Meneropong Perilaku Komunikasi Nonverbal Daring

49
Ilustrasi. (net)

Ernita Arif
Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unand

Wabah Covid-19 telah mengubah segala sendi kehidupan, termasuk proses berkomunikasi. Saat ini, hampir segala aktivitas komunikasi yang biasanya dilakukan secara langsung atau tatap muka beralih menggunakan media internet atau komunikasi dalam jaringan yang lebih dikenal dengan daring.

Komunikasi daring menjadi tidak asing lagi bagi kita saat ini, baik masyarakat Indonesia maupun dunia. Masyarakat mau tidak mau harus tetap beraktivitas meskipun dalam kondisi social distancing dan bekerja dari rumah. Dengan adanya kemudahan yang ditawarkan oleh penyedia jasa aplikasi daring maka aktivitas-aktivitas seperti rapat, diskusi, seminar, kuliah, belajar, ujian dan hingga informal seperti silaturahmi dengan kerabat, temu kangen dengan teman sejawat, dan lain sebagainya tetap bisa dilaksanakan. Kita mengenal adanya berbagai aplikasi online seperti Zoom, Google Meet, Skype, WhatsApp, Facetime, Slack, Cisco Webex.

Semua aplikasi ini memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk dapat berkomunikasi secara langsung meskipun tidak berada dalam satu tempat. Kehadiran komunikasi daring ini tentunya dapat memberikan kemudahan kepada pengguna. Namun ada fenomena yang menarik kita amati dari penggunaan komunikasi daring, dimana kita bisa lihat tidak semua orang yang terlibat atau hadir dalam komunikasi daring tersebut “siap hadir” seperti kondisi normal. Kita masih lihat dari cara berpakaian yang hadir masih menggunakan pakaian tidak formal, seperti menggunakan kerudung/jilbab yang biasa dipakai di rumah. Berbeda saat pergi ke tempat kerja menggunakan pakaian formal.

Namun karena kegiatannya di rumah, terkadang ada yang masih menggunakan pakaian yang tidak formal, padahal pertemuannya formal. Selain itu ada juga yang menutup layar video dengan menggantikan dengan foto profil, bahkan kita hanya melihat layar gelap dengan hanya tampilan nama. Ada juga yang menggunakan latar atau background yang justru mengganggu bagi yang melihatnya. Beberapa fenomena ini kerap dilihat dalam beberapa pertemuan daring. Ketika seseorang tidak berpakaian secara formal padahal forumnya formal ini akan dianggap bahwa kita kurang menghargai dan kurang memahami etika berpakaian.

Begitupun saat seseorang tidak mengaktifkan layar video, hal ini bisa dimaknai bahwa seseorang tersebut kurang siap untuk hadir, atau sedang tidak siap untuk dilihat atau bisa juga sedang mengerjakan yang lain sehingga tidak mau diketahui oleh orang lain. Berbagai penafsiran akan muncul pada orang yang melihat atau hadir dalam pertemuan tersebut, karena orang yang hadir dalam forum daring akan dapat dengan mudah memantau segala aktivitas yang dilakukan. Untuk itu, kita harus berhati-hati dengan aspek nonverbal supaya kehadiran kita tidak menimbulkan beragam interpretasi. Menurut Mahrebian 93% yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam berkomunikasi yaitu dari aspek nonverbal (bahasa tubuh, ekspresi wajah, senyuman, intonasi suara dan cara berpakaian) hanya 7% dari kata-kata yang digunakan atau aspek verbal.

Meskipun komunikasi dilakukan secara daring, namun asas-asas komunikasi tetap sama, baik secara langsung atau konvensional maupun dalam jaringan. Seorang komunikator tetap harus memperhatikan aspek verbal atau kata-kata yang diucapkan, juga aspek nonverbal seperti gesture atau gerakan tubuh, ekspresi wajah, cara berpakaian, aksesoris yang digunakan, serta intonasi suara. Kedua aspek ini tidak hanya harus dimiliki oleh komunikator atau orang yang berbicara, namun juga sebagai komunikan atau sebagai pendengar.

Sebagai pendengar juga harus memperhatikan aspek-aspek tersebut seperti menggunakan pakaian yang sesuai dengan kegiatan yang diikuti, menghargai orang yang sedang berbicara, menunjukkan kahadiran dengan tidak menutup layar video dan tetap fokus memperhatikan orang yang sedang berbicara. Tidak ada salahnya sekali-kali kita juga memberikan respons yang baik kepada orang yang sedang berbicara seperti anggukan sebagai tanda persetujuan atau mendukung perkataan orang yang berbicara.

Tak kalah penting adalah membiasakan untuk tersenyum, karena berdasarkan hasil penelitian 92% orang dewasa Amerika percaya senyum menarik merupakan aset sosial yang penting, 74% mengatakan senyum yang tidak menarik, mengurangi kesempatan sukses dalam karir.

Selain kedua aspek ini, ada hal penting juga yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi daring yaitu hukum berkomunikasi yang terdiri dari REACH (Respec. Empaty, Audible, Clarity, Humble), dimana kita harus menunjukkan sikap respek atau menghargai baik sebagai pembicara maupun sebagai pendengar, peka terhadap situasi, pesan yang disampaikan secara jelas dan dapat didengar dengan baik serta enak di dengar, dan yang paling utama adalah seorang komunikator dan komunikan menunjukkan sikap ramah dan santun. Jika kelima aspek ini digunakan dengan baik, maka peran kita sebagai penyampai pesankah atau sebagai pendengar akan dapat berjalan dengan baik.

Meskipun wabah ini sudah berakhir sekalipun, era komunikasi daring akan tetap berkembang karena sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang menuntut interaksi dan komunikasi dilakukan secara daring atau online. Untuk itu kita senantiasa harus tetap memperhatikan aspek verbal maupun nonverbal agar komunikasi yang kita lakukan dapat efektif dan menyenangkan. (*)