Sakratul Harga

60
Endrizal Ridwan Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand

MINGGU-MINGGU ini publik Sumatera Barat disuguhi kenyataan tingginya harga sembako. Terutama harga cabai yang telah menembus Rp 120 ribu per kilogram. Saking tingginya sudah sampai memilukan amak-amak belanja di pasar: sudah sakarat.

Saat harga sakarat, berbagai rayuan kebijakan ditawarkan untuk menurunkannya seperti operasi pasar atau keran impor. Penyebab lonjakan harga pun dikaji. Diantaranya harga pupuk non-subsidi terlalu tinggi sehingga biaya produksi mahal. Yang tidak pakai pupuk terancam gagal panen.

Tapi, ketika harga jeruk siam Gunuang Omeh murah, yang dipersalahkan juga harga pupuk non-subsidi yang terlalu tinggi. Karena harga jeruk murah petani tidak sanggup beli pupuk, maka kebun dibiarkan terlantar.

Jadi harga pupuk non-subsidi sebenarnya tidak relevan dengan pembentukan harga. Pupuk subsidi ke mana aja? Bisa jadi salah distribusi ke industri, yang ke petani hanya karung berganti isi. Makanya, ke pupuk subsidi petani hilang percaya diri.

Ketika harga tidak sesuai ekspektasi, pemerintah jadi bulan-bulanan. Padahal, harga pasar merupakan luaran yang adil. Jika yang menetapkan harga adalah pemerintah, pastilah ditetapkan dengan tidak adil. Berapapun ditetapkan akan mengandung ketidakadilan bagi suatu pihak.

Jika tinggi tidak adil bagi pembeli. Jika rendah tidak adil bagi penjual. Namun, karena harga merupakan luaran dari permainan ekonomi (economic game) yang output-nya mengandung ketidakpastian dan tidak seorang pun mengetahui sebelum permainan dimulai, maka harga yang terbentuk dari sebuah permainan adalah adil dan bisa diterima semua pihak.

Sama seperti permainan bola. Jika skor akhir ditetapkan saja oleh wasit sebelum permainan dimulai, pastilah skor itu tidak adil, berapapun skornya. Tapi karena skor itu adalah output dari permainan yang tidak seorangpun mengetahui dari awal, maka skor itu adil.

Di samping adil, harga itu juga sakral suci karena ketetapan Sang Kuasa (invisible hand). Harga merupakan petunjuk bagi pelaku ekonomi untuk merdeka melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya: memilih komoditi apa yang akan tanam, bagaimana cara menanamnya, dan kepada siapa komoditi itu dijual. Harga merupakan relfeksi dari serpihan-serpihan informasi yang dimiliki oleh jutaan individu terpisah yang terkoordinasi secara ekonomi.

Baca Juga:  Kenali Kanker Lewat CERDIK dan WASPADA

Setiap individu memiliki informasi yang mungkin tidak dimiliki oleh individu lain, bahkan bisa jadi informasinya saling bertentangan. Karenanya, tidak satu lembaga pun mampu menghimpun serpihan-serpihan informasi itu secara utuh untuk tujuan penetapan harga yang tepat menurut pikirannya.

Harga terbentuk secara alamiah. Bahkan, harga tidak bisa dibetulkan jika dianggap salah, karena tidak mungkin mengoreksi sesuatu yang terbentuk dari yang tidak diketahui. Karena sakral, berhentilah meminta pemerintah menetapkan harga, termasuk harga sembako.

Sektor pertanian sembako juga beroperasi secara bisnis karena pastilah pebisnis memperhitungkan bagaimana siklus produksi setiap komoditi yang ditanamnya. Bisnis berprinsip untung rugi. Untung itu penting tapi rugi lebih penting lagi.

Rugi merupakan sinyal untuk tutup usaha atau beralih tanam ke komoditi lain. Ketika harga dimanipulasi sehingga menampilkan rugi seakan untung, harga yang terdistorsi itu memberikan sinyal yang salah ke petani. Akibat ke depannya akan lebih parah.

Karena itu, yang paling urgen diminta kepada pemerintah adalah disamping mendukung mekanisme harga pasar, pemerintah perlu lebih mengutamakan penyediaan infrastruktur pertanian. Terutama penyediaan informasi komoditas rinci secara real-time.

Informasi siklus produksi setiap komoditi pertanian, seperti luas tanam dan luas panen di berbagai daerah sentra produksi secara berkala, hendaknya tersaji secara lengkap dan bisa diakses petani dengan mudah setiap saat.

Dengan demikian para petani kita akan dapat memanfaatkan infrastruktur dan informasi tersebut untuk mengurangi risiko salah putusan dan merdeka memilih tindakan ekonomi yang tepat menguntungkan dirinya. (*)