Adakah Potensi Stagflasi Daerah?

48
Syafruddin Karimi Guru Besar Fakultas Ekonomi Unand

BIASANYA inflasi bisa menjadi alat kendali pengangguran. Dipercaya terdapat hubungan yang terbalik antara inflasi dan tingkat pengangguran. Inflasi yang meninggi bisa diterima sepanjang dapat menurunkan tingkat pengangguran. Hubungan terbalik antara inflasi dan pengangguran tersebut populer dengan trade-off kurva Phillips.

AW. Phillips seorang profesional statistik Australia dalam pekerjaannya rutin mengumpulkan data tingkat upah dan angka pengangguran. Phillips menggambarkan hubungan angka pengangguran pada sumbu datar dan tingkat upah pada sumbu vertikal, jadilah sebuah kurva dengan kemiringan negatif. Ketika tingkat upah naik pengangguran menurun.

Awalnya tidak terdapat landasan teoritis di belakang kurva yang dibuat Phillips. Namun kemudian mendapat perhatian dari ekonom pengikut Keynes atau ekonom Keynesian yang pro kebijakan stabilisasi ekonomi.

Keynesian selalu percaya bahwa perekonomian itu selalu berada dalam kondisi tidak cukupnya kesempatan kerja. Kesempatan kerja penuh seperti asumsi ekonom klasik hanyalah sebuah kasus khusus. Tidak selalu terjadi. Keseimbangan ekonomi yang umum berlaku adalah keseimbangan kurangnya kesempatan kerja atau under-employment equilibrium.

Untuk membawa ekonomi dari situasi under-employment ke kondisi full-employment, ekonomi tidak mungkin dilepaskan saja ke mekanisme pasar. Pemerintah mesti mengambil peran melakukan stabilisasi ekonomi. Kebijakan stabilisasi ekonomi berperan membuat laju pertumbuhan ekonomi positif, memperluas kesempatan kerja, dan menjaga stabilitas harga.

Kebijakan stabilisasi ekonomi bekerja dengan instrumen kebijakan fiskal dan instrumen kebijakan moneter. Instrumen fiskal bekerja melalui APBN dan APBD. Ketika secara totalitas APBN dan APBD menciptakan defisit berarti memberi stimulus terhadap kegiatan ekonomi menuju ekspansi.

Dampaknya bisa membuat ekonomi memanas. Produksi meningkat yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi positif dan kesempatan kerja bertambah, namun pada saat sama mendorong upah dan harga harga naik.

Pada sisi lain, ekpansi moneter oleh bank sentral mendorong investasi dan konsumsi karena suku bunga turun. Ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan penangguran atau menambah kesempatan kerja. Namun jumlah uang beredar yang meningkat juga mendorong kenaikan harga atau inflasi.

Baik ekspansi fiskal maupun ekspansi moneter dapat memberi stimulus kegiatan ekonomi menuju pertumbuhan positif, turunnya penangguran, dan naiknya inflasi. Dalam konteks kebijakan ekonomi ekspansif, kurva Phillips dapat menjelaskan hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran.

Baca Juga:  Selamat Datang Vaksin Covid-19 Untuk Bayi

Manajemen makro ekonomi tinggal mencari kombinasi yang tepat antara tingkat inflasi dan angka pengangguran. Begitu efektifnya kebijakan stabilisasi ekonomi mengatasi pengangguran dan inflasi ketika validitas kurva Phillips masih ada.

Sayang pengambil kebijakan ekonomi sempat terlena dengan keampuhan trade-off kurva Phillips. Akibatnya ekspansi fiskal dan moneter menjadi berlebihan karena insentif pertumbuhan ekonomi tinggi. Defisit fiskal yang dibiayai dengan pencetakan uang berlebihan atau seignorage menciptakan inflasi berlebih dari keperluannya.

Inflasi justri berperan sebagai pajak buat pemegang uang. Inflasi meningkat tidak sekadar fenomena moneter dan kelebihan permintaan, tetapi diperberat oleh ekspektasi kenaikan harga. Inflasi meningkat karena faktor ekspektasi kenaikan harga.

Inflasi yang muncul akibat ekspektasi kenaikan harga menjadi tidak menarik buat produsen untuk berproduksi lebih banyak. Yang menarik buat produsen adalah ikut menaikkan harga karena produsen memiliki ekspektasi bahwa harga akan naik.

Kurva Phillips tidak lagi menjelaskan hubungan terbalik antara inflasi dan pengangguran, tetapi bergeser ke atas menuju inflasi yang makin tinggi dengan tingkat pengangguran yang tidak turun. Terjadilah stagnasi ekonomi bersamaan dengan inflasi yang meninggi.

Stagflasi sedang mencam dunia dengan stagflasi global. Negara negara maju sedang berawas-awas agar stagflasi tidak membawa krisis global. Amerika Serikat, Uni Eropa dan sekutunya mempersalahkan Rusia karena invasi ke Ukraina sebagai pangkal bala.

Rusia bersama Cina, India, Brasilia, dan Afrika Selatan yang tergabung ke dalam BRICS sepakat bahwa stagflasi global sedang mengancam dunia. Mereka sepakat melakukan koordinasi kebijakan untuk melakukan stabilisasi ekonomi dunia.

Bagaimana dengan kita? Mungkinkah juga akan terjadi stagflasi daerah? Harga kebutuhan pokok sudah meningkat. Tentu saja menyumbang terhadap kenaikan inflasi. Sementara produksi tidak meningkat akibat berbagai kendala di sentra produksi.

Jika kita mencemaskan stagflasi seperti dunia sedang mencemaskannya, apa yang perlu kita lakukan? Lancarkan produksi, perbaiki infrastruktur produksi, mudahkan pertanian kita dengan input produksi, termasuk kredit yang memberdayakan.

Sempurnakan informasi buat petani agar petani kita tidak dijangkiti hantu ekspektasi inflasi. Dengan cara itu kita bisa berharap kita tidak alami stagflasi daerah. (*)