Sisi Lain Covid-19: Cara Tuhan Menyelamatkan Bumi?

Ilustrasi

Sejak 4 bulan belakangan, virus korona sudah membuat panik seluruh dunia, termasuk Indonesia. Covid-19 yang disebut sebagai penyakit yang ditimbulkan oleh virus korona ini menyebabkan kematian mencapai lebih dari 154 ribu jiwa dan di Indonesia sendiri mencapai 520 orang, berdasarkan data pada hari Sabtu, 18 April 2020. Banyak sekali dampak negatif dari kondisi ini, antara lain tergoncangnya perekonomian dunia. Menurut Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, Indonesia juga mengalami goncangan perekonomian nasional disebabkan oleh banyaknya tenaga kerja yang dirumahkan atau PHK, turunnya PMI manufacturing Indonesia, turunnya impor Indonesia, serta dibatalkannya sejumlah penerbangan di Indonesia.

Sisi Lain, Covid-19 memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas udara dunia, termasuk Indonesia. Sejak diberlakukannya lockdown di sejumlah negara, otomatis pergerakan masyarakat di luar rumah menurun drastis. Dengan minimnya aktivitas di luar rumah, maka penggunaan bahan bakar yang menghasilkan emisi juga akan menurun tajam. Peneliti dari Spanyol, Aurelio Tobías dalam Jurnal Science of The Total Environment menjelaskan dengan diberlakukannya lockdown selama satu bulan di Barcelona menyebabkan peningkatan kualitas udara akibat menurunnya konsentrasi beberapa polutan, yaitu NO2 turun mencapai 51%, PM10 turun sebanyak 31%. Dampak lain dari penurunan polusi udara terlihat di Wuhan China, sebagai kota asal dari virus ini bermula.
Berdasarkan data dari ESA’s Sentinel-5P satellite, penurunan kadar NO2 mencapai 10% – 30% dari keadaan normal di seluruh wilayah China Timur dan Tengah dengan penurunan terbesar ada di Kota Wuhan yang berpenduduk 11 juta jiwa, karena pemerintah kota ini melakukan lockdown secara ketat dibanding kota-kota lain di China. Indonesia sendiri tidak menerapkan lockdown, tetapi berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang dimulai dari Jakarta. PSBB mempunyai dampak yang hampir sama yaitu penurunan kualitas udara di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia.

Pandemi Covid 19 yang memaksa masyarakat untuk tidak keluar rumah juga berakibat berkurangnya keberadaan CO2 di udara akibat berkurangnya kendaraan bermotor. Keberadaan CO2 di udara membuat Bumi semakin panas karena panas dari matahari dipantulkan kembali ke Bumi dan terperangkap di permukaan, yang menyebabkan terjadinya gas rumah kaca (greenhouse effect). Tentunya, berkurangnya gas rumah kaca ini sangat baik untuk Bumi terutama untuk mencegah global warming, di mana kadar CO2 dan gas lainnya pada kondisi sebelum terjadinya Covid-19 cukup tinggi di udara.

Sisi lain selanjutnya adalah, di masa pandemi Covid-19 ini NASA mengumumkan adanya pemulihan lapisan ozon stratosfer. Walaupun ilmuwan asal Colorado, Banerjee mengatakan bahwa pemulihan lapisan ozon akibat adanya Montreal Protocol tahun 1987 yang melarang produksi zat perusak ozon seperti CFC, akan tetapi pemulihan ini terjadinya di masa pandemi Covid-19, memberikan angin segar bahwa telah terjadi pemulihan alam.

Peningkatan kualitas udara akibat dampak Covid-19, berkurangnya gas rumah kaca di udara, serta terjadinya pemulihan lapisan ozon stratosfer seolah-olah menyadarkan kita bahwa Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk memperbaiki keadaan bumi yang sudah semakin parah akibat kelalaian manusia. Kerusakan lingkungan, terutama polusi udara disebabkan oleh beberapa faktor seperti transportasi, industri dan sumber lainnya. Peningkatan transportasi, yang ditandai dengan peningkatan jumlah kendaraan di Indonesia yang mencapai 15% per tahun dalam 5 tahun terakhir, tidak sepadan dengan pengelolaan emisi polutan kendaraan tersebut. Berdasarkan data dari 2019 Word Air Quality Report, Indonesia dengan konsentrasi rata-rata 51,7 µg/m3 menjadi negara nomor 5 tertinggi polusi udara di dunia tahun 2019.

Hal ini menyadarkan kita bahwa cara manusia untuk menyelamatkan bumi tidak cukup optimal untuk membuat bumi ini lebih baik. Banyak usaha yang sudah dilakukan oleh pemerhati dunia agar bumi ini tetap lestari. Organisasi lingkungan dunia sekelas Greenpeace sudah melakukan berbagai usaha dengan cara aksi langsung tanpa kekerasan, konfrontasi damai dalam melakukan kampanye untuk menghentikan berbagai aksi perusakan lingkungan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi dunia lainnya sudah melakukan berbagai upaya agar bumi bisa diselamatkan dari perusakan lingkungan. Di Indonesia sendiri juga dilakukan berbagai upaya agar polusi udara bisa dikendalikan. Hal ini terlihat dengan diadakannya berbagai usaha yang pernah dilakukan pemerintah, seperti Program Langit Biru yang pernah dicanangkan tahun sembilan puluhan lalu. Tapi program-program yang dilakukan pemerintah belum mampu mengendalikan pencemaran udara secara optimal.

Dengan adanya kondisi masa pandemi Covid-19 ini, yang memulihkan udara dan bumi dengan sendirinya, yang saya sebut sebagai campur tangan Tuhan, memberikan perenungan bagi kita untuk memikirkan keberlangsungan bumi bersama-sama, mari bersinergi bersama antara pemerintah dan masyarakat. Dalam peningkatan kualitas udara dan keberlangsungan bumi, pemerintah diharapkan dapat membuat perencanaan yang matang dengan mengadakan program-program peningkatan kualitas udara, antara lain mengembangkan transportasi publik yang layak dan nyaman, melakukan uji emisi berkala terhadap kendaraan bermotor, melakukan pengukuran dan monitoring kualitas udara di lokasi-lokasi yang merupakan sumber polusi udara, mengembangkan kawasan-kawasan bebas kendaraan bermotor dan menyediakan sarana untuk sepeda dan pejalan kaki, serta meningkatkan ruang terbuka hijau. Hal yang tidak kalah penting adalah merevisi peraturan pemerintah tentang pengendalian pencemaran udara yang saat ini masih menggunakan PP No. 41 Tahun 1999. Sudah saatnya diadakan pembaharuan karena kondisi saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan kondisi saat PP tersebut diluncurkan, sehingga kurang relevan lagi.

Sementara itu, hal-hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk peningkatan kualitas udara adalah mengurangi pemakaian transportasi pribadi dengan berpindah ke transportasi publik sehingga emisi kendaraan bisa berkurang, tidak membakar sampah di pekarangan masing-masing yang akan meningkatkan kadar polutan di udara, dan berusaha menanam tanaman yang bisa menyerap polutan udara. Semoga dengan berbagai usaha yang dilakukan, bisa meningkatkan kualitas udara secara optimal dan bumi kembali bernapas. (*)

*Vera Surtia Bachtiar – Guru Besar Pengelolaan Kualitas Udara Teknik Lingkungan Universitas Andalas