belum membaca buku kalau belum ke taman bacaan di Padang Theater. Belum berbelanja baju dan sepatu kalau belum ke Permindo. Intinya, belum lengkap dan sempurna rasanya kalau tidak ke Pasar Raya.

Kini kondisi sudah berbeda. Jika dulu konsumen yang mendatangi Pasar Raya guna berbelanja ke pedagang maka kini kondisi sudah berbalik arah. Pedagang yang mendatangi konsusmennya. Kasat mata kita melihat beberapa ruas jalan utama di Kota Padang sudah mulai beralih fungsi. Di sepanjang ruas jalan kita melihat deretan toko menjual beragam jenis barang. Mulai dari pakaian yang di pajang dalam etalase di dalam toko hingga pakaian yang digantungkan ke gantungan kain di pinggir jalan. Begitu juga dengan sepatu. Mulai dari sepatu branded yang terbungkus rapi dalam rak etalase hingga ke sepatu murah meriah yang ditumpuk di atas meja pedagang kaki lima. Intinya pasca gempa telah terjadi migrasi bisnis dari pasar raya ke wilayah kawasan padat penduduk.

Kini tiba masanya kita mengambil iktiar dan meresapi petuah lama. Suruik salangkah untuk maju saribu langkah, ado nan mandapek dan pasti ado pula nan kahilangan kesempatan. Mengalah bukan berarti kalah dan berkorbanlah bukan berarti menderita. Marilah kita dengan stay at home agar diri dan lingkungan kita terjaga. Berkorban dan mengalahlah sebentar pedagang Pasar Raya. Mungkin kali ini rezeki nya akan beralih ke pedagang di pasar satelit. Yakinlah nanti akan datang rezeki yang baru lagi. Itulah hukum alam dan kita tak perlu saling menyalahkan. Kita jalani saja dan semoga pandemi ini cepat berlalu dan kita bisa beraktivitas seperti semula. (*)

*Two Efly – Wartawan Ekonomi