Ramadhan dan Momen Pendidikan Karakter dalam Keluarga

Ramadhan 1441 H tidak disambut seperti Ramadhan tahun sebelumnya. Sebab bertepatan dengan suasana pandemi Covid- 19 yang belum usai sehingga diberlakukan pula pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Sumatera Barat. Kondisi tersebut membuat kita tidak bisa lagi leluasa melakukan kegiatan Ramadhan seperti Shalat Tarawih dan Witir di masjid/mushala, mendengar ceramah langsung dari para ustadz, melaksanakan pesantren Ramadhan di masjid maupun di satuan pendidikan, kegiatan buka bersama dengan berbagai latar belakang kalangan dan kegiatan bersama lainnya yang sifatnya mengumpulkan banyak orang, termasuk mudik Lebaran pun belum tentu bisa dilakukan. Semua itu dalam rangka ikhtiar maksimal dalam mencegah penyebaran Covid-19 yang masih mewabah di negeri ini.

Walaupun kegiatan Ramadhan tidak bisa dilaksanakan di masjid/mushala seperti Ramadhan sebelumnya bukan berarti Ramadhan tahun ini kita biarkan berlalu begitu saja. Ramadhan tetap hadir sebagai bulan yang penuh rahmat, berkah dan maghfirah. Ia juga hadir sebagai bulan pendidikan (syahru al tarbiyah) bagi jiwa-jiwa muslim yang mukmin menuju muttaqin. Karena itu, keutamaan Ramadhan harus diupayakan kita raih dengan membuat perencanaan dalam keluarga masing-masing. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka (Qs. Attahrim: 6). Menjalani Ramadhan dengan kebersamaan dalam keluarga bukan berarti mengurangi makna Ramadhan, justru kita mengoptimalisasikan nilai-nilai Ramadhan dalam keluarga dengan kegiatan berorientasi untuk pendidikan karakter.

Mengapa pendidikan karakter menjadi orientasi Ramadhan tahun ini? Dilihat dari situasi dan kondisi yang sedang terjadi dan kita alami saat ini, rasanya keluargalah yang paling efektif untuk melaksanakan kegiatan Ramadhan sebagai proses pendidikan dalam keluarga. Keluarga merupakan lembaga pendidikan informal dalam menumbuhkan dan membetuk karakter anak, sebagai orang beriman tentu sudah tahu bahwa Ramadhan sarat makna dengan nilai-nilai pendidikan karakter (syahru al tarbiyah). Penguatan pendidikan karakter di sekolah (PPK), masih dianggap memiliki kelemahan karena sekolah hanya menguatkan karakter/akhlak terpuji, bukan membentuk karakter dari awal. Kemudian hingga saat ini dengan berbagai mata pelajaran/bidang studi yang diajarkan secara parsial di sekolah, akibatnya dominasi domain kognitif masih kental terasa. Termasuk melaksanakan homelearning sejak dihentikan kegiatan belajar melalui tatap muka di sekolah menjadi pembelajaran berbasis online di rumah masing-masing. Pembelajaran online/pembelajaran daring (dalam jaringan) juga lebih mengedapankan nuasan transfer of kwoledge atau dominasi kognitif dibanding afektif.

Guna menutup kelemahan pembelajaran online/daring, peran orangtua untuk memberikan bimbingan karakter terhadap anak sangat diperlukan, guru di sekolah saat ini memiliki tugas ganda disamping mendidik anaknya sendiri juga berkewajiban memberikan pembelajaran berupa tugas-tugas dan penilaian online. Lalu, dikarenakan tidak adanya tatap muka dalam pembelajaran seperti biasa maka karakter anak tidak mampu dipantau dan dibimbing kecuali oleh orang tua mereka sendiri. Secara teori memang sekolah yang bertanggung jawab karena apapun tugas yang dilakukan oleh siswa tentu berasal dari guru-guru mereka. Sedangkan orangtua, belum secara mandiri dan berani merancang pendidikan karakter untuk anak-anak mereka. Mungkin karena kasihan terhadap anak begitu banyaknya tugas-tugas sekolah yang harus mereka kerjakan sehingga nilai/afektif diabaikan dan dibiarkan mengalir begitu saja.

Menurut Prof, Ace Suryadi (2014), nilai/karakter siswa tidak dapat hanya diajarkan, tetapi harus dilakukan dalam bentuk pembiasaan, pemahaman, keteladanan dan aplikasi yang terus-menerus, hingga akhirnya ditemukan makna dari suatu nilai karakter. Karakter siswa tidak mungkin tumbuh dan berkembang jika dia berada di lingkungan yang tidak berkarakter. Karena itu guru dan orangtua harus menciptakan lingkungan yang berkarakter untuk anak/siswanya. Mengingat pentingnya pendidikan karakter tentunya orangtua, wajib menyediakan waktu dan mengatur waktu untuk itu, lalu bagaimana merancang pendidikan karakter dalam keluarga? Ada beberapa hal yang bisa diterapkan selama Ramadhan dalam rangkan menguatkan dan mengembangkan karakter anak dalam keluarga:

Pertama, keteladanan orangtua: orangtua harus mampu menjadi teladan dalam segala hal di rumah tangga. Apa yang dilakukan oleh anak tentunya sesuai dengan apa yang dia dengar. Dia lihat dan dia rasakan di rumah, maka orangtua benar-benar hati-hati berbicara, disiplin waktu, yang dicontohkan ketika waktu sahur, shalat berjamaah di rumah, berbuka bersama, tadarrus, tahfiz dan mengatur agenda kegiatan di rumah yang sifatnya mendidik. Kedua, pembiasaan yang baik; orangtua harus membuat kebiasaan-kebiasaan positif (habituation), kebiasan positif tersebut mencakup kebiasaan ibadah tepat waktu, tilawah, kegiatan keluarga dan kegiatan kehidupan lainnya yang mampu membuat anak-anak menjadi manusia yang mampu hidup dengan baik di lingkungannya.

Jhon Dryden mengatakan we first make our habits, and then our habits make us (kitalah yang pertama membentuk kebiasaan, selanjutnya kebiasaan yang kan membentuk diri kita).Ketiga, menanamkan pemahaman yang benar tentang suatu hal dengan berdialog, berdiskusi, mendampingi anak dalam mengerjakan PR, orang tua menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya dirumah, semua itu akan terjadi ketika komunikasi yang baik antara orang tua sengan anak-anak mereka. Apa yang menghalangi kita untuk berkomunikasi dengan anak-anak kita sehingga mereka lebih senang curhat dengan teman seusia yang pengetahuan dan pengalamannya tidak jauh beda dengan mereka. Na’udzubillhi min dzalik.

Dengan melaksanakan ketiga hal tersebut selama Ramadhan diharapkan bisa terbiasa dan membudaya dalam keluarga orang-orang beriman. Ketika hal tersebut berhasil tentunya kita akan melihat perubahan besar yang terjadi pada karakter anak atau siswa yang selalu dicemaskan selama ini. Jangan sampai semua itu terlewatkan begitu saja. Tidakkah kita menyadari, bisa jadi Ramadhan tahun inilah momen yang diberikan Allah kepada kita untuk mendidik anak-anak kita sendiri. Sebagai orangtua akan tahu bagaimana tantangan dalam mendidik, kita akan tahu bagaimana bahagianya sebagai pendidik ketika semua itu berhasil kita lakukan. Kita akan tahu bagaimana Allah benar-benar tidak salah menitipkan amanah anak kepada kita. Nilai dan keutamaan Ramadhan memang begitu besar tetapi jauh lebih besar keutamaan yang diperoleh oleh orang tua ketika mampu mendidik anaknya berkarakter. Rasulullah SAW bersabda jika seseorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga amal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh (HR. Muslim). Tentunya orangtua sukseslah yang pantas menerima balasan semua itu. wallahu’alamu bish shawab. (*)

*Erwanto – Guru Pendidikan Agama Islama SMAN 4 Padang