Erick Thohir, Pertamina dan Pembentukan Holding Migas

63
Kementerian BUMN. (net)

Ilham Aldelano Azre
Dosen Administrasi Publik FISIP Unand/ Peneliti Spektrum Politika

Menteri BUMN Erick Thohir (ET) pada 12 Juni lalu dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) melakukan pemangkasan jumlah direksi Pertamina. Direksi dari sebelumnya berjumlah 11 orang menjadi hanya enam dalam manajemen Pertamina.

ET dalam penjelasannya di beberapa media menjelaskan, pemangkasan jumlah direksi Pertamina bertujuan untuk melanjutkan rencana pembentukan Holding BUMN sebagai salah satu upaya agar BUMN fokus kepada bisnis inti. Lalu, sebagai bagian melanjutkan rencana restrukturisasi dan konsolidasi BUMN, serta sebagai upaya pengukuran Key Performance Indicator (KPI) BUMN.

Pemangksan jumlah direksi Pertamina merupakan bagian dari strategi dan roadmap Kementerian BUMN yang tercantum dalam Buku Putih Pembentukan Holding Migas. Ke depannya, Pertamina dijadikan sebagai sebuah holding BUMN Migas yang mempunyai lima sub-holding dan satu shipping company, yaitu, 1) Upstream Sub-holding yang bergerak pada sektor hulu industri minyak bumi yang operasionalnya dikelola PT Pertamina Hulu Energi; 2) Refinery and Petrochemical Sub-holding yang bergerak pada sektor pengolahan migas dan turunannya, yang dikelola PT Kilang Pertamina Internasional; 3) Commercial and Trading Sub-holding yang bergerak pada sektor komersil dan produk Pertamina dan dikelola PT Patra Niaga 4) Power and New and Renewable Energy Sub-holding yang bergerak pada sektor pemanfaatan energi baru dan terbarukann, sub-holding akan dikelola oleh PT Pertamina Power, 5) Sub-holding Gas yang saat ini telah dikelola PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan terakhir Shipping Company yang operasionalnya diserahkan kepada PT Pertamina International Shipping.

Dengan pemangkasan jumlah direksi dan pembentukan sub-holding dalam tubuh Pertamina, hal ini memberikan isyarat adanya konsolidasi dan transformasi usaha/bisnis BUMN sektor migas untuk memperkuat pembentukan Pertamina sebagai induk holding migas.

Pertamina sebagai induk dari holding migas akan lebih berperan sebagai strategic holding yang memiliki fungsi utama pada pengembangan portofolio perusahaan, penciptaan sinergi bisnis perusahaan dan percepatan pengembangan bisnis perusahaan.

Sementara perusahaan sub-holding yang berada di bawah Pertamina akan lebih berperan menjalankan operational excellence korporasi melalui pengembangan skala bisnis dan sinergi bisnis antara sub-holding itu sendiri.

Strategi pembentukan sub-holding ini tentu saja diharapkan mampu mempercepat portofolio bisnis, peningkatan kapasitas bisnis, fokus dan kelincahan dalam menjalankan strategi perusahaan dan fleksibilitas dalam pendanaan. Tentu saja diharapkan menghasilkan pajak, serta deviden yang signifikan untuk negara.

Pembentukan holding BUMN Migas dengan Pertamina sebagai induk perusahaan serta dibentuknya sub-holding, merupakan pilihan yang rasional untuk BUMN dalam upaya peningkatan efisiensi dan terciptanya sinergi antara perusahaan. Selain itu, holding BUMN harus mampu menciptakan nilai-nilai tambah yang sebesarnya bagi kepentingan masyarakat.

Apabila holding BUMN telah memberikan deviden kepada negara dalam hal ini pemerintah, maka setelah tercapai profitabilitas holding BUMN juga harus memberikan kontribusi secara sosial yang berdampak kepada kesejahteraan masyarakat.

BUMN tidak bisa dilihat sebagai koorporasi biasa, tempat berinvestasi atau menanamkan modal negara semata. Namun, harus dilihat juga sebagai fungsi negara dalam penguasaan strategis sehingga BUMN dapat menjadi katalisator pembangunan.

Pola holding Migas yang akan dijalankan Pertamina ke depan menurut penulis, merupakan penggabungan dari tipologi strategi holding, yakni 1) Strategi Guidence. Pertamina sebagai induk perusahaan memiliki arahan strategi yang jelas bagi masing-masing anak perusahaan dan portolio bisnis yang dimiliki. Tipologi Strategic Guidence ini dilakukan oleh super-holding BUMN Malaysia Khazanah; 2) Hands-On Management.

Dengan tipologi ini, keterlibatan manajemen induk perusahaan sangat tinggi dalam kerangka hubungan dengan anak perusahaan. Induk perusahaan mulai terlibat dalam penentuan target keuangan, pemberi arahan strategis, sampai kepada pengambilan kebijakan fungsional perusahaan. Bahkan sampai pada pengambilan keputusan operasional perusahaan (Pranoto, 2018). Tipologi Hands-On Management ini dalam praktuknya dilakukan oleh super-holding BUMN Singapura Temasek, dan mungkin dalam praktik di Indonesia dilakukan oleh holding semen yaitu Semen Indonesia.

Manfaat dibentuknya holding BUMN adalah untuk peningkatan kapasitas produksi, efisiensi dalam kegiatan operasional melalui sinergi pengelolaan sumber daya, mempermudah akses permodalan, knowledege sharing yang lebih cepat, dan sinergitas dalam kompetisi dengan perusahaan swasta sejenis.

Dengan holding ini, pola perkembangan karir juga lebih luas dengan menciptakan iklim kompetisi antar pegawai, deviden/laba bersih bisa meningkat, dan meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan deviden (Azre, 2018).

Selain itu, hal yang harus menjadi perhatian ET adalah menjadikan Pertamina sebagai induk holding migas yang memberikan value creation, bukan value destruction. Kemudian, memberikan efek pengganda luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Indonesia.

Hal lain yang tidak boleh luput dari Menteri BUMN adalah memastikan Pertamina secara khusus sebagai BUMN penghasil deviden terbesar, serta BUMN secara umumnya hidup dalam ekosistem bisnis yang baik, serta bebas dari intervensi kepentingan politik dan atau motif ekonomi kelompok tertentu. Kita tentu berharap banyak kepada ET agar BUMN Indonesia menjadi perusahaan kelas dunia yang bersaing secara kompetitif dalam skala global. (*)