Problematika Profesi Desainer Grafis

33
M. Kevin Fitrian, Mahasiswa Universitas Andalas

Perkembangan teknologi digital mempengaruhi kebutuhan visual manusia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, hadirlah profesi Desainer Grafis atau Graphic Designer.

Saat ini, desain grafis menjadi salah satu bidang ilmu visual yang sedang tren untuk ditekuni bahkan sudah banyak yang memilihnya sebagai profesi tetap.

Waktu dan ruang kerja yang fleksibel menjadi salah satu alasan serunya menekuni profesi ini. Selain perangkat yang mendukung dan skill yang mumpuni dalam membuat produk-produk desain grafis, jam terbang dan “selera” menjadi elemen penyokong keberhasilan terciptanya sebuah produk desain grafis.

Selera seorang desainer grafis mempengaruhi munculnya ide-ide yang unil, fresh dan kreatif. Ide-ide tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk garis hingga bidang.

Hal-hal tersebut tentunya tidak mudah dan tidak murah, karena berasal dari buah pikir seseorang yang belum tentu semua orang memiliki itu.

Tapi tidak jarang yang masih menganggap profesi desainer grafis sebagai profesi yang sepele. Bagi Bagas Putra (22), mahasiswa jurusan Desain Grafis yang saat ini bekerja sebagai freelance graphic desainer di Kota Padang, ia sangat sebal ketika client memberikan deadline yang terburu-buru.

“Ada tuh client yang memberikan bahan siang hari, ingin selesainya sore hari. Terlebih lagi ketika revisi, mintanya banyak banget, lalu pas dikasih tau harganya segini, nawarnya malah kebangetan. Parah deh pokoknya,” paparnya.

Baca Juga:  Dies Natalis ke-55 UIN Imam Bonjol: Mencari, Mengumpulkan Arsip Bersejarah

Terkadang, minimnya apresiasi terhadap jasa desainer grafis membuat sebal bahkan sangat menguji kesabaran para desainer grafis.

Ada yang lebih buruk lagi. Banyak yang ingin desain bagus tapi meminta harga teman. Tidak jarang juga yang sampai hati menjadikannya project thank you alias tidak bayar sama sekali. Memangnya kita ini apa? Kan kita juga manusia,” tambahnya.

Profesi desainer grafis itu sama dengan profesi-profesi lainnya, bahkan bisa saja lebih berat. Tak jarang mereka para desainer grafis harus menghabiskan waktu yang tidak sedikit hingga mengorbankan waktu istirahat mereka karena target deadline yang mepet. Sejatinya, yang diperlukan para desainer grafis adalah apresiasi.

Usahakan bahan atau materi yang akan ada di dalam desain diberikan jauh-jauh hari agar para desainer grafis juga punya waktu yang cukup untuk memikirkan seperti apa baiknya desain yang mereka buat. Jika ada keluhan mengenai desain dan mengharuskan revisi, sebaiknya sampaikanlah dengan cara yang baik.

Kalaupun mereka memberikan harga yang terasa mahal ya diapresiasi saja, toh belajar ilmu desain grafis juga tidak mudah, tidak murah dan tidak satu hari belajar kemudian langsungmahir bukan? (*)