Kearifan Lokal, Pembentukan Karakter Berbahasa

ilustrasi. (jawapos.com)

Ike Revita

Dosen Prodi S-2 Linguistik Unand & Kepala Pusat SPMI LP3M Unand

* Orang terkuat bukanlah pegulat. Tapi, orang yang bisa mengontrol dirinya saat marah. (HR. Bukhari)

* Hamba-hamba Allah penghuni surgawi, harus menggunakan bahasa yang halus dan sopan. (Muhammad Hatta)

Bulan Oktober disebut oleh sebagian orang sebagai Bulan Bahasa karena di bulan ini tepatnya tanggal 28, Sumpah Pemuda diikrarkan. Salah satu bunyi ikrar itu adalah bahwa pemuda Indonesia bersumpah untuk memiliki satu bahasa, yakni Bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda ini mengimplikasikan komitmen bangsa Indonesia bahwa bahasa mereka adalah bahasa Indonesia. Meskipun terdiri atas beragam budaya dan bahasa, bangsa Indonesia tidak akan pernah mengklaim mereka orang A, B, atau C tetapi orang Indonesia, bangsa Indonesia.

Begitu dalamnya ikrar yang dilafalkan pemuda Indonesia pada tahun 1928, sehingga sampai sekarang bahasa Indonesia tetap menjadi pengikat keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia. Rasa cinta pada bangsa Indonesia salah satunya diwujudkan dengan mencintai bahasa Indonesia.

Bentuk cinta itu tercermin dari bagaiman bahasa Indonesia digunakan dengan baik dan benar. Penggunaan yang baik dan benar ini tentu tidak terlepas dari konteks yang ada. Hal ini sudah diatur oleh Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia.

Dengan telah diaturnya penggunaan bahasa Indonesia, di mana posisi bahasa daerah? Salah satu kekayaan bangsa Indonesia adalah keberagaman bahasa masyarakatnya. Keberadaan puluhan suku di Indonesia menjadikan hadirnya bermacam bahasa daerah/ lokal yang membuat kehidupan bermasyarakat menjadi lebih dinamis.

Masing-masing masyarakat memiliki kekhasan dan keunikan bahasa daerah mereka. Bahasa daerah ini bahkan menjadi cermin dari keunikan pengguna dan penggunaanya. Salah satunya adalah masyarakat Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau menggunakan bahasa Minangkabau sebagai bahasa sehari-hari. Idealnya, masyarakat Minangkabau juga akan menjadikan bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu. Akan tetapi, konsep ini dimaknai tidak sama karena memutuskan memilihkan bahasa ibu bagi anak-anak memiliki dasar dan pertimbangan tersendiri.

Ada keluarga yang memutuskan menjadikan bahasa asing atau bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu untuk anak-anak mereka. Salah satunya adalah lokasi tempat anak dilahirkan, mungkin di luar negeri atau di daerah yang membuat bahasa asing ini atau bahasa Indonesia harus dijadikan bahasa ibu. Pertimbangan-pertimbangan lain hakikatnya menjadi hak orang tua setiap anak.

Bahwa bahasa melekat erat pada budaya. Putusan memilihkan bahasa pertama pada anak sedikit banyak akan berpengaruh pada pola pikir dan karakter anak. Hal ini bertemali dengan konsep bahasa itu menunjukkan budaya dan bahasa itu menjadi cerminan seorang individu (Chaika, 2000). Pendapat senada juga disampaikan Revita dalam artikelnya yang dimuat di Harian Padang Ekspres (2019) bahwa bahasa pertama yang diajarkan kepada anak akan ikut mempengaruhi bagaimana anak memandang dunia.

Bahasa dan budaya diibaratkan permukaan uang logam yang satu sama lain saling melengkapi. Jika salah satunya hilang, maka bagian yang lain akan useless. Ketidakbergunaan ini membuat mata uang ini menjadi tidak bernilai.

Analogi ini sama dengan posisi bahasa yang jelas dapat menggambarkan budaya masyarakat penggunanya. Bahasa Jawa, misalnya, dengan speech level mengenal adanya bahasa ngoko, krama, dan krama inggil untuk menunjukkan kelas sosial masyarakat penggunanya. Hal yang sama juga ditemukan pada bahasa Sunda dan bahasa Bali. Ada tingkatan atau level dalam bahasa yang mengacu kepada penuturnya. Speech level ini mengindikasikan masyarakat yang bersifat non egaliter. Ada perbedaan derjat keanggotaan masyarakat.

Baca Juga:  Tanpa Jabatan Tetap Bisa Berkarya

Di Minangkabau, hal ini tidak ditemukan. Bahasa Minangkabau tidak mengenal bahasa untuk masyarakat biasa atau ningrat. Bahasa Minangkabau digunakan oleh semua masyarakat Minangkabau tanpa membedakan kelas dan status sosial. Itulah sebabnya Bahasa Minangkabau termasuk dalam bahasa yang bersifat egaliter.

Egaliter atau non egaliter sifat sebuah bahasa tidak menunjukkan baik atau buruknya bahasa itu karena semuanya tergantung dengan bagaimana bahasa itu dinilai oleh penggunanya. Dalam bahasa terkandung kearifan lokal yang secara tidak sadar akan terintegrasi Ketika diajarkan dan digunakan. Contohnya adalah pernyataan Errington, seorang Antropolog Amerika, bahwa bahasa Minangkabau cenderung tidak langsung (1984). Ketidaklangsungan ini dapat dilihat dari bagaimana seorang Minangkabau bertutur yang banyak menggunakan figurative language (bahasa kias).

Untuk memahami bahasa kias tidaklah mudah. Diperlukan pengetahuan dan ilmu untuk menangkap maksud tuturan yang menggunakan bahasa kias ini. Pengetahuan dan ilmu ini pun akan terpetakan dalam penggunaan bahasa kias. Tidak mudah, tidak gampang, dan berpotensi untuk mengandung resiko saat bertutur menggunakan bahasa kias. Inilah yang dikatakan Yule (2000) dengan ketidaklangsungan berbahasa sebagai sesuatu yang risky dan costly. Besar kemungkinan bahasa kias tidak tepat sasaran.

Apa yang dimaksud penutur tidak ditangkap secara utuh atau dipahami kontradiktif oleh mitra tutur. Akibatnya terjadi gagal komunikasi. Tatkala komunikasi sudah gagal maka bibit perseteruan sudah mulai tumbuh. Tanda-tanda disharmoni sudah mulai terlihat.

Di sinilah peran kearifan lokal (local genius) yang terpancar dalam bahasa. Kearifan lokal ini sebenarnya dapat dijadikan pondasi dalam membentuk karakter seorang anak dalam berbahasa. Hal ini dibuktikan dengan apa yang dijelaskan di atas. Ketidaklangsungan seorang Minangkabau dalam berbahasa menunjukkan karifan dan kebijaksanaan.

Mereka mampu membaca sesuatu yang tidak terkatakan dan menyikapi pesan yang tidak disampaikan. Hal ini sesuai dengan konsep alun takilek lah takalam, manggarik lauak dalam tabek lah jaleh jantan atau batinonyo. Secara umum, ungkapan ini menggambarkan bahwa seorang Minangkabau hendaknya arif dan bijaksana dalam berbahasa dan menangkap maksud orang lain.

Nilai-nilai seperti ini seyogyanya ada dan dimiliki karena sudah dibangun dari dini, semenjak anak berusia kecil. Bangunan yang terbentuk diibaratkan karakter. Karakter seperti sesuatu yang dirancang dan disusun secara perlahan sehingga menjadi sebuah bangunan kokoh dan terpatri. Jadinya sebuah bangunan tergantung kepada bagaimana disain dibuat, elemen penyusunnya, dan pelaku yang merealisasikannya. Itulah orang tua dan lingkungan.

Yang pasti, keberadaan kearifan lokal bukan lahir begitu saja tetapi hasil dari pengamatan dan pengalaman nenek moyang kita. Diperlukan waktu berpuluh bahkan mungkin berates tahun menjadikan fenomena lokal sebagai sebuah kearifan yang mencerminkan masyarakatnya. Kearifan lokal pun bisa dijadikan pondasi dalam membentuk karakter generasi muda, apalagi dalam berbahasa. Selamat Hari Sumpah Pemuda. Selamat Bulan Bahasa. (*)