Efisiensi ke Sekolah

24
Elfindri Direktur SDGs Center Unand

Distribusi sekolah untuk jenjang TK dan SD mungkin tidak masalah. Mengingat ketersediaan masih dalam jangkauan jalan kaki. Tahun 2020, data distribusi sekolah memang menunjukan hampir semua provinsi memiliki sekolah SD di bawah jangkauan 2 km jalan kaki.

TK tidak semua tersedia lokasi. Semakin tinggi jenjang sekolah semakin berkurang proporsi jangkauan RT yang akses di bawah 2 km. Kecuali, untuk daerah tertentu dan terpencil. Sehingga, masalah transportasi untuk mencapainya tidak terlalu penting.

Namun ketika masuk ke jenjang SMP dan SMA persoalan berubah. Sekolah yang relatif baik mutunya berada pada wilayah yang padat penduduk dan memiliki keterbatasan kapasitas.

Sekolah favorit juga memiliki guru yang mutunya terkonsentrasi pada sekolah yang biasanya memang telah lebih baik mutunya. Sehingga, kenyataan yang banyak ditemukan adalah keberadaan sekolah memerlukan tambahan biaya bagi siswa untuk mencapainya.

Dulu, terbiasa siswa menempuh sekolah lewat jalan kaki. Sehingga, terpenuhi unsur olahraga dan efisiensi dari biaya transportasi. Energi memang dipenuhi lewat konsumsi karbohidrat supaya bisa mencapai sekolah dengan jalan kaki.

Sekarang karena adanya scooter, maka menuju sekolah dengan membawa kendaraan. Pengeluaran untuk beli bensin menjadi persoalan tersendiri selain cicilan kredit sepeda motor. Di Indonesia kendatipun wilayah mudah dengan sepeda, kebiasaan untuk menggunakan sepeda masih sangat kurang.

Padahal, pergi ke sekolah dengan sepeda akan membuat jangkauan sekolah yang relatif jauh masih mungkin. Sekaligus kinetik anak akan relatif baik. Sepeda motor tidak memperbaiki kinetik anak dan berbiaya dibanding menggunakan sepeda menuju sekolah. Sehingga, akibatnya pengeluaran sekolah bertambah justru untuk penuhi transportasi dan ini membuat pengeluaran untuk beli buku menjadi berkurang bahkan sangat rendah.

Baca Juga:  Pembangunan Infrastruktur Penggerak Ekonomi

Awal Kedisiplinan

Di desa dan kota kita saksikan siswa membawa sepeda motor atau mereka diantar orangtua. Tidak jarang kita lihat siswa tergesa-gesa. Dan, sering kita lihat siswa berboncengan tiga tanpa menggunakan helm. Kendatipun polisi ada tetapi jarang mereka itu distop oleh polisi.

Kedisiplinan mulai dilanggar selain mereka tidak punya surat izin mengendara (SIM) kebiasaan terburu-buru, ini terbiasa dan menjadi darah daging. Dampak penggunaan sepeda motor jelas telah mengurangi biaya membeli buku akibat perlu membeli bensin, sekaligus juga mengurangi kedisiplinan.

Belanda adalah kota di mana penduduk paling banyak pakai sepeda. Sekitar 15 persen menggunaan sarana transportasi sekolah dan kerja. Inilah sekelumit fenomena riil di lapangan. Kita sibuk membuat berbagai macam perubahan kurikulum. Persoalan mendasar seperti ”how to reach schooling” saja masih perlu banyak pembenahan.

Alternatif penyediaan sekolah model boarding diperlukan. Jika di negara maju persoalan transportasi diatasi dengan penyediaan bus sekolah, kedisiplinan akan muncul lewat skedul yang pas antar-jemput. Anak anak standby di tempat yang sudah ditetapkan. Kita masih banyak ruang kedisiplinan dan efisiensi dalam pendidikan. Walau sulit mengubah perilaku kebodohan ini.

Akhirnya, saya berpikir panjang bagaimana anak-anak generasi mendatang yang pasrah dengan kualitas sekolah yang terbatas apalagi mereka juga tidak dididik dengan kedisiplinan dan perjuangan. Setidaknya, naik sepeda pada daerah datar menjadi solusi untuk tingkatkan perjuangan masa depan. (*)