Pilgub dan Kolaborasi Pembangunan  

116
ilustrasi. (IST)

Arifki Chaniago
Pengamat Politik

Kepala daerah dan wakil kepala daerah di Sumatera Barat menghadapi dua kendala membangun daerah. Pertama, mereka tidak tahu dengan apa yang mereka kerjakan jika nanti terpilih sebagai kepala daerah. Kedua, tidak paham pembagian fungsi dan peran kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Wajar hubungan baik kepala daerah dengan wakil kepala daerah hanya sampai hari pemilihan. Setelah itu terjadi konflik sampai lima tahun ke depan. Perebutan posisi kepala dinas. Kepala daerah dan wakil kepala daerah lebih fokus berkompetisi untuk menang pada pilkada lima tahun lagi dibandingkan menjalankan jabatan sebaik-baiknya.

Dari sekarang sudah seharusnya, masyarakat melihat calon kepala daerah dan wakil kepala daerah (pasangan) yang maju dalam pemilihan gubernur/bupati atau pun wali kota. Apakah pasangan tersebut mampu berkolaborasi jika nanti mendapatkan amanah dari masyarakat?. Kita sebagai masyarakat wajar dan harus khawatir dengan persoalan ini.

Kita akan bertemu calon kepala daerah yang berjanji lima tahun ke depan untuk mengerjakan ini dan itu. Berjanji kepada pasangan politik untuk menuntaskan jabatan sampai selesai tanpa terjebak dengan kepentingan sesaat dengan melupakan makna perjuangan pada masa kampanye.

Dynamic Duo 
Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah dynamic duo dalam politik. Mereka saling memahami fungsi dan peran masing-masing. Gubernur tahu dengan potensi yang dimilikinya, sedangkan wakil gubernur paham dengan perannya.

Fenomena tumpang tindih jabatan politik antara gubernur dan wakil gubernur diberbagai daerah. Kepala daerah tersebut tidak berhasil jadi dynamic duo membangun daerahnya. Selain masyarakat disibukkan dengan dinamika elite yang berkepanjangan. Pembangunan yang terbengkalai sebagai efek dari perselisihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Kita harus belajar dengan pendiri Microsoft, Bill Gates dengan Paul Allen. Gates yang populer sebagai orang yang paling identik dengan Microsoft, tetapi jarang yang melihat Allen. Kedua tokoh ini padahal teman berdebat sebelum menentukan produk unggulan Microsoft. Kebesaran Miscrosoft tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan Allen. Gates yang lebih sering tampil ke publik sedangkan Allen berada di belakang layar.

Dalam politik, dynamic duo Soekarno-Hatta era pergerakan nasional menarik untuk dicontoh. Soekarno sebagai orator ulung punya kemampuan memikat hati publik (masyarakat), sedangkan Hatta administrator yang menata tatanan kenegaraan dengan hati-hati. Perpaduan Soekarno-Hatta sebagai Dwi Tunggal adalah dynamic duo pertama yang dimiliki Indonesia.

Pasca-reformasi kita mengenal SBY-JK. JK yang dikenal sebagai politisi yang cepat dan gesit. Dipercaya dalam menjalankan “roda ekonomi”. SBY cenderung jadi “rem” terhadap kecepatan JK. Makanya, dalam urusan kenegaraan SBY lebih banyak berurusan terhadap politik, hukum, keamanan, dan luar negeri.

Baca Juga:  Optimislah

Dyanamic Duo yang dijalankan oleh Gates-Allen, Sukarno-Hatta, dan SBY-JK tidak bertahan lama. Pembelajaran penting yang diambil adalah “kolaborasi” yang mereka lakukan untuk sesuatu yang besar, bukan perbedaan pilihan politik atau pun kepentingan setelah keberhasilan tercapai. Gates-Allen yang berselisih paham setelah tidak adilnya pembagian saham Microsoft, begitu juga hubungan Soekarno-Hatta yang rusak; setelah Soekarno mendeklarasikan demokrasi terpimpin.

SBY-JK yang tidak lagi maju bersama pada periode kedua (2009). JK maju dengan Wiranto dan SBY maju dengan Boediono. Kemenangan SBY-Boediono memperlihatkan kalau kedua tokoh ini bukan lah Dynamic Duo. Kerja kolaborasi SBY-JK periode pertama (2004-2009) lebih diingat publik dibandingkan SBY-JK (2009-2014).

Apakah dynamic duo ini  bisa terwujud di 13 Kabupaten/Kota dan provinsi Sumatera Barat?, yang akan memilih pemimpinnya pada 09 Desember 2020. Dari pasangan calon yang maju sebagai kepala daerah. Siapakah kepala daerah yang dikategorikan “dynamic duo”?. Kalau kita ulas satu-satu sulit  di tulisan ini sulit karena jumlahnya yang begitu banyak.

Namun, kita bisa melihat secara keseluruhan dengan melihat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat: Mulyadi-Ali Mukhni, Nasrul Abit-Indra Catri, Fakhrizal- Genius Umar, dan Mahyeldi-Audy. Dari empat pasangan calon ini, siapakah yang dynamic duo. Ketika terpilih nanti diasumsikan mampu berkolaborasi untuk membangun Sumatera Barat.

Kolaborasi personal, peran, dan fungsi sebagai catatan untuk calon gubernur dan wakil gubernur. Pasangan yang memahami kebutuhan; persoalan; dan solusi. Pemimpin yang menyadari kalau Sumatera Barat tidak mungkin bergantung dengan APBD untuk melangsungkan pembangunan. Akses pusat, jaringan, dan lainnya tantangan yang akan dihadapi oleh gubernur terpilih nanti.

Pergerakan ekonomi di Sumatera Barat perlu didukung oleh infrastruktur jalan, bangunan, dan pasar. UMKM yang dikembangkan oleh masyarakat tidak perlu jauh-jauh mencari pasarnya, jika infrastruktur pariwisata dengan wisatawan berdatangan. Pilihan tempat tinggal di penginapan yang dimiliki oleh warga setempat, restoran, dan pelayanan lainnya juga mendapatkan dampaknya. Peluang kerja juga lebih banyak terbuka dengan adanya pergerakan ekonomi yang tidak bergerak sendirian.

Pembagian peran dan fungsi ingin dilihat oleh masyarakat Sumatera Barat kalau pemimpin mereka mampu untuk berkolaborasi. Gubernur berkeliling ke pusat dan luar negeri mencari peluang, anggaran,  investor, dan wisatawan. Sedangkan wakil gubernur  mengesekusinya  dengan  kearifan lokal.

Ini adalah salah satu contoh kolaborasi yang mungkin saja ada dari empat calon gubernur dan wakil gubernur. Harapannya tentu kita memilih pemimpin yang paham dengan persoalan ini; agar gagasan, program, dan masa depan alasan kita pemilih pemimpin. (*)