Mengendalikan Virus Kentang Paling Berbahaya

22
Irfan Suliansyah Dosen Fakultas Pertanian Unand

ADA sekitar 28 virus yang telah dilaporkan mampu menginfeksi tanaman kentang. Pada skala produksi benih kentang bersertifikat ada tujuh virus utama yang harus diperhatikan. Yaitu potato leafroll virus (PLRV), potato viruses Y (PVY), potato viruses X (PVX), potato viruses A (PVA), potato viruses S (PVS), potato viruses M (PVM), dan alfalfa mosaic virus.

Namun demikian, PVX, PVY, dan PLRV merupakan virus kentang terpenting di dunia.
Penyakit yang disebabkan oleh virus merupakan faktor pembatas utama produktivitas kentang di dunia. Penyakit yang ditimbulkannya, bukan saja menyebabkan kerusakan langsung, namun juga karena pengaruh kumulatifnya dari musim ke musim.

Karena kentang pada umumnya diperbanyak secara aseksual atau melalui bagian vegetatifnya (umbi), maka virus yang menginfeksi tanaman akan terus terbawa umbinya pada saat digunakan sebagai bahan untuk multiplikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada generasi berikutnya tanaman kentang dapat terinfeksi dengan virus yang baru sehingga meningkatkan jumlah dan jenis virus pada umbinya.  Akumulasi virus ini yang terutama bertanggungjawab terhadap penurunan produktivitas kentang yang dikenal dengan istilah degenerasi bertahap (gradual degeneration).

Konsekuensinya adalah terjadi penurunan secara bertahap vigor dan hasil tanaman serta meningkatnya penurunan kualitas karena penurunan umur simpan umbi setelah panen. Penurunan hasil yang disebabkan oleh virus dapat semakin parah jika terjadi koinfeksi (infeksi ganda) dari dua atau lebih virus pada tanaman yang sama.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi ganda mampu mengakibatkan tanaman bergejala lebih parah serta menunkan hasil lebih banyak. Infeksi ganda PVX dan PVY dengan PLVR atau PVA menghasilkan gejala lebih berat dibandingkan infeksi secara terpisah.

Besarnya kerugian ekonomis yang ditimbulkannya bergantung pada efek sinergistik dari virus yang berinteraksi. Bergantung juga pada interaksi antara inang dengan varietas kentangnya, vektor virus yang terlibat, serta faktor lingkungan.

Kebanyakan virus dapat didiagnosis dengan cara melihat gejalanya yang ditimbulkannya (karakteristik gejala), seperti pola mosaik pada daun, stunting (pengerdilan) tanaman, serta deformasi daun dan umbi.  Namun demikian, gejala infeksi virus seringkali tidak menunjukkan gejala virusnya itu sendiri.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya keterlibatan interaksi antar virus, varietas kentang, dan lingkungan (kesuburan tanah, iklim, atau umur tanaman terinfeksi virus, dan masih banyak faktor lainnya).

Untuk alasan tersebut, dalam beberapa tahun terakhir, teknik deteksi serologis dan molekuler telah digunakan untuk mendiagnosis dan mengkarakterisasi virus yang mempengaruhi tanaman untuk mengambil langkah pengendalian yang paling tepat.

Selain ditransmisikan melalui bahan tanam (umbi), beberapa jenis virus juga ditransmisikan dari tanaman satu ke tanaman lain melalui Kutu daun (aphids). Salah satu kutu daun yang paling sering ditemukan pada tanaman kentang adalah the green peach aphid (Myzus persicae).

Kutu daun mampu mentransmisikan lebih dari 100 jenis virus ke berbagai jenis tanaman.  Kutu daun dapat berwarna hijau pucat hingga merah muda (pink) serta dapat bersayap atau tidak bersayap.  Beberapa virus mampu ditransmisikan secara mekanik, seperti PVX. Sebaliknya, PLRV hanya bisa ditransmisikan melalui vektor aphids.

Sedangkan, PVY dan PVS bisa ditransmisikan secara mekanik dan melalui vektor aphids. Berikut ini akan diuraikan karakteristik virus-virus utama yang mampu menginfeksi tanaman kentang dan seringkali mengakibatkan kerugian yang sangat besar karena mampu menurunkan produktivitas kentang secara signifikan, yaitu PLRV, PVY, dan PVX.

Potato leafroll virus (PLRV) mengakibatkan penyakit daun kentang menggulung. PLRV dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas produksi serta dapat menyebabkan tanaman tidak memenuhi syarat untuk dapat disertifikasi. Gejala yang muncul pada daun yang disebabkan oleh PLRV dapat dibagi menjadi dua, yaitu infeksi primer dan sekunder.

Infeksi primer terjadi pada saat tanaman kentang yang awalnya sehat diinfeksi oleh kutu daun pada saat dibudidayakan musim saat ini. Gejala awal yang muncul pertama kali pada daun bagian atas yaitu berwarna menjadi pucat, tegak, dan menggulung serta menunjukkan beberapa jaringan yang memerah di sekeliling tepi daun.

Baca Juga:  Stop Penularan HIV Kepada Anak

Daun kentang pada bagian bawah mungkin memiliki atau tidak memiliki gejala. Infeksi sekunder terjadi ketika umbi yang terinfeksi ditanam, yang akan menghasilkan tanaman yang terinfeksi juga. Daun bagian bawah tergulung parah dan kasar saat disentuh.

Tanaman sering berukuran kerdil, tegak, dan klorosis secara menyeluruh. Daun tertua dapat menunjukkan kemerahan pada tepi atau klorosis. Daun bagian atas mungkin tidak memiliki gejala yang jelas.

PLRV sulit dideteksi karena gejala daun tidak selalu jelas. Umbi yang terinfeksi atau umbi dengan nekrosis bersih dapat dihasilkan dari tanaman tanpa gejala visual. PLRV ditularkan secara persisten oleh beberapa spesies kutu daun (aphid), yang paling penting adalah aphid persik hijau (Myzus persicae).

Selain menginfeksi kentang, virus ini juga menginfeksi tanaman dan gulma solanaceous lainnya (tomat dan tembakau). Upaya untuk mengendalikan PLRV biasanya melalui penekanan populasi kutu dengan insektisida sistemik dan/atau penanaman benih kentang bersertifikat.

Potato virus Y (PVY) dapat dengan mudah ditransmisikan oleh kutu daun dan dengan cara mekanis oleh aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan penurunan hasil yang signifikan. PVY bersifat tuberborne dan dapat berinteraksi dengan virus lain, seperti PVX dan PVA yang dapat mengakibatkan kerugian hasil yang lebih besar.

Gejala yang muncul akibat infeksi PVY dapat bervariasi bergantung pada strain dan varietas kentang yang dibudidayakan. PVY memiliki banyak strain. Strain tertentu mengakibatkan gejala mosaik rugose, meskipun gejala tersebut seringkali dianggap berasal dari campuran infeksi PVY dan PVX.

Strain PVY yang lain dapat menimbulkan gejala mosaik umum atau reaksi hipersensitif (nekrotik parah). Nekrosis dapat mengakibatkan daun menjadi layu lalu mati dan menempel di batang. Tanaman yang tumbuh dari umbi yang terinfeksi biasanya berukuran kerdil serta daunnya berbintik-bintik dan berkerut.

Umumnya, belang kuning-hijau memiliki pola yang sangat halus. Daun dan batangnya kadang-kadang mati. Pada umbi dapat menunjukkan gejala cincin coklat muda di kulitnya. Pada beberapa varietas kentang dengan reaksi hipersensitivitas yang kuat dapat menunjukkan resistensi lapang yang baik dan generasi berikutnya dapat sehat.

Selain menginfeksi kentang, PVY mempengaruhi tanaman solanaceous lainnya (tomat dan cabai). Pengendalian PVY bergantung pada penggunaan benih bebas penyakit, juga bisa dengan insektisida untuk mengurangi populasi kutu, serta menggunakan minyak mineral untuk mengganggu proses penularan kutu.

Potato Virus X (PVX) adalah salah satu virus kentang yang paling terdistribusi luas, karena virus ini tidak menimbulkan gejala pada beberapa varietas (mosaik laten). Jika ada gejala, maka gejala yang muncul berkisar dari belang kekuningan-kehijauan ringan hingga belang tanaman yang parah dengan daun yang kasar.

Gejala mottling dapat lebih terlihat setelah beberapa hari cuaca mendung, namun dapat tidak ada setelah beberapa hari cuaca cerah. Tanaman terinfeksi PVX dapat kerdil dan memiliki daun berukuran kecil. Dalam beberapa kasus, ujung tanaman kentang bisa mati. Kematian pucuk ini biasanya dikaitkan dengan gejala gabus pada umbi yang berujung pada kematian umbi.

Infeksi campuran PVX dengan virus lain seperti PVY dan PVA menyebabkan tanaman lebih parah kerusakan daripada hanya infeksi PVX saja. PVX adalah virus tular tanah yang dapat dengan mudah ditransmisikan secara mekanis oleh aktivitas manusia. Tembakau, lada, dan tomat adalah beberapa inang untuk virus PVX.

Karena beberapa dari virus ini seringkali tanpa gejala atau hampir tanpa gejala, maka penting untuk menggunakan umbi bibit bebas penyakit yang bersertifika. Tanaman yang resisten terhadap virus merupakan upaya pengendalian yang terbaik terbaik melawan virus kentang dan resistensi tersebut tersedia untuk PVY, PVA, PVS, dan PVX.

Juga tersedia kultivar kentang dengan beberapa tingkat ketahanan terhadap PLRV dan ada beberapa kultivar yang tidak menghasilkan pencoklatan pada umbi meskipun tanaman terinfeksi PLRV.

Segera buang tanaman yang terinfeksi PLRV dari lahan sesegera mungkin. Mengontrol tanaman voluntir dari musim sebelumnya juga telah terbukti membantu pencegahan penyebaran PLRV. (*)