Pilgub dan Mitos Politik

Oleh : Two Efly

Ini mitos. Boleh dipercaya dan boleh juga tidak. Tak ada satupun dalil yang mewajibkan kita untuk percaya dengan mitos ini. Agama kita pun mengajarkan kita hanya wajib mempercayai enam perkara saja, sedangkan Mitos tidak termasuk satu dari yang enam itu. Namun begitu, tak sedikit pula orang meyakini kebenaran dari mitos atau kutukan dalam dunia politik. He he he he, ada ada aja.

Desember 2020 nanti Sumatera Barat akan menggelar Pilkada serentak untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur beserta 14 Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat yang memilih kepala daerahnya. Ada tiga belas Kabupaten dan Kota yang akan memilih Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikotanya.

Dalam tulisan ini penulis tak ingin menceritakan mitos di seluruh Kabupaten dan Kota. Namun, penulis hanya mencomot sebagian kecil dan otomatis ini juga tak musti menjadi referensi benar atau tidak apa yang ditulis ini. Bisa saja ini hanya carito lapau atau bisa pula menjadi referensi untuk pergerakan politik bagi politisi.

Mitos dalam realita politik bisa menjadi sandungan dan dapat pula menjadi tantangan. Tergantung kita melihatnya dari sudut mana. Jika kita melihat dengan kaca mata sempit, maka ini dianggap sebagai sandungan dan membuat sang kandidat menjadi lemah semangat. Begitu juga timnya pasti akan marah. Bahkan bisa saja kalimat “membunuh” lawan politik akan keluar dari mulut para pemandu soraknya.

Namun, kalau dilihat dari kaca mata nan lapang mitos itu justru menjadi sebuah tantangan menarik untuk ditaklukan. Politisi seperti inilah yang sebenar benarnya petarung. Beliau akan merasa lebih senang dan bangga apabila mitos itu mampu dipecahkan dan sang pemecah mitos itu akan menjadi pencatat sejarah.

Orang bijak berkata. Kita tidak boleh melupakan sejarah. Sebaliknya orang bijak juga berkata kita tak boleh terikat dan terbelenggu oleh sejarah sehingga kita tak mau melakukan sesuatu yang baru untuk melahirkan sejarah baru. Lagian apa yang terjadi di masa lalu bisa saja tidak akan terjadi saat ini. Setiap orang itu ada masanya, setiap masa itu juga ada orangnya.

Dalam tulisan ini penulis ingin menarik kembali perjalanan waktu ke belakang. Semenjak reformasi digulirkan dan dimulai Pemilihan Kepala Daerah secara langsung oleh masyarakat maka ada mitos politik yang menarik untuk disimak.

Pertama mitos Walikota Kota Padang yang selalu gagal menjadi Gubernur. Satu dasa warsa sebelum reformasi ada sosok Walikota Padang yang sangat legendaris. Bahkan sampai saat ini sosok itu masih melegenda. Bang Syahrul alias Syahrul Ujud SH. Jujur kita akui sampai saat ini belum ada sosok yang mampu menandingi Bang Syahrul di mata warga Kota Padang. Gusuak Kuduak ala Bang Syahrul masih menjadi buah bibir. Sosok familiar ini begitu maju menjadi calon Gubernur juga kalah.

Begitu juga dengan sosok Fauzi Bahar. Mantan Pamen TNI AL yang juga Walikota Padang dua periode ini. Figurnya cukup populer dan sangat dikenal public Kota Padang. “Walikota Bagak” ini dipandang berani dan kaya terobosan. Bang Uji sapaan akrabnya, berhasil melahirkan beragam program. Asmaul Husna dan pesantren Ramadhan merupakan iconik Fauzi Bahar di kancah politik dan masih bertahan sampai sekarang. Namun sayangnya, dua kali maju menjadi pimpinan Sumbar juga gagal. Mulai menjadi calon Gubernur berpasangan dengan Drs H Yohanes Dahlan sampai menjadi calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Alm Drs H Muslim Kasim Akt.

Kedua, Mitos Wagub yang selalu gagal menjadi Gubernur. Dalam pemilihan langsung belum pernah sejarahnya Wakil Gubernur yang berhasil menang dalam pemilihan Gubernur. Seorang akademis senior yang juga mantan Rektor Universitas Andalas, alm Prof Dr Ir H Marlis Rahman MSc sudah membuktikan itu. Berbekal kerja politik, kedekatan dengan sejumlah tokoh dan senior di kalangan KAHMI ternyata tak begitu cukup bagi beliau untuk menggapai posisi Gubernur. Padahal hampir 1,5 Tahun beliau sudah menempati posisi Gubernur Sumatera Barat pasca dilantiknya Gamawan Fauzi menjadi Mendagri oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Baca Juga:  Menangkap Covid-19 di "Bibir Pantai"

Nasib yang sama juga dialami oleh Alm Drs H Muslim Kasim Akt. Tokoh rang Piaman ini dikenal sebagai politisi ulung yang mampu menyatukan orang Piaman baik di kampung ataupun di rantau. Berbekal organisasi PKDP dan gaya bicara serta sifat yang supel membuat sosok Muslim Kasim ini sangat dikenal warga. Selain memiliki basis suara yang jelas dan berpasangan pula dengan Fauzi Bahar yang dikenal sangat popular pula. Namun sayangnya juga gagal untuk menjadi Sumbar 1 dan Sumbar 2.

Kini dua tokoh dari posisi yang sama kembali bertarung. Mahyeldi selaku Walikota Padang turun ke gelanggang untuk bertarung memperebutkan posisi Sumbar satu dengan pasangan Audy Joinaldy. Kombinasi politisi senior berbasis Islam dengan anak milenial kreatif (pengusaha). Mahyeldi yang akrab dengan panggilan Buya merupakan sosok yang sangat familiar dan diyakni menjadi kandidat potensial memenangkan pemilihan Gubernur Sumbar periode 2021-2024.

Begitu juga dengan Nasrul Abit yang hari ini masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumbar mendampingi Prof Dr H Irwan Prayitno Psi, MSc. Pak NA panggilan akrab mantan Bupati Pessel dua periode ini juga bukanlah sosok sembarang. Selain sangat familiar di kalangan masyarakat juga dikenal piawai dalam memainkan peran.

Keberaniannya menerobos Kabupaten Dunga, Provinsi Papua menjenguk dunsanak di rantau disaat konflik patut kita apresiasi. Pak NA pun gemar blusukan ke daerah melihat kondisi rill di lapangan. Secara basis suara Nasrul Abit yang telah memilih pasangannya Indra Catri (Bupati Agam dua periode) juga tak bisa dipandang sebelah mata. Hanya orang yang memiliki analisa politik tumpullah yang tak memahami potensi kemenangan Nasrul Abit-Indra Catri.

Satu pasangan lagi yang juga sudah Deklarasi dan siap bertarung adalah Anggota Komisi III DPR-RI Ir Mulyadi. Politisi kawakan dari Partai Demokrat yang berpasangan dengan Ali Mukni (Bupati Padangpariaman dua periode). Kebetulan juga ini seperti “rekarnasi” dari pasangan Irwan-MK di pilkada 2010-2015. He he he.

Secara basis, pasangan inipun tak bisa pula diabaikan. Selaku peraih suara terbanyak di DPR RI, Mulyadi tak bisa dipandang sebelah mata apalagi kerja politiknya selama ini sudah terlihat dengan kasat mata. Begitu juga dengan Ali Mukni yang dipandang sukses memimpin Padangpariaman. Bahkan Padangpariaman mencapai kejayaannya di era Ali Mukni ini. Gerak pembangunan di Kabupaten Pariaman membuat kita berdecak kagum.

Belakangan juga muncul pasangan Irjen Pol Fahkrizal-Genius Umar. Jendral bintang dua Polri ini juga tak bisa diabaikan. Label polisi niniak mamak yang disematkan sebagian kalangan menunjukan sosok Fahrizal cukup diminati dan disukai masyarakat. Selain itu pasangan Jendral bintang dua ini juga bukan orang sembarang. Genius tercatat pernah menjadi Wakil Walikota Pariaman dan saat ini menjabat sebagai Walikota Pariaman. Kehadiran Jendral bintang dua inipun mengingatkan kita kembali pada sosok Rangkayo Basa yang pernah memimpin Sumatera Barat.

Kini, akankah mitos dan kutukan itu terus berlanjut ? Bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Politik itu dinamis dan penuh misteri. Lagian kalah dan menang dalam pertarungan politik adalah hal yang lumrah. Mitos bisa saja berulang sedangkan sejarah dan peristiwa pasti tak akan pernah berulang. Inilah yang diyakini urang awak musim batuka, tahun baganti.

Tiga atau Empat pasang calon Gubernur-Wakil Gubernur ini sama-sama memiliki peluang. Mereka adalah putra terbaik Sumbar, mereka sama sama memiliki basis politik yang jelas dan mendapat dukungan masyarakat. Selamat bertarung dan semoga tiga tahun ke depan Sumbar memiliki Gubernur-Wakil Gubernur yang terbaik. ***