Kejar Imunisasi Dasar, Selamatkan Anak Pasca-Pandemi

8
Rinang Mariko Dokter Spesialis Anak RSUP M Djamil/ Dosen FK Unand

Pekan Imunisasi Dunia yang diselenggarakan pada minggu ke-4 bulan April setiap tahun pada lebih dari 180 Negara anggota WHO, termasuk Indonesia.

Kegiatan ini fokus pada propaganda kolektif untuk menjamin setiap orang (termasuk anak) terlindungi dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yang selama ini rutin dilakukan melalui imunisasi dasar.

Pandemi Covid-19 selama 2 tahun terakhir, menurunkan secara tajam jumlah anak yang diimunisasi dasar, sehingga outbreak (peningkatan kasus) PD3I menjadi ancaman setiap saat.

Imunisasi merupakan suatu upaya untuk melatih kekebalan khusus seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan agen (virus atau bakteri) penyebab penyakit tersebut, dapat memberikan perlawanan dengan baik, tidak menyebabkan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Diketahui bahwa imunisasi dapat mencegah 1,5 juta kematian anak setiap tahun. Imunisasi dasar telah diprogramkan oleh pemerintah sejak tahun 1970-an, meliputi imunisasi BCG, Pentabio (DPT, HB, HiB), MR (Measles & Rubella).

Imunisasi BCG untuk mencegah penyakit tuberkulosis dan DPT mencegah penyakti Difteri, Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus. Imunisasi HB mencegah sakit Hepatitis B, sedangkan HiB mencegah radang paru-paru akut dan radang selaput otak yang disebabkan bakteri hemofilus Influenza B.

Yang tak kalah pentingnya adalah imunisasi MR yaitu mencegah sakit campak dan sakit Rubela, di mana penyakit Rubella dapat mengakibatkan cacat bawaan pada bayi baru lahir, terutama berupa katarak, tuli saraf, gangguan kecerdasan dan cacat pada organ lain (Congenital Rubella Syndrome-CRS).

Jika bayi dan anak tidak melengkapi imunisasi dasar tersebut, maka anak-anak kita tidak memiliki kekebalan khusus untuk melawan virus dan bakteri tersebut, sehingga rentan tertular dan menderita sakit, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Indonesia, termasuk Sumatera Barat telah berkomitmen mencapai eliminasi penyakit terkait PD3I, misalnya eliminasi campak dan rubella (CRS) tahun 2023, mempertahankan status bebas polio tahun 2026, dan lainnya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama pandemi Covid-19, imunisasi rutin tidak berjalan optimal, sehingga terjadi penurunan cakupan imunisasi rutin yang cukup bermakna. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi dengan cakupan imunisasi rendah, sejak tahun 2019 sampai sekarang.

Cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) di Sumatera Barat tahun 2019 hanya mencapai 76,18%, menurun tahun 2020 menjadi 54,11% dan tahun 2021 59,8%, tidak mencapat target nasional yaitu 95%. Target 95% perlu dicapai, dalam upaya membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, diperkirakan sekitar 145 ribu anak balita di Sumatera Barat belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap sampai akhir tahun 2021 ini.

Apa artinya? Artinya, sebanyak 145 ribu anak balita kita, rentan tertular oleh virus dan bakteri penyebab PD3I tadi, yang dapat berkembang menjadi penyakit yang berat dan berujung kematian.

Beban Covid-19 akan ditimpa lagi oleh ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit-penyakit tersebut, yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi lengkap.

Kondisi ini akan meningkatkan beban pada sistem kesehatan dan jaminan sosial, sesuai dengan prediksi dari World Health Organization (WHO), United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF), dan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) kesehatan ibu dan anak di negara-negara berpenghasilan rendah paling terpengaruh dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat runtuhnya sistem pelayanan kesehatan rutin yang secara tidak langsung terganggu oleh pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Pembangunan Infrastruktur Penggerak Ekonomi

Berbagai tantangan masih kita hadapi dalam pelaksanaan program imunisasi, antara lain terkait teknis pelayanan di fasilitas kesehatan, namun yang paling berpengaruh adalah adanya isu negatif tentang vaksin dan kurangnya pengetahuan sebagian masyarakat tentang manfaat imunisasi.

Tantangan-tantangan ini harus kita sikapi dengan tepat dan sungguh-sungguh agar hambatan pada pelaksanaan program imunisasi dapat dihindari dan agar segenap rakyat dan generasi muda Indonesia terlindung dari PD3I.

Namun demikian, penyelesaian masalah rendahnya cakupan imunisasi ini, tidak dapat hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Dibutuhkan komitmen dan dukungan Pemerintah daerah (gubernur dan jajarannya, bupati/ wali kota dengan jajarannya), melalui kerja sama dan koordinasi dengan lintas sektor dan program terkait.

Belajar dari pencapaian vaksin Covid-19 untuk dewasa dan anak, dukungan yang sangat baik telah dilakukan oleh berbagai unsur lintas sektor termasuk TNI/Polri, tokoh agama, PKK, organisasi profesi (IDI, IDAI, IBI, PPNI), BIN, RS Swasta, Universitas, dan lainnya, sehingga sangat bermakna dalam meningkatkan cakupan imunisasi dari waktu ke waktu.

Semoga dukungan ini akan tetap dapat dipertahankan untuk kegiatan imunisasi rutin dan imunisasi tambahan lainnya. Pekan Imunisasi Dunia 16-22 April ini, menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran orangtua dan masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

Diharapkan kita semua melakukan edukasi, sosialisasi dan kampanye tentang pentingnya imunisasi. Bayi dan balita yang lengkap imunisasinya dapat diberikan sertifikat atau ijazah imunisasi. Orangtua harus merasa bangga jika anaknya mendapat imunisasi dasar lengkap.

Imunisasi dasar lengkap harus dijadikan ‘every one business’, dan menjadi bagian dari gaya hidup sehat ibu-ibu muda. Jika kesadaran ini sudah terbentuk, maka akan lebih mudah melanjutkan aktivitas imunisasi dasar lengkap, agar semua anak terlindungi.

Pemerintah akan menyelenggarakan Bulan Imunisasi Anak Nasional pada pertengahan bulan Mei-Juni 2022, di mana seluruh anak usia 9 bulan s/d 15 tahun harus melengkapi imunisasi (termasuk Campak dan Rubella-MR) berdasarkan Keputusan Menkes RI Nomor HK 01.07/Menkes/1113/2022.

Aktivitas ini disebut juga Imunisasi Kejar, yaitu mengejar ketertinggalan imunisasi rutin yang tidak diberikan sebelumnya. Di usia berapa saja, maka imunisasi rutinnya harus dilengkapi. Hal ini dilakukan tak lain dan tak bukan adalah untuk antisipasi terjadinya wabah penyakit terkait akibat imunisasi tidak lengkap.

Untuk diketahui, saat ini sudah mulai terjadi peningkatan kasus-kasus tersebut, yaitu Difteri, Campak dan Pertusis, di mana sudah ada yang menimbulkan kematian. Tentu saja kita tidak ingin kondisi ini berlanjut, sehingga kita harus mendukung pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional.

Advokasi-advokasi yang masif harus kita lakukan bersama, melibatkan lintas sektor yang lebih luas lagi, termasuk Kemendikbud, Kemenag, tokoh agama, dewan masjid di Sumbar, tokoh masyarakat setempat seperti camat, lurah, kepala desa, babinsa, PKK, kader posyandu, dasa wisma dan lainnya, dengan dikomandoi oleh kepala daerah.

Pandemi telah mengajarkan kita pentingnya bekerja sama. Insya Allah dengan bekerja sama, kita dapat melindungi anak-anak dan generasi penerus, dari penyakit terkait PD3I.

Sebagaimana disampaikan dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 2: “…. maka tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” . Semoga semua aktivitas kita menjadi amal ibadah dan puasa kita berjalan lancar. Aamiin YRA. (*)