Peran Perempuan Mencegah Korona

(Memaknai Peringatan Hari Kartini di Tengah Pandemi Covid-19)

Peringatan hari Kartini 21 April 2020, seiring dengan perjuangan bangsa ini melawan pandemi virus korona. Hari Kartini diperingati berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964. Kartini atau nama lengkapnya Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat merupakan Pahlawan Nasional. Beliau lahir tanggal 21 April  1879 di Jepara dan meninggal tanggal 17 September 1904 di Kabupaten Rembang, dalam usia yang masih muda yaitu umur 25 tahun.

Kartini dikenal sebagai tokoh kebangkitan perempuan pribumi. Simbol perjuangan perempuan untuk lepas dari diskriminasi dan keterbelakangan. Berani mendobrak adat feodal yang membelenggu kaum perempuan saat itu. Walaupun berasal dari keluarga bangsawan, ayahnya merupakan Bupati Jepara. Namun, dia tetap tidak boleh melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, karena sistem yang berlaku saat itu. Kaum perempuan diperlakukan sangat diskriminatif. Akhirnya sistem itulah yang didobrak Kartini. Sejak saat itu mulai tumbuh embrio perjuangan dan pergerakan untuk mengangkat derjat kaum perempuan. Hingga akhirnya gerakan tersebut dikenal dengan emansipasi wanita, dan terakhir lebih populer dengan pengarusutamaan gender.

Setelah era Kartini tersebut berakhir, buah pikirannya menginspirasi banyak pihak. Tidak saja tentang perjuangan kaum perempuan. Namun, buah pikirannya juga tentang konsep kebangsaan dan nasionalisme. Buktinya, setelah itu terbentuk berbagai kelompok pergerakan nasional yang terispirasi dari konsep nasionalisme Kartini. Diantaranya adalah Raden Ajeng Kartini Club yang didirikan oleh Tjipto Mangoenkoesoemo pada tahun 1912 di Surabaya dan Algemene Studie Club pada tahun 1925 diprakarsai oleh beberapa tokoh nasional yaitu Soekarno, Abdoel Moeis, Ishaq Tjokrohadisoerjo dan Anwari. Selanjutnya  oleh J.H. Abendanon, buah pikiran kartini yang dituangkan dalam surat-surat tersebut dihimpun menjadi buku berjudul Door Duisternis Tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya).

Memaknai peringatan hari Kartini tahun 2020 ini sepertinya cukup istimewa. Karena, saat ini negara sedang berjuang dari ancaman yang cukup berat. Jika dahulu Kartini berjuang pada masa penjajahan menghadapi kolonialisme dan perlakuan diskriminasi. Maka, perjuangan “Kartini” saat ini tidak kalah berat. Dahulu Kartini dalam perjuangannya menghadapi musuh yang jelas, tampak dan terukur. Namun, hari ini musuh yang sedang dihadapi tidak tampak. Akan tetapi memberi akibat dan daya rusak yang sangat fatal. Dampak tersebut terutama melanda aspek sosial, agama dan ekonomi.

Di bidang sosial, mengakibatkan berkurangnya interaksi sosial langsung. Hal tersebut ditandai dengan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus tersebut. Di bidang agama, terjadinya perubahan pelaksanaan ritual keagamaan. Masing-masing umat beragama menjalankan syariat agama menyesuaikan dengan fatwa kondisi darurat. Umpamanya umat Islam, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Ibadah bagi umat Islam saat wabah pandemi ini.

Secara umum maksud dari fatwa tersebut adalah agar masyarakat muslim menghindari penyebaran korona. Diantara upaya yang difatwakan adalah agar dalam kondisi penyebaran korona tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan salat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga dengan salat berjamaah lima waktu di mesjid dialihkan pelaksanaannya di rumah masing-masing.

Selanjutnya di bidang ekonomi, tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai merubah perencanaan yang telah dibangun sejak jauh hari. Sebagai contoh, pemerintah melalui menteri keuangan “dipaksa” mengatur ulang strategi Perekonomian Negara ini. Semua itu dengan maksud sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan. Selain itu juga keharusan untuk menyesuaikan dengan dinamika perekonomian global. Karena perekonomian kebanyakan negara di seluruh dunia pun mengalami hal yang sama.

Dari hasil asesmen yang dilakukan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), pengaruh pandemi Covid-19 ini sangat mengancam perekonomian negara. Lalu, sebagai antisipasi keadaan tersebut ada dua kemungkinan skenario yang akan dihadapi. Pertama pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi hingga posisi 2,3 persen atau turun 3 persen dari asumsi APBN Tahun 2020. Kemudian, skenario kedua sebagai kemungkinan terburuk pertumbuhan ekonomi kita akan mengalami penurunan hingga minus 0,4 persen. Luar biasa.

Oleh karena itu, momentum hari Kartini ini diharapkan memberi makna dan spirit yang sangat kuat bagi kaum perempuan untuk berperan menghadapi situasi ini. Baik selaku individu maupun bagi kelompok atau organisasi perempuan. Ternyata upaya tersebut telah dilakukan. Dari data United Nations Population Fund (UNFPA) dan UN Women bahwa sebanyak 70 persen tenaga medis di seluruh dunia adalah perempuan. Artinya perempuan telah menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien covid-19 ini.

Begitu juga data Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia, sebanyak 64 persen dari pelaku UMKM tersebut atau sekitar 37 juta dimiliki dan dijalankan oleh perempuan. Ternyata di masa pandemi covid-19 ini sebanyak 60 persen dari UMKM di Indonesia telah memproduksi hand sanitizer, baju hamzat (APD) dan masker. Semua itu tentunya sangat berguna saat ini. Semoga upaya tersebut semakin ditingkatkan lagi dengan skala yang lebih luas. Sampai akhirnya kita berhasil keluar dari pandemi ini untuk menyongsong hari depan yang lebih baik. Selamat Hari Kartini, semoga segera terwujud “Habis Gelap Terbitlah Terang.” (*)

*Ahmad Fasni – Ketua Umum Ikatan Penyuluh KB Sumbar