Elok jo Buruak Bank Nagari

2047

Oleh: Dr Romeo Rissal Pandjialam, Mantan Kepala BI Padang, Komisaris Utama PT Omni Pay, Dirut PT Global Digital Asia, Pengasuh Sekolah Digital Agam.

Karena banyak yang meminta, ini mungkin tulisan saya yang terakhir sebelum RUPS. Karena kecintaan saya pada Bank Nagari. Untung ada media massa untuk menyalurkan rasa cinta itu.

Menulis kali ini tentunya terpaut erat juga dengan rasa tanggung jawab profesi dan pengalaman saya mengawasi Bank Nagari. Tak ada kepentingan lain. Saya dan istri memang berbisnis. Tapi kami hanya mempunyai deposito dan tabungan, bukan pinjaman atau kredit di Bank Nagari.

Waktu saya dinas di Padang, saya tahu persis banyak orang-orang yang berteriak agar Bank Nagari dan semua BPR dikonversikan jadi Syariah. Tapi uang mereka ditabung di bank konven. Tak satunya kata dengan perbuatan.


Bahkan beberapa bank konven jadi favorite urang awak untuk menabung,  LDRnya tak sampai 50%.  Salah satunya BCA (35%) yang sempat saya panggil ke kantor untuk meningkatkan LDR terendah itu. “Saya senang orang Minang cinta BCA, tapi kau kasih lah kredit di sini” kata saya kepada Pinca yang orang Batak itu. Pinca dan direkturnya yang hadir ketika mereka meminta saya untuk  meresmikan kantor cabang BCA yang megah di Sawahan, setuju sekali.  Mereka pun meningkatkan LDR dengan mudah karena dana Padangnya bejibun. Bravo BCA Sumbar!

Artinya “urang awak syariah” itu nabungnya di konven, Cing. Bukan di bank Syariah. Apa lagi di UUS Bank Nagari.  Makanya pangsa pasar Syariah Bank Nagari tak sampai 10%. Tuan-tuan para promotor Konversi ini lucu sekali.

Bank dikonversikan untuk pangsa pasar sekerdil 10%. Dimana kuliah bisnisnya itu? Kemana kajian ilmiah anggota ISEI Unand yang biasanya tajam terpercaya? Mungkin tak salah bila  banyak orang akhirnya menganggap konversi ini sebagai move berbau politik.

Kalau asset perbankan Syariah Sumbar meningkat hampir 30 T (asset konven), gaung “capaian” peningkatan pangsa pasar Syariah cetar membahana.  Tapi  Tuan-Tuan perlu belajar. Itu asset semu perbankan Syariah. Habis itu Bank Syariah Nagari sulit berkembang. Apakah Tuan-Tuan mau bertanggung jawab?

Sering terjadi di banyak daerah  karena bank itu sarangnya pitih, banyak orang bersuara lantang. Pengusaha ujug-ujug mendukung seolah berjiwa Syariah dari bedungan.

Atau juga mereka  mengincer jabatan tertentu dari bank itu. Jariah manantang buliah. Jabatan Dewan Pengawas pun jadi inceran. Waktu saya Kepala BI  Medan dan Padang, membawahkan 5 BPD, saya menolak calon-calon pimpinan yang diajukan pemegang saham tertentu, bila tidak qualified.

Atau ada juga kelompok yang sekadar ingin mendekatkan diri dengan penguasa. Tapi tentu banyak juga yang ikhlas karena keinginan agar perbankan Syariah berkembang di Sumbar. Ini patut kita apresiasi. Tapi orang Minang yang cerdas pasti mafhum bahwa kehancuran akan menunggu di ujung jalan bila sesuatu ditangani oleh orang-orang yang bukan ahlinya.

Tuan-tuan, pengelolaan bank ini tanggung-jawabnya kepada Sang Khalik . Begitu keyakinan kami di BI. Kami sebagai pengawas bank sangat menyadari bahwa di bank itu ada uang hasil keringat puluhan, ratusan ribu bahkan jutaan  rakyat. Arato rayaik badarai.

Waktu jadi Kepala BI Medan, ucapan saya  (yang banyak dikutip) kepada kelompok, politisi atau oknum yang ingin mengubah bank tanpa keahlian dan konsep : “Cawe-cawe, ubah-ubah bank tanpa keahlian dan pengalaman, tentukan saja neraka mana yang kau pilih”.

Ini upaya saya untuk menyadarkan mereka bahwa bank itu isinya adalah hasil tabungan susah payah masyarakat semua level.  Ribuan ASN menabungkan sisa-sisa gaji mereka sedikit demi sedikit, seperak demi seperak.

Pedagang kecil menabungkan uang lusuh hasil keringat harian mereka karena ingin naik haji, petani  kecil yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka. Tidak seperti usaha-usaha lain yang di dalamnya hanya uang sang pemilik perusahaan. Tuan-tuan  catat itu!

Satu hal lagi. Walaupun Tuan-Tuan berbicara ABS-SBK, yang kita semua junjung tinggi, tapi tentang bank,  Bank Indonesia dan OJK akan berbicara Business Plan. Konsep yang rasional bukan emosional. Pertanyaan pertama mereka adalah apakah menguntungkan bagi ekonomi rakyat bila dikonversi? Karena kedua Lembaga itu adalah lembaga ekonomi. Bukan Lembaga perasaan. Jadi para pemegang saham jangan sampai maju ke OJK tanpa konsep bisnis Bank Syariah dan Business Plan yang jelas. Yang menguntungkan nasabah dan pemegang saham. Menguntungkan Sumatera Barat.

Di samping itu, kecintaan saya terhadap Bank Nagari ada alasan historisnya. Tahun 1996 saya diminta oleh Gubernur Hassan Basri Durin untuk membantu mengembangkan BPD Sumbar. Makalah/presentasi saya berjudul “Manjangkau Pitih di Rantau”.

Ada 4 hal pokok yang kami ajukan (hasil diskusi dengan Direksi BPD): (1) Pemda tak cawe-cawe ke manajemen bank, termasuk tidak menempatkan orang yang tidak qualified (b)  izinkan BPD merantau ke luar propinsi, (3) ubah  BPD menjadi PT. dan (d) ganti nama agar bisa menjadi bank nasional ataupun global. Hasilnya 3 cabang berdiri di Jakarta. Bank Nagari jadi Perantau Pelopor. BPD lain  berada di belakang.

Oleh sebab itu, tulisan ini saya niatkan untuk mendorong pembentukan Bank Syariah Nagari tapi tanpa menenggelamkan bBank Nagari konven. Dengan dua bank, ekonomi Sumbar akan lebih berkibar.

Mulailah dengan Konsep, Strategi dan Hitungan Bisnis

Uraian di atas tidak berarti bank tidak boleh diubah. Bank butuh perubahan. Kalau tidak, ia akan kalah bersaing. Tapi harus jelas konsepnya. Harus oleh ahlinya. Bank sentral pun butuh perubahan.

Saya 6 tahun lamanya menjabat Direktur Senior untuk Program Tranformasi Bank Indonesia. Kami di BI mengikuti ajaran Islam yang sohih itu karena tak ingin ada kehancuran. Isi Tim Transformasi BI itu, adalah para ahli. Sebut saja  Dr. Perry Warjiyo, (sekarang Gubernur BI), ada Dr. Wimboh Santoso (sekarang Ketua OJK), ada Dr. Muliaman Hadad (mantan Ketua OJK yang sekarang Duta Besar untuk Swis). Siapa yang meragukan keahlian mereka? Dan banyak lagi para ahli dalam Tim itu. Saya mungkin  bukan ahli tapi kebetulan atasan mereka.

Baca Juga:  Konversi Tidak Ada Hubungan dengan Penyertaan Modal

Dan perubahan bank itu harus dimulai dengan konsep yang jelas. Sangat naif bila berpikir mengelola trilunan uang rakyat badorai di Bank Nagari hanya dengan dalih karena ingin menerapkan ABS-SBK. Lalu bagaikan kapal ikan asing di Selat Karimamata, Bank Nagari ditenggelamkan dan munculah bank Syariah. Ondeh Mandeh!

Tuan-tuan, saya orang perbankan Syariah dan pernah jadi dosen S3 Perbankan Syariah UIN Imam Bondjol. Dan dosen tidak tetap di Perbankan Syariah UIN Medan. Jadi jangan pernah berpikir “mensekulerkan” saya. Ini kurenah murahan yang sering kita temui di komunitas Syariah pinggiran dalam memaksakan kehendak. Tulisan saya ini hanya karena rasa cinta yang mendalam. Karena saya paham persis ekonomi rakyat Sumbar itu masih butuh Bank Nagari konven dan, benar sekali,  ada peluang  untuk  membangun bank Syariah. Tapi jangan Tuan-Tuan mencari jalan pintas. Bangun Bank Nagari Syariah itu dari UUS.

Bagi kita yang masih mengaku orang Minangkabau, tolong inok-inokan pesan moyang kita  ini :“Elok diambiak jo etongan, buruak dibuang jo mufakat” Ajaran luhur ini yang kami gunakan ketika mengusulkan perubahan BPD jadi Bank Nagari tahun 1996. Grand opening di JICC tahun 1997.

Ada conceptual framework, strategi dan etongan.  Saya perentasikan kepada Direksi dan Komisaris serta para pejabat Bank Nagari terlebih dahulu. Ada perdebatan konsep dan strategi. Banyak masukan sangat berharga. Lalu Gubernur menyajikan rencana itu kepada para pemegang saham. Tak ada Tim yang berjalan malam. Tak ada kasak-kusuk. Lalu beliau datang ke Jakarta dan mengundang wakil perantau  untuk membahas konsep Bank Nagari di Kantor Menaker Abdul Latief. Saya diminta presentasikan konsep itu.

Bila konversi dipaksakan, ini bisa jadi bank Syariah “teraneh” di Asia Tenggara; Tanpa kajian yang matang yang dibahas dengan internal Bank Nagari dan para stakeholders, lalu dipaksakan dengan berbagai cara. Sebaiknya terapkan prinsip Elok diambiak jo etongan. Bukan dengan taktik kehumasan, kasak-kusuk, buzzer-buzzer siluman yang bersuara lantang menyerang sana-sini.

Bila tentang Rendang dan bisnis tangkelek, dibawa ke wibenar Minang Diaspora Global, melibatkan rantau, mengapa tentang konversi Bank Nagari manyuruak di daun salai? Kita sudah saksikan pemerintahan yang serba buzzer, serba taktik, tak diredhoi Allah SWT dengan berbagai cobaan dan deraan. Maukah Tuan-Tuan, Bank yang kita cintai ini bernasib seperti itu?

Malacuk-an Baluk Mati

Saya merasa bagaikan membanting-banting belut yang sudah mati. Karena sudah berulang kali saya kemukakan, nyaris tanpa pendengar. Sepi. Ada sejenis respons tapi nadanya dari Buzzer. Tapi demi kecintaan saya kepada Bank Nagari dan Sumbar dan memberikan Reminder kepada Tuan-Tuan, saya akan kemukakan lagi.

Pertama, saya sangat mendukung adanya Bank Syariah Nagari, tapi jangan bunuh Bank Nagari Konven. Ini sudah pernah saya nyatakan di depan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Nagari pertama kali saya bertugas sebagai Kepala BI di Padang. Awal Juli 2009. Menurut saya, tetap saja dengan kesepakatan pemegang saham pendahulu  yang didukung para perantau pada 12 Maret 1996. Bank Nagari konven ditarget menjadi bank nasional tapi tetap berperan sebagai motor pembangunan Sumbar. Bank Syariah Nagari berkibar di sampingnya.

Kedua, besarkan UUS dan dengan persiapan yang matang, lalu spin off menjadi Bank Syariah Nagari. Bila BSN memang berkembang bagus, bukan tak mungkin ia bisa mengakuisisi Bank Nagari Konven. Visi BSN harus disesuaikan dengan zamannya.

Nah kalau Tuan-Tuan memang bersungguh dengan perbankan Syariah, mari kita mulai dengan sebuah komitmen bersama. Kita bentuk Gerakan Deposito Syariah. Pastikan para pencinta perbankan Syariah  Ranah Minang memindahkan dana mereka dari bank konven ke UUS Bank Nagari. Saya jadi orang yang pertama. Jangan hanya berteriak. Lalu kita dorong UUS Bank Nagari masuk ke segmen pasar  Global dan Digital. Kembangkan Bank Syariah Nagari untuk merancah pasar nasional dan internasional. Negeri Sembilan sudah sejak lama mengundang Sumbar. Kapan lagi? Kemudian kerjasamakan dengan Lembaga Syariah Malaysia dan Timur Tengah. Masa Pandemi ini membuka peluang yang luar biasa. Berpikirlah yang hebat. Masak pemikiran Sumbar 2021 kalah dengan Sumbar 1990-an. Kalau 1990-an bank ini merantau ke Jakarta, jadi Sang Pelopor. harusnya 20 tahun kemudian, jangan dibikin bank ini pulang kampung. Bawa merantau ke negeri jiran, ke Arab Saudi dan lain-lain. Dan saatnya Sumbar jadi Sang Pelopor lagi. Kali ini  untuk Bank Syariah Digital.

Ketiga, mengingat BN Konven adalah milik Provinsi, Kabupaten dan Kota, jadikan BSN milik swasta Syariah dan BN punya penyertaan. Modal 1 triliun tidak akan jadi masalah bila melibatkan para perantau dan urang awak ahli keuangan internasional. Kalau hanya berpikiran dari Lubuak Minturun ke Simpang Gaduik, dari Baruang-naruang Balantai ke Baruah Gunuang, tantu sarik pitih, tapakok aka Tuan-Tuan. Tak mungkin bicara 1 Triliun. Ajaklah para perantau. Rangkullah urang awak yang berkiprah di dunia Syariah internasional. Duduak surang basampik-basampik. Duduak basamo balapang-lapang. Insya Allah.

Akhir kata: Elok ambiak jo etongan, buruak buang jo mufakat. Elok jo buruak Bank Nagari  ko, Nurani  Tuan-Tuan nan mangbarihkan. (***)