“Pitih Banyak Balanjo Payah”

162

Two Efly

(Wartawan Ekonomi)

Pitih banyak balanjo payah (Duit banyak berbelanja sulit). Macam itu betullah nasib Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S) ditahun 2020. Berangkas BPR/S terus membengkak seiring meningkatnya akumulasi nilai equitas dan terus bertumbuhnya Dana Pihak Ketiga (DPK).

Cash Ratio tumbuh dengan capaian rata-rata 20 persen hingga 30 persen. “Kacio” dalam bentuk Penempatan Dana Antar Bank (PDAB) tumbuh mendekati 40 persen sehingga surplus likuiditas menjadi tak terhindari.

Lain lagi dengan fungsi distribusinya. Kalau dari sisi likuiditas terjadi peningkatan, sebaliknya fungsi distribusinya mengalami perlambatan. Realisasi kredit kian sulit dan hanya mampu tumbuh dikisaran 3,50 persen.

Selain itu Ratio Non Performance Loan cenderung merangkak naik, disfungsi intermediasi terjadi dan laba bersih usaha terperosok ke pertumbuhan minus. Inilah kontraksi laba terdalam pasca krisis moneter ditahun 1998 lalu.

Tak bersungguh-sungguhkah BPR/S ditahun 2020? Tidak. Lasak Manaruko yang menjadi takdir BPR/S tetap saja dijalani dengan “tulus”. Walau berjalan “gontai” akibat menciutnya pasar kredit dan pengetatan biaya operasional, BPR/S tetap mencari celah. Kredit terus dipasarkan, marketing kredit tetap saja keluar dan masuk pasar untuk “manjojokan” kreditnya.

Begitu juga dengan bagian penagihan. Setiap hari tetap saja petugas collector BPR/S mendatangi nasabah untuk mengutip cicilan kredit agar tak terjadi tunggakan kredit. Alih-alih bisa mendapat kredit “boneh” justru yang terjadi sebaliknya.

Ratio Non Perfomance Loan malah merangkak naik. Akibatnya, selain beban Pencadangan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) meningkat, laba bersih usaha pun terseret turun hingga tumbuh minus secara year on year.

Asset Tumbuh Semu

Secara kinerja asset BPR/S di Sumbar tahun 2020 tidaklah se berkilau tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun 2018 dan tahun 2019 rerata pertumbuhan asset BPR/S berada di atas dua digit, justru tahun 2020 tumbuh melandai. Total asset hanya bertumbuh dikisaran rata-rata 5,88 persen secara year on year.

Sudahlah tumbuh kecil, itupun dapat dikatakan pertumbuhan semu. Fungsi utama perbankan tidaklah berjalan sesuai harapan. Baik dalam menghimpun dana maupun dalam mendistribusikan dana kembali berupa kredit. Dana Pihak Ketiga hanya tumbuh di kisaran dibawah 6 persen dan kredit dikisaran 3,5 persen. Artinya, pertumbuhan asset bukanlah dikontribusi oleh Dana Pihak Ketiga atau realisasi kredit.

Jika kita kuliti lebih dalam maka kita akan menemukan penopang utama pertumbuhan asset BPR/S ditahun 2020. Asset yang tumbuh dibawah 6 persen itu lebih dipicu oleh re-investasi oleh para pemegang saham dan meningkatnya nilai ekuitas. Ekuitas BPR/S menebal seiring belum terdistribusikan laba ditahan terkait amanat POJK Nomor 5 Tahun 2015 tentang Modal Inti Minimum.

Selama empat tahun terakhir laba yang diposkan dalam cadangan yang belum diperuntuk terus menumpuk. Malahan di sejumlah BPR/S ada penumpukan nilai ekuitas itu yang sudah melampaui nominal modal yang disetor oleh pemiliknya. Memang ada sebagian kecil BPR/S peningkatan assetnya karena kinerja dana dan kredit, namun itu tak lebih dari 10 persen dari total BPR/S yang ada saat ini.

Tak sulit untuk membuktikan kalau asset BPR/S ditahun 2020 lebih “bertumbuh semu”. Kita bisa melihat pelonjakan ratio Capital Adequty Ratio. Rerata ratio KPMM berkisar antara 25 persen sampai dengan 35 persen. Ratio kecukupan modal ini sudah sangat lebih dari cukup untuk bisa melakukan ekspansi. Namun apa hendak dikata, ekspansi kredit tak bisa dilakukan karena sulitnya pasar kredit.

Realisasi Kredit Mentok

BPR/S bisa jadi lembaga keuangan yang paling terpukul akibat sulitnya pasar kredit. Sudahlah tumbuhnya relatif kecil, kredit bermasalahnya juga terus merangkak naik. Secara y-o-y realisasi kredit BPR/S hanya bertumbuh rerata dikisaran 3,5 persen dengan total kredit lebih kurang Rp 1,70 triliun.

Pertumbuhan “lapeh makan” ini tak sebanding dengan peningkatan kualitas kreditnya. Data dan angka sepanjang tahun 2020 menunjukkan kualitas kredit justru mengalami penurunan cukup dalam seiring melambungnya ratio Non Perfomance Loan (NPL). Rerata ratio kredit bermasalah naik ke kisaran 5 persen hingga 5,5 persen persen.

Ditengah kebuntuan pasar kredit itu kemana dana digulirkan? Tak jauh berbeda dengan bank umum. BPR/S juga menempuh jalan aman dalam mengatasi surplus likuiditasnya. Jika bank umum mengambil jalan aman dengan berinvestasi pada Surat Berharga Negara (SBN) sedangkan BPR/S justru menempuh jalan aman dengan memaksimumkan Penempatan Dana Antar Banknya dalam bentuk produk deposito pada bank lain.

Baca Juga:  Badan Layanan Umum Harus Berinovasi di Tengah Deraan Pandemi

Setahun terakhir 31 Desember 2019 – 31 Desember 2020 Penempatan Dana Antar Bank (PDAB) dari 94 BPR/S di Sumbar mengalami peningkatan tajam mendekati angka 40 persen secara year on year dengan nominal lebih kurang Rp 400 miliar. Diperkirakan hingga akhir 2021 Penempatan Dana Antar Bank ini akan terus merangkak naik mengingat masih sulitnya pasar kredit dan terus bertambahnya cadangan yang belum diperuntukan sebagai luncuran laba tahun 2020.

Sebetulnya pilihan untuk memaksimumkan dana antar bank merupakan jalan terakhir yang terpaksa harus diambil. Walau secara bisnis pendapatan bunga dari penempatan dana antar bank kalah jauh dibandingkan dengan pendapatan bunga kredit namun margin atau rugi tipis menjadi pilihan terbaik dari pada uang mengendap di berangkas bank yang hanya akan menghasilkan biaya.

Kualitas Aktiva 

“Anomali kinerja” terjadi di tahun 2020. Secara nominal total asset BPR/S di Sumbar tahun 2020 mengalami pertumbuhan namun kemampuan menghasilkan laba justru mengalami penurunan.

Sejumlah indikator utama kinerja sebagai gambaran kualitas usaha mengalami penurunan kecuali ratio kecukupan modal dan ratio Non Perfomance Loan terus merangkak naik. Disfungsi intermediasi terjadi seiring sulitnya pasar kredit ditahun 2020. Disisi lain surplus likuiditas datang mengiringi melambungnya Cash Ratio.

Surplus likuiditas membuat hampir seluruh BPR/S tak mampu memaksimalkan potensi yang ia miliki untuk meningkatkan produktivitasnya. Capain Return on Asset (RoA) cendrung menurun secara year on year. Dari 94 BPR/S hanya satu BPR yang capaian RoA nya di atas 6 persen dan itupun karena BPR baru memulai operasional, 1 BPRS dengan RoA di atas 4 persen dan 3 BPR berada di atas 3 persen, 30 persennya terkunci diangka keramat dibawah 2 persen hingga 2,9 persen. Malahan hampir 50 persen berada di angka 1 persen sampai 1,90 persen dan ada pula yang terjerumus ke minus 1 persen.

Realisasi kredit yang relatif konstan ini diperberat pula oleh meningkatnya beban bunga/beban operasional. Beban bunga naik akibat pertumbuhan DPK, BOPO meningkat akibat melorotnya pendapatan bunga dan pendapatan operasional. Dampak akhirnya adalah Laba bersih usaha. Sebagai muara akhir dari sebuah perusahaan tahun 2020 turun cukup tajam. Capaian laba bersih usaha mencatatkan penurunan terparah semenjak krisis tahun 1998 lalu dengan menyentuh angka – 12,5 persen secara year on year.

Apa yang harus dilakukan? Tak banyak yang bisa dilakukan untuk memulihkan kinerja BPR/S ditahun 2021 ini. Pertama, ekspansi kredit wajib dilakukan. Jangan pernah bermimpi akan menghasilkan pendapatan bila tak menyalurkan kredit. Kredit itu jantungnya perbankan. Tanpa kredit sebuah bank tak akan pernah bisa tumbuh dan bertahan. Dari pendapatan kredit inilah income didapatkan, dari realisasi kredit ini pulalah seluruh bentuk beban biaya dibayarkan.

Pertumbuhan kredit single digit tidak cukup dan tak akan mampu mencapai target laba yang sudah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Bahkan pertumbuhan kredit satu digit tak mampu mengatasi beban bunga dan beban operasional. Realisasi kredit BPR/S ditahun 2021 harus tumbuh double digit dengan re rata di atas 12 persen, jika tidak margin akan terus digerus oleh ratio Non Performance Loan yang diperkirakan akan terus merangkak naik seiring meningkatnya ratio Loan At Risk (LAR).

Kedua, tekan kredit bermasalah. Ini memang berat ditengah melorot daya beli masyarakat dan turun cukup tajam konsumsi masyarakat. Namun kita mesti ingat NPL itu tak ubahnya ibaratkan tumor atau kanker. Perlahan dan pasti kalau tak diatasi akan terus menjalar dan menggerogoti tubuh BPR/S itu sendiri.

Tak ada gunanya kredit banyak tapi kredit bermasalahnya juga lebih banyak. Kredit tumbuh dengan NPL tinggi tak ubahnya menggarami air laut. Untuk itu collector (penagihan kredit-red) harus memeras keringat dan berkerja lebih keras. Tak cukup kerja biasa biasa saja, bagian penagihan harus bekerja luar biasa. Tak banyak teori yang mampu menjabarkan ini, rumusnya hanya tiga, pertama tagih, kedua tagih dan ketiga tagih !!!.

Penulis yakin kondisi berat ini pasti akan menuju akhir. Dibalik “pendakian terjal pasti ada penurunan panjang”. Tahun 2020 tak ubah pendakian terjal tak berujung. Semoga ditahun 2021 ini kondisi lebih baik dan BPR/S bisa kembali memulihkan diri dengan menghasilkan laba lebih baik lagi. (*)

Previous articleJembatani Lanjut Usia Mempercepat Peningkatan Kesejahteraan Sosial
Next articleProgram Transformasi Berjalan Baik, PLN Bukukan Laba Bersih Rp 5,9 T