Kurikulum Merdeka Ajar Menjawab Tantangan Perubahan

44

Negara kita Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran dalam waktu yang cukup lama. Hal itu terbukti saat masih banyak anak Indonesia yang tidak mampu memahami bacaan sederhana, atau konsep matematika dasar.

Juga terdapat kesenjangan pendidikan yang mencolok antar kelompok sosial dan wilayah di Indonesia. Hal itu diperparah oleh musibah pendemi covid-19 yang terjadi 3 tahun belakangan ini. Musibah pandemi tersebut banyak memengaruhi tatanan kehidupan baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan lainnya.

Di bidang pendidikan contohnya, pendidikan yang selama ini dilaksanakan secara tatap muka di sekolah, kini harus dilaksanakan secara daring (dalam jaringan). Hal ini tentunya memberikan dampak yang sangat besar terhadap proses dan hasil yang didapatkan. Banyak kendala yang dihadapi di lapangan baik oleh siswa maupun tenaga pendidik karena hal ini terjadi begitu mendesak dan tanpa persiapan yang matang.

Oleh sebab itu, pemerintah mengambil langkah meluncurkan kurikulum baru untuk menyiasati agar bisa berdadaptasi dengan kondisi pandemi yang tidak kunjung usai, yaitu dengan kurikulum prototipe yang diterapkan di beberapa sekolah penggerak yang melibatkan guru penggerak (terpilih).

Setelah menjalani beberapa percobaan di sekolah penggerak, akhirnya kurikulum ini resmi diluncurkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebagai kurikulum merdeka untuk menanggulangi krisis pembelajaran (LearningLoss). Sebelum kita menentukan sebuah strategi, tentu kita harus lebih mendalami atau menelisik lebih dalam tentang apa sebenarnya kurikulum merdeka itu.

Jika kita berangkat dari kata ‘merdeka’ yang berarti juga bebas atau tidak bergantung/independen, tentu saja kita peroleh makna bahwa kurikulum merdeka itu adalah kurikulum yang memberikan kebebasan kepada siswa, maupun guru untuk lebih leluasa dalam belajar, berinovasi, dan berinteraksi dalam pembelajaran sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat yang dimiliki siswa.

Menurut Makarim, 2021, esensi dari Kurikulum Merdeka Mengajar sebenarnya dapat dirumuskan dalam tiga hal pokok, yakni: (1) penyederhanaan konten pembelajaran yang berfokus pada materi esensial (simplecontent-basedlearning, (2) pembelajaran yang berbasis pada proyek yang kolaboratif, aplikatif, dan multi-disipliner (project-basedlearning), dan (3) fleksibelitas dan penyelarasan (fleksibelityandfluidity) dalam penetapan capaian pembelajaran (CP) dan pengaturan jam pelajaran melalui Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP).

Inti dari kurikulum merdeka ini adalah pembelajaran dengan merujuk kepada inti atau esensi dari sebuah pembelajaran itu yang dikemas secara lebih sederhana agar siswa mudah paham secara lebih dalam dan mendasar. Guru bebas menciptakan inovasi melalui perangkat pembelajaran menentukan model dan strategi yang tepat untuk menggali kemampuan siswa sesuai dengan bakat dan minat yang mereka miliki.

Belajar dari pengalaman yang sudah ada, masih banyak siswa yang tidak paham tujuan atau inti dari pembelajaran yang mereka ikuti, banyaknya materi yang mereka pelajari membuat mereka sedikit bingung apa sebenarnya inti dari pembelajaran tersebut hingga pada akhirnya mereka malas menggali dan memahami sehingga sangat berdampak pada kualitas siswa itu kedepannya.

Setelah kita mengetahui apa itu kurikulum merdeka, maka kita akan melihat sejenak bagaimana kurikulum ini diterapkan di sekolah. Dalam penerapan kurikulum merdeka ini, guru akan lebih leluasa dalam memilih perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Guru juga bebas membuat projek untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu. Mengaplikasikan kurikulum merdeka di sekolah tentunya tidak lepas dari kerjasama semua pihak. Pemerintah, sekolah, guru dan juga siswa harus saling bergandengan demi terwujudnya cita-cita yang diinginkan dari kurikulum merdeka ini.

Baca Juga:  Tirulah Italia

Pada kurikulum merdeka ini, sebenarnya siswa diberikan ‘kebebasan’ dalam artian bebas berpikir, bebas berpendapat, bebas mengekspresikan kemampuan diri dalam susasana persaudaraan dan keterbukaan. Pada akhirnya akan terbentuk jiwa-jiwa yang percaya akan kemampuan yang mereka miliki, minat dan bakat yang harus diasah sehingga mereka menemukan apa yang sebenarnya ada pada diri mereka.

Di sinilah peran seorang guru dibutuhkan, Guru yang dalam hal ini sebagai pengamat, penggali, dan pemerhati dari bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa mereka harus jeli dan juga kreatif.

Guru harus mampu menghidangkan jamuan-jamuan ilmu dengan lebih sederhana, tidak berbelit atau langsung kepada inti pembelajaran, dan lebih mendalam atau fokus kepada hal yang ingin dicapai. Dalam hal ini tentu saja guru yang dibutuhkan pada era ‘Kurikulum Merdeka’ ini bukanlah sembarang guru, artinya guru haruslah ‘kekinian’ tidak gaptek dan memiliki skil yang mumpuni dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan fakta-fakta yang kita temui di ‘era kurikulum merdeka ini’ sudah sepantasnya kita tentukan strategi pembelajaran apa yang sebenarnya paling cocok untuk diterapkan di era ini. Tidak dapat dipungkiri, bahwa teknologi akhir-akhir ini menjadi hal yang harus dikuasai. Sebab pembelajaran tidak semua bisa dilakukan di sekolah secara tatap muka.

Jam pembelajaran tatap muka yang tidak sepenuhnya bisa dilakukan, akan menjadi lebih optimal jika diselingi dengan pembelajaran daring. Sebelum guru memberikan materi di sekolah, dalam grup media sosial yang sudah disepakati, guru bisa memaparkan tujuan pembelajaran yang harus dicapai bersama, menugaskan kepada siswa untuk mempelajari inti-inti dari materi tersebut, sehingga pada saat pembelajaran tatap muka berlangsung siswa sudah nyambungatau connecttentang materi hari itu.

Guru bisa lebih mudah meminta pendapat siswa mengenai satu hal, berdiskusi tentang sebuah topik atau isu yang diangkat, sehingga guru juga bisa menilai dan paham bagaimana karakteristik, pengetahuan, minat dan bakat seorang siswa melalui diskusi-diskusi kecil yang dilakukan di kelas.

Sebab siswa harus dibawa berpikir kritis untuk merangsang daya pikir mereka. Dengan berpikir kritis tersebut siswa bisa lebih terlatih dalam beliterasi (misalnya membuat karya tulis sederhana), dan juga dalam kemampuan numerasi.

Dengan strategi perpaduan antara daring dan tatap muka diharapkan pembelajaran di era kurikulum merdeka ini dapat berjalan dengan semestinya sehingga ketertinggalan dalam dunia pendidikan kita dapat kita kejar dan kita atasi dengan baik.

Mewujudakan pembelajaran yang berkualitas dengan perpaduan antara luring dan daring tentunya juga memerlukan beberapa persiapan. Tenaga pengajar dan siswa harus paham dengan teknologi. Guru yang mengajar dituntut terampil tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, akan tetapi juga pada bidang teknologi.

Tidak mungkin pembelajaran akan terwujud dengan baik jika gurunya masih minim di bidang IT. Tidak hanya guru, siswa juga harus dibekali dengan pengetahuan di bidang IT sebagai penunjang bagi pendidikan mereka. (*)(Hengki Fikra, Guru SMAN 1 Lareh Sago Halaban Limapuluh Kota)