Pilkada Sumbar Menuju Pesta Demokrasi yang Sehat

45
ilustrasi. (net)

Dony Oskaria
CEO Hospitality & Entertainment CT Corp

Akhir pekan lalu, saya berbicara panjang lebar dengan wartawan Adrian Tuswandi dari Padang terkait pikiran saya tentang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Sumbar yang sudah memasuki tahapan krusial. Jelas kesempatan itu saya pergunakan sebaiknya dengan memberikan beberapa pandangan dan masukan saya sebagai orang Minang di perantauan. Adrian kemudian menuliskan wawancara itu dalam sebuah berita di media online yang ia kelola sendiri.

Pilkada 2020 merupakan sebuah bentuk dari pesta rakyat yang menempatkan mereka sebagai pemegang mutlak kekuasaan peralihan. Pilkada juga adalah ruang yang luas dan leluasa bagi rakyat untuk menentukan masa depan mereka sebagai pemilih dalam menentukan pemimpin yang tepat.

Khusus pilkada Sumbar, sebagaimana saya katakan dalam wawancara tersebut, saya mengenal keempat pasang calon kandidat yang dalam waktu dekat akan segera disahkan Komisi Pemilihan Umum Sumbar sebagai calon kepala daerah. Saya mengenal dengan baik Buya Mahyeldi Ansharullah, Sahabat Saya Ir Mulyadi, Senior Irjen Fakhrizal, serta tentu saja birokrat senior Pak Nasrul Abit. Begitu juga wakil wakil mereka, saya juga berteman baik dengan Ajo Ali Mukhni, Ajo Genius Umar, Tuan Indra Catri, serta Adinda Audy Joynaldi.

Tentu harapan saya sebagai perantau Minang sangat besar pada pilkada ini. Saya berharap banyak pada pilkada dimasa sulit ini, kita akan menyaksikan sebuah permainan politik yang berbobot dan mencerdaskan. Mereka, para kandidat itu harus menyajikan sebuah pertarungan ide dan gagasan bagaimana memajukan Sumbar guna mengejar lari dan kecepatan pembangunan daerah tetangga.

Peran ide dan gagasan inilah yang kita tunggu dari ke empat pasang kandidat untuk kemudian kita cerna dan telaah mana yang paling pas, rasional dan masuk diakal untuk diterapkan di Sumbar. Saya berharap banyak, para kandidat mampu membawa program-program yang bisa memberikan angin perubahan bagi masyarakat. Program, ide dan gagasan yang akan membuka mata masyarakat Sumbar tentang makna pemilihan secara langsung itu sendiri.

Bagi saya, sebuah kontestasi politik yang baik sejatinya tidak mengantarkan kita pada ritual politik lima tahunan belaka. Kita tidak boleh terjebak dalam rutinitas dan sirkulasi kepemimpinan yang tidak mendidik dan mencerdaskan. Alih alih mencerdaskan, kita juga tidak mau pesta demokrasi berubah menjadi ajang saling maki dan caci serta menebar fitnah antar sesama anak nagari Minangkabau.

Baca Juga:  Sejumlah Alumni UNP di Limapuluh Kota Dukung Mualim 

Masyarakat Minang adalah masyarakat yang tumbuh di ruang dialektika dan debat yang konstruktif, serta berkemajuan. Momentum pilkada juga harus demikian. Pilkada haruslah menjadi kesempatan bagi para kandidat untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik tanpa merendahkan rival politik mereka. Di sisi lain, masyarakat dapat belajar dari para kandidat yang tengah bertanding guna mengaktualisasikan diri sebagai pemimpin yang pantas untuk memenangkan sebuah kontestasi yang sehat dan bermartabat.

Kita menunggu munculnya ide-ide dan gagasan bernas dari para kandidat. Kita menantikan rangkaian program kerja dan tawaran kemajuan pembangunan yang mereka hantarkan ke tengah gelanggang agar dapat dinilai dan dijadikan pijakan dalam memilih di bilik suara kelak.

Sumbar dalam kacamata saya memiliki tantangan pembangunan yang harus segera dituntaskan. Tidak hanya pada sektor infrastruktur yang mendesak dibenahi, serta dibangun, namun juga pada sektor lain yang tak kalah penting yaitu pengembangan sumber daya manusia. Jangan pernah ragu dengan potensi yang ada. Persoalan ini tentulah harus segera dituntaskan dengan kerja keras dan tentu saja dibutuhkan skill yang mumpuni.

Oleh karena itu, saya mengajak semua masyarakat untuk menggunakan akal dan pikiran masing-masing. Masyarakat Minang baik yang berada di kampung halaman maupun yang di perantauan sangat berkeinginan Sumbar mampu mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih baik dari saat ini. Sebagai pelaku bisnis, saya juga mencatat beberapa peluang dan tantangan yang akan dihadapi pemerintah Sumbar di masa mendatang. Apalagi saat ini di tengah kelesuan ekonomi karena pandemi Covid-19 yang masih harus kita hadapi dalam jangka panjang.

Saya mengamini kalimat bahwa masyarakat yang cerdas akan melahirkan pemimpin berkualitas. Oleh karena itu, para kandidat harus mampu menampilkan diri sebagai calon yang layak dipilih karena ide dan gagasannya. Kita berharap dari pilkada di Sumbar baik pilkada Gubernur maupun kabupaten dan kota pemimpin akan lahir kepala daerah yang bekerja keras untuk rakyat, serta jujur, adil mengedepankan kepentingan masyarakat.
Kalah dan menang dalam pilkada adalah bagian dari kontestasi politik. Pada titik ujungnya, di saat akhir dari perhelatan pilkada, setiap orang kembali bersatu tanpa lagi terdapat warna perbedaan yang terjadi di saat pesta demokrasi berjalan. (*)