Cuaca dan Masa Depan Covid-19

Penyebaran Covid-19 belum terhentikan dan masih menghantui negara-negara di dunia. Hampir tidak ada negara yang tidak dikenai virus ini. Berawal dengan nama pneumonia (radang paru-paru) Wuhan yang dilaporkan ke WHO pada 31/12/2019, kasus ini terus tumbuh dan membesar, hingga akhirnya pada 11 Februari 2020 resmi diberi nama Covid-19.

Penyakit ini seakan tidak terbendung dan terus menyebar dan mencapai kategori pandemi pada Rabu (11/3/2020). Alih-alih berkurang, kasus Covid-19 justru semakin melonjak di Eropa dan Amerika Serikat.

Covid-19 telah menjadi sebagai salah satu wabah yang merajalela di tingkat dunia setelah virus ebola, flu babi, sindrom pernafasan akut (SARS), flu spanyol dan kolera.

Hingga Sabtu (18/4) sekitar 213 negara telah mencatat penyakit ini dengan total kematian hampir 140 juta jiwa.

Kapan Covid-19 Berakhir?

Tidak ada yang bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir. Agak sulit melihat masa depan Covid-19 karena banyaknya variabel yang belum betul-betul dipahami. Pendugaan bisa saja dilakukan dengan menggunakan pemodelan matematis.

Namun, Covid-19 sangat erat hubungannya dengan perilaku manusia dan hal itu sangat sulit dimodelkan oleh model epidemiologis. Proyeksi dari model selalu mengalami perubahan karena berubahnya perilaku manusia.

Pendekatan statistik dengan membuat proyeksi dari tren saat ini merupakan salah satu cara untuk menduga pergerakan Covid-19. Ketidaktersediaan data yang betul-betul ideal juga menyulitkan dalam mengembangkan sebuah proyeksi yang akurat. Berbagai proyeksi dibuat dengan mengasumsikan beberapa skenario.

Tidak ada yang bisa memastikan proyeksi mana yang betul tetapi setidaknya hal itu sangat membantu otoritas berwenang dalam merumuskan kebijakan, model mengabari mereka bahwa hal buruk bisa saja terjadi.

Banyaknya prakiraan terkait dengan Covid-19 dengan informasi yang berbeda-beda bisa membingungkan masyarakat, terutama yang awam tentang penyakit ini. Kesimpangsiuran prakiraan ini mungkin bisa dikurangi dengan mengambil pelajaran dari prakiraan cuaca.

Awalnya, prakiraan cuaca juga memiliki tingkat akurasi yang rendah. Namun, seiring bertambahnya jumlah titik pengamatan dan adanya lembaga resmi yang menangani prakiraan ini sehingga pengembangan model prakiraan terpusat, maka akurasi prakiraan cuaca menjadi lebih baik.

Bahkan, hari ini model cuaca sudah bisa memperkirakan arah pergerakan badai dengan baik di mana hal ini dipandang sangat sulit dahulunya. Jadi, pembentukan sebuah lembaga resmi yang menangani pemodelan penyakit menular seperti Covid-19 ini, kemungkinan dapat menghasilkan model yang lebih baik.

Dari lembaga ini proyeksi wabah ini bisa dikeluarkan, sebagaimana hanya BMKG yang diberi hak untuk mengeluarkan prakiraan cuaca ke publik.

Coba kita bayangkan jika banyak otoritas yang bisa bicara di media terkait dengan prakiraan cuaca. Ngerinya lagi, jika yang bicara itu bukan ahlinya.

Sentralisasi pemodelan penyakit menular bukan berarti mematikan kebebasan akademik, karena pusat ramalan bisa melibatkan universitas dan institusi lain.

Selain itu, riset-riset yang berkaitan peramalan di luar lembaga ini tetap dapat dilakukan sebagaimana halnya berkaitan dengan prakiraan cuaca, tetapi penyampaian ke publik dilakukan oleh satu lembaga sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Cuaca dan Akhir Covid-19

Masih belum tampaknya akhir dari Covid-19, menimbulkan beberapa spekulasi. Pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi soal cuaca panas membunuh virus corona menuai tanda tanya.

Sebetulnya dia tidak sendirian, Presiden AS juga melontarkan hal yang hampir sama jauh sebelum itu. Sepintas apa yang disampaikan ada benarnya. Badai flu biasanya memang terjadi pada musim dingin. Setidaknya ada tiga alasan penyebabnya.

Pertama, virus lebih stabil pada musim dingin, saat udara kering degan kandungan UV yang rendah.

Kedua, pada cuaca dingin, orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan sehingga potensi mereka berkerumun lebih tinggi.

Ketiga, imun kita bisa lebih lemah selama musim dingin akibat kekurangan vitamin D disebabkan berkurangnya sinar matahari. Jadi, secara teori demikian, apakah hal itu akan berlaku untuk Covid-19?

Entahlah! Hingga hari ini hasil penelitian terkait pengaruh cuaca terhadap penyebaran Covid-19 masih beragam. Hasil penelitian terkait kasus Covid-19 di China memperlihatkan bahwa untuk kenaikan temperatur 1°C, jumlah kasus korona virus menurun 36% – 57% untuk kelembaban 67%-85.5%.

Selain itu, untuk setiap kenaikan kelembaban 1% jumlah kasus menurun sekitar 11%-22% ketika temperatur rata-rata sekitar 5°C-8.2°C. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh peneliti dari Universitas Fudan yang diterbitkan pada jurnal medRxiv (30/3/2020).

Hasil ini dikuatkan oleh Dr Jingyuan Wang dari Universitas Beihang dalam tulisannya di jurnal SSRN. Dia menemukan kenaikan temperatur dan kelembaban bisa memperlambat penyebaran walaupun tingkat penularan masih tinggi dalam kondisi ini.

Pengaruh cuaca terhadap Covid-19 untuk cakupan wilayah yang lebih luas diteliti oleh tim dari Universitas Milan (medRxiv 31 Maret 2020). Mereka menguji 123 negara dan mendapati hasil yang mendukung temuan sebelumnya.

Kesimpulan berbeda didapatkan oleh beberapa peneliti lain. National Academy of Sciences, Engineering, and Medicine dalam laporannya (7/4/2020) mengingatkan perlunya kehati-hatian ketika menafsirkan hasil penelitian yang mengatakan adanya hubungan antara cuaca dan Covid-19 Hal ini berkaitan dengan kualitas data yang digunakan, terutama jumlah dan periode data yang sangat terbatas.

Walaupun banyak peneliti yang memperlihatkan adanya hubungan cuaca dengan penyebaran virus korona di Cina, tetapi terdapat juga hasil yang berlawanan.

Hasil penelitian yang diterbitkan jurnal medRxiv (02/2020) melaporkan bahwa perubahan cuaca saja tidak akan serta merta menyebabkan penurunan jumlah kasus Covid-19 tanpa adanya intervensi kesehatan masyarakat yang luas.

Pengujian dilakukan dengan membandingkan perubahan cuaca antar provinsi di China dengan jumlah kasus di propinsi tersebut. Untuk skala yang lebih luas, tim peneliti Universitas Oxford sebagaimana yang diterbitkan jurnal medRxiv (31/3/2020) menganalisa data 310 daerah dari 116 negara dan menemukan hubungan yang berkebalikan antara temperatur dan kelembaban dengan kemunculan virus korona.

Nah, terkait pengaruh cuaca ini masih belum ada satu kesimpulan. Anda pilih yang mana? Jika kita coba kompromikan hasil penelitian yang ada, penyebaran Covid-19 dipengaruhi oleh banyak faktor dan salah satunya adalah cuaca terutama temperatur dan kelembaban.

Namun, selain faktor geografi tersebut, masih banyak faktor lain seperti kualitas dan tingkat akses fasilitas kesehatan, kepadatan penduduk, pola perilaku masyarakat, intervensi pemerintah, dan lain sebagainya.

Namun, apa yang belum ada saat ini adalah seberapa besar kontribusi dari masing-masing faktor ini dalam penyebaran Covid-19. Kebanyakan penelitian yang ada menguji beberapa faktor dan mengabaikan faktor lain sehingga tidak didapatkan tingkat peran yang adil bagi semua faktor.

Kita tentunya berharap bahwa cuaca memberikan kontribusi terhadap penurunan penularan Covid-19, namun kita tidak bisa menaruh harapan besar pada hal itu. Covid-19 saat ini telah menyebar hampir di seluruh belahan dunia dengan aneka ragam temperatur.

Andaikan Covid-19 memperlihatkan pola musiman sebagaimana flu lain akibat faktor cuaca, tetapi cuaca di daerah kita terutama temperatur dan kelembaban hampir tidak bervariasi secara signifikan sepanjang tahun.

Peneliti dari Universitas Maryland sebagaimana diterbitkan jurnal SSRN (9/3/2020) menemukan rata-rata temperatur 5-11°C merupakan temperatur yang paling kondusif untuk penyebaran virus korona, dengan kelembaban relatif 47-79%.

Daerah yang diteliti adalah kawasan lintang menengah (30-50° lintang utara). Anggaplah ini benar dan berlaku untuk semua lintang, saat ini dimana sebagain wilayah kita sedang musim hujan, temperatur rata-rata udara kita masih berada di atas temperatur tersebut, tetapi kita mengalami tingkat penyebaran virus corona sangat tinggi.

Selain itu, intensitas sinar matahari yang dikaitkan dengan imunitas, juga tidak bervariasi secara signifikan sepanjang tahun. Jadi, bulan-bulan kering dengan curah hujan yang lebih rendah di Sumbar, yang akan masuk pada bulan Juni, janganlah menjadi tumpuan kita dalam mengatasi penyebaran Covid-19.

Cuaca yang lebih hangat mungkin saja memperlambat penyebaran Covid-19, tetapi yang pasti tidak akan menghentikannya. Kita tetap harus serius melaksanakan physical distancing dan usaha lainnya untuk menekan penyebaran virus ini. (*)

*Dr Techn Marzuki – Dosen Fisika Atmosfir, Jurusan Fisika FMIPA/Wakil Dekan 1 FMIPA Universitas Andalas