Pahitnya Harga Gambir Sumbar

49
Indra Dwipa Dekan Pertanian Unand

SUMATERA Barat (Sumbar), negeri yang dikenal elok akan keindahan alammya tidak hanya dikenal sebagai lumbung padi di Sumatera, tetapi juga menyimpan potensi plasma nutfhah flora yang luar biasa.

Letak geografis strategis yang dilalui khatulistiwa dan bentang alam yang lengkap membuat ranah Minang yang kita cintai ini memiliki segudang tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Tidak hanya sebagai sumber energi untuk hidup, daerah kita ini juga menyediakan tanaman-tanaman obat-obatan yang melimpah dan bahkan ada suatu tanaman yang dicari oleh dunia karena kandungan yang dimilikinya dan 80% kebutuhan dunia tersebut berasal dari Sumbar.

Yaitu gambir. Tanaman spesifik Sumbar ini hanya tumbuh dan berkembang baik di dua tempat yaitu Kabupaten Limapuluh Kota dan Pesisir Selatan. Gambir dari di Limapuluh Kota mendominasi produksi gambir dari Sumbar.

Negara tujuan ekspor gambir kita meliputi India, Jepang, Pakistan, Filipina, Bangladesh, serta Malaysia. Permintaan gambir dari India sebagai negara tujuan utama ekspor gambir juga terus meningkat hingga mencapai 13-14 ribu ton per tahun.

Gambir merupakan tanaman perdu yang mengandung segudang manfaat bagi kesehatan. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Yaitu dari ekstrak (getah) daun dan ranting yang mengandung metabolit sekunder berupa katechin, asam katechu tannat (tanin), pyrocatecol, florisin, lilin dan fixed oil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan utama gambir adalah katechin (7-33%), tanin (20-50%) dan pyrocatechol (20-30%).

Kandungan gambir yang paling banyak dimanfaatkan adalah katechin dan tanin. Sebelum teknologi saat ini menemukan kandungan kimia dari tanaman gambir, ekstrak tanaman ini secara tradisional sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sejak dulu seperti makan sirih dan pengobatan.

Di Malaysia dan beberapa daerah di Indonesia, ekstrak gambir digunakan sebagai obat diare dan obat kumur bagi penderita sakit kerongkongan. Setelah pesatnya kemajuan teknologi khususnya dalam industri farmasi, manfaat dari ekstrak tanaman gambir ini semakin bertambah seperti bahan baku obat sakit perut dan sakit gigi, penyembuhan gangguang pembuluh darah, perangsang sistem syaraf otonom, obat tukak lambung, anti mikroba, bahan tosisitas terhadap organ hati, ginjal dan jantung.

Selain sebagai obat-obatan, tanaman gambir juga digunakan sebagai bahan baku dalam industri tekstil. Yaitu sebagai bahan pewarna yang tahan terhadap cahaya matahari. Dan untuk bahan kerajinan, tanin dimanfaatkan sebagai penyamak kulit untuk dijadikan tas, ikat pinggang dan dompet yang berkualitas tinggi.

Tidak hanya sampai disini, gambir juga dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik, yaitu sebagai bahan baku untuk menghasilkan astrigen dan lotion yang mampu melembutkan kulit dan menambah kelenturan dan daya tegang kulit.

Segudang manfaat dari tanaman gambir ini menjadikan tanaman ini menjadi incaran seluruh dunia. Namun, walaupun tanaman ini bernilai tinggi dan kita khususnya Sumbar menguasai hampir seluruh pasar gambir dunia, saat kita belum mampu berdaulat atas harga gambir. Kondisi ini membuat harga jual gambir menjadi pahit bagi petani kita di Sumatera Barat.

Pahitnya harga gambir di Sumbar tidak muncul begitu saja. Ada banyak problematika yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun yang menjadi sebuah ironi bagi tanaman yang bernilai ekonomi tinggi ini. Saat ini, harga gambir ditingkat petani berkisar antara Rp 45.000-Rp49.000 per kg.

Berdasarkan keluhan dari petani gambir di Limapuluh Kota, harga ini tidak sebanding dengan pengeluaran yang mereka lakukan selama proses menghasilkan ekstrak hingga proses kempa dan bahan padatan hasil kempa inilah yang dijual oleh petani. Menurut keterangan dari petani, penghasilan bersih rata-rata petani gambir di Limapuluh Kota sebesar Rp 2.000.000 per bulan.

Umumnya, pembeli hasil padatan gambir di Limapuluh Kota adalah tengkulak. Inilah yang sebenarnya menjadi permasalahan utama dalam pahitnya harga gambir ini. Karena mereka mengendalikan harga jual dari petani. Selain itu, toke dalam bahasa kita ini membuat standar sendiri dalam memilih gambir hasil kempa yang mereka inginkan.

Saat ini, umumnya petani mencampurkan pupuk saat proses kempa karena para toke akan memilih hasil kempa yang dicampurkan dengan pupuk. Hal ini disebabkan karena hasil kempa yang dicampur dengan pupuk, massanya akan bertambah. Penambahan pupuk dengan ekstrak gambir pada proses pengempaan ini membuat petani mengeluarkan biaya tambahan dalam proses produksi.

Baca Juga:  Kanjuruhan Mangindaan

Dan saat ini petani menjerit akibat harga pupuk semakin mahal karena tidak diiringi dengan kenaikan harga jual gambir. Umumnya petani menggunakan pupuk SP-36 untuk dicampurkan pada saat pengempaan. Saat ini harga pupuk SP-36 non-subsidi Rp 650.000 per karung (50 kg). Kondisi ini menyebabkan harga jual gambir semakin pahit bagi petani.

Harga yang pahit bagi petani ini berbanding terbalik dengan apa yang diperoleh toke hingga pedagang pengumpul besar. Umumnya, hasil gambir dari Limapuluh Kota akan dibawa ke Medan kemudian dibawa ke Singapura atau ke India.

Pada rantai proses di sini lah kita melihat adanya dark side yang harus segera kita amputasi karena pedagang besar di India ini mendapatkan keuntungan yang fantastis dari penjualan gambir mereka ke negara tujuan.

Di Eropa, 1 kg gambir dihargai US$ 325 atau setara dengan Rp 4.875.000,- (Kurs US$ 1 = Rp 15.000). Dan miris lah lagi, negara Eropa mengimpor gambir dari India, negara yang membeli gambir dari petani kita.

Kita bisa bayangkan berapa fantastisnya keuntungan yang didapatkan oleh pedagang dari India yang notabene kebutuhan gambir mereka bergantung dari kita, Sumbar. Dari India inilah, gambir asal ranah Minang ini di ekspor kembali ke negara-negara tujuan seperti Perancis dan Swiss di Eropa, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan.

Di sini kita melihat betapa lemahnya posisi kita dalam perdagangan gambir ini. Negara lain membeli gambir kita dengan harga yang murah. Dengan sedikit perlakuan, mereka bisa menjual kembali ke negara tujuan akhir dengan harga 100 kali lipat dibandingkan dengan harga jula petani.

Perbedaan gap yang cukup besar ini sangat disayangkan karena jika kita berani saja menyetop saja suplai gambir kita, saya yakin dunia akan panik akibat langkanya pasokan gambir untuk mereka. Namun, sekali lagi strategi licik pedagang besar dan mental kompeni para pencari keuntungan membuat petani tak berdaya.

Dalam hal seperti ini, peran pemerintah khususnya pemerintah Sumbar untuk mengatasi problematika yang sudah terjadi sejak lama ini. Jika kita bisa berhubungan langsung dengan negara tujuan akhir konsumen gambir kita, mengapa tidak? Selain bisa meningkatkan kesejahteraan petani gambir kita, juga tentu akan meningkatkan pendapatan daerah kita.

Problematika lain yang dihadapi dalam budidaya gambir di Sumbar adalah aspek hulu gambir itu sendiri. Yaitu varietas gambir yang ditanam sudah tidak murni lagi. Saat ini, umumnya dalam satu lahan gambir di Sumbar terdapat beberapa varietas gambir yang berbeda. Pengembangan tanaman gambir belum berasal dari tanaman terseleksi menyebabkan produksi dan mutunya rendah.

Problematika-problematika gambir Sumbar ini harus dicarikan solusinya agar kita sebagai daerah yang mendominasi pasar gambir dunia bisa berdaulat atas apa yang kita hasilkan sendiri. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan agar kita bisa memegang kendali gambir kita.

Pertama, dimulai dari aspek hulu gambir dengan seleksi dan penggunaan varietas gambir unggul. Ada tiga varietas gambir unggul yaitu Udang, Cubadak dan Riau. Ketiga gambir ini bisa dibudidayakan secara luas oleh petani kita untuk meningkatkan kualitas gambir mereka.

Kedua, perkebunan gambir berbasis industri di daerah sentra gambir seperti Limapuluh Kota dan Pesisir Selatan. Langkah kedua ini merupakan jawaban atas permasalahan utama yang dihadapi petani. Dengan adanya industri yang dekat dengan sentra gambir, maka rantai panjang proses pemasaran gambir bisa dipotong sehingga bisa meningkatkan harga jual gambir petani.

Ketiga, peningkatan SDM petani dengan pembekalan-pembekalan budidaya gambir dari hulu ke hilir sehingga petani paham dan mengerti dalam budidaya gambir hingga pemasaran gambir. Peningkatan SDM petani ini bisa meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya gambir mereka sehingga mereka bisa tidak mudah dimanfaatkan oleh orang yang ingin mencari keuntungan.

Semoga dengan terlaksananya strategi-strategi dalam mengatasi permasalahan gambir Sumatera Barat ini bisa membuat harga gambir Sumbar menjadi manis dan petani tersenyum manis. (*)