Refleksi Hari Bumi di Tengah Pandemi

Setiap 22 April dunia memperingati Hari Bumi. Hari Bumi adalah acara tahunan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap Bumi, terutama  meningkatkan kesadaran publik akan lingkungan. Peringatan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lantaran terjadinya bencana pandemi Covid-19 di seantero penjuru bumi. Wabah virus corona atau Covid-19 terus merajalela sejak ditetapkan sebagai pandemik oleh WHO pada Rabu (11/3). Jumlah pasien dan korban kian hari kian meningkat.

Di tengah duka dan ancaman yang menimpa penghuninya, nasib bumi di tengah masa pandemi justru menunjukkan perbaikan. Beberapa perbaikan yang menggembirakan tersebut antara lain perbaikan kualitas udara, penurunan volume sampah, penurunan penggunaan energi, dan lainnya. Bagaimanapun Covid-19 harus dibasmi, tetapi perilaku yang minim menimbulkan kerusakan bumi penting dilestarikan. Pasca-pandemi Covid-19 mitigasi ekologi akan kembali menjadi salah satu tantangan besar dunia.

Sejarah dan Hikmah

Hari Bumi pertama kali dicanangkan oleh pengajar lingkungan Amerika Serikat Gaylord Nelson pada 1970. Seiring berjalannya waktu, Hari Bumi mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) dan berkontribusi pada pengesahan UU Udara Bersih, UU Peningkatan Kualitas Air, UU Spesies Terancam Punah dan beberapa undang-undang lingkungan lainnya.

Live Science (2017) merilis Nelson tergerak pada lingkungan setelah melihat daerah sekitarnya rusak karena tumpahan minyak besar-besaran pada 1969 di Santa Barbara, California. Dia kemudian berinisiatif untuk menjadi pengajar dan mendidik masyarakat sekitar tentang lingkungan. Nelson dan timnya berhasil mengerahkan sekitar 20 juta orang di seluruh AS pada 20 April 1970 untuk mengadakan protes, serta berdiskusi di tempat umum untuk membahas soal lingkungan dan cara mempertahankan planet. PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret saat dimana matahari tepat di atas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day”.

Hari Bumi penting untuk mengingatkan manusia akan ancaman nyata yang sedang dihadapi planet ini dan memikirkan bagaimana untuk melindunginya. Berpikir tentang sejarah aktivisme lingkungan dan cara individu bekerja sama untuk mengubah kebijakan akan membuat kita lebih optimis dan mampu mewujudkan perubahan positif di masa depan. Pandemi Covid-19 memberikan banyak hikmah bagi bumi. Hal ini dikarenakan implikasi pandemic yang menurunkan bahkan menghentikan aktifitas manusia di luar rumah. Selama pandemi bekerja dan belajar dilakukan di rumah, selain itu aktifitas di luar rumah juga dibatasi oleh kebijakan pemerintah. Gambar satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan berkurangnya tingkat nitrogen dioksida, produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil yang menyebabkan masalah pernapasan. Pemandangan itu tampak di seluruh kota besar di benua itu. Selain itu Amerika Serikat dan Asia termasuk Indonesia juga demikian.Volume sampah juga menurun selama masa Pandemi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta mencatat terjadinya pengurangan tonase sampah dari Jakarta menuju TPS Bantargebang rata-rata 620 ton per hari saat pandemi. Pandemi juga menurunkan penggunaan energy khususnya listrik. PLN melaporkan penurunan penggunaan listrik di Pulau Jawa hingga 9,55%. Di sistem kelistrikan Sumatera konsumsi listrik turun 2,08%. Selanjutnya, sistem Khatulistiwa (Kalimantan Barat) turun 3,97% dan sistem Sulawesi Bagian Selatan, konsumsi listrik turun 3,16%.

Mitigasi Pasca-Pandemi

Tantangan  pasca-pandemi adalah bagaimana agar mitigasi perbaikan ekologi bumi terus berlangsung. Nathaniel Weston, profesor ilmu lingkungan dari Universitas Villanova menyatakan ada dua cara sederhana yang bisa kita lakukan dalam memperbaiki kualitas bumi. Pertama, mengajak orang lain untuk lebih memahami masalah lingkungan. Hal ini akan membuat lebih banyak orang sadar dan diharapkan mau ikut melakukan tindakan nyata untuk melindungi lingkungan. Kedua, berkomitmen pada diri sendiri untuk “melayani” Bumi. Hal ini bisa dilakukan dengan tindakan sederhana seperti menanam pohon, membersihkan sungai, mematikan peralatan elektronik saat tidak butuh, menggunakan produk perawatan dari bahan alami, mematikan lampu saat siang hari untuk menghemat energi, dan mulai kurangi sampah plastik.

Kebijakan pemerintah dan sinergi lintas pihak dibuutuhkan guna tetap menjaga kualitas udara, mengelola sampah, menekan penggunaan energi dan lainnya. Perbaikan kualitas udara dapat dilakukan dengan menejakn laju penggunaan kendaraan dengan meningkatkan kualitas transportasi umum dan pembatasan transportasi pribadi. Selanjutnya pemenuhan ruang terbuka hijau (RTH) minimal 30 persen dari laus wilayah harus dijamin realisasinya. Pengelolaan sampah terpadu dapat dilakukan dengan menekan penggunaan bahan plastik, kampanye pemilahan sejak di level rumah tangga, pengelolaan sampah di TPA untuk energi dan lainnya. Penggunaan energi dapat ditekan dengan gerakan hemat listrik, pengembangan energi ramah lingkungan dan lainnya. Komitmen pemimpin diperlukan  kaitannya dengan perbaikan kualitas ekologi. Kepemimpinan bervisi hijau merupakan kata kunci mengantisipasi kerusakan bumi. Pembangunan berkelanjutan mesti terjamin dengan ditandai keminiman kejadian bencana dengan segala dampak dan korbannya. Kualitas lingkungan merupakan kunci utama mewujudkannya. (*)

*Ribut Lupiyanto – Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)