Antisipasi Bencana Banjir Akhir Tahun

49
ilustrasi. (net)

Isril Berd
Guru Besar Fateta Unand/ Forum DAS Padang

Mengantisipasi bencana banjir akhir tahun sebuah pemikiran berlandasan pengalaman empiris yang mengharuskan berbuat untuk menghadapi bencana banjir dan longsor berkepanjangan terjadi. Serta, berulang kali pula makan korban harta benda bahkan korban jiwa.

“Kita tentu tidak ingin bencana itu terjadi lagi pada akhir tahun ini. Manusia yang memiliki ilmu pengetahuan tentu tidak mau lagi mengulangi peristiwa-peristiwa memilukan itu. Cuma masalahnya, manusia selalu lupa atau sepele karena merasa bencana itu tidak berdampak langsung kepada dirinya. Sebuah kebiasaan buruk yang harus dihilangkan. Lebih lanjut dinyatakan juga bahwa pemangku kebijakan, orang-orang penting atau terpelajar selalu berada di tempat aman, di perkotaan atau klaster yang sudah memiliki standar kenyamanan tinggi. Tetapi, lihat lah masyarakat di wilayah nagari yang tak jauh dari sungai, atau perbukitan pinggir hutan. Ancaman banjir dan tanah longsor siap mengintai”. Tajuk Rencana Padang Ekspres, kemarin (24/9).

Kita tentu sangat paham atas apa yang dipesankan dalam Tajuk Rencana Padang Ekspres tersebut, karena fenomena ancaman bencana banjir selalu saja hadir di mana dan kapan saja berulang kali di daerah ini, sepertinya sebuah pembiaran terhadap bencana banjir dan longsor yang datang mencekam tersebut. Oleh karena itu, bisa saja muncul sebuah dugaan apakah tidak ada program untuk mengatasi atau memitigasi bencana banjir dan longsor tersebut secara terstruktur dan terukur.

Apakah tidak ada grand design pembangunan tentang pengelolaan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat karena selalu saja terjadi banjir lagi, longsor lagi. Kalau begini terus, kita dicekam bencana tentu keselamatan dan keterpurukan kesejahteraan akan terpapar terus menerus di samping pandemi Covid 19 masih mengancam saja ternyata ada yang terpapar positif.

Salahkah kalau masyarakat mendambakan untuk mencari dan memilih pejabat pengelola provinsi, kabupaten maupun kota mendapatkan orang yang mengerti, paham dan peduli tentang biofisik dan lingkungan Sumbar, serta kabupaten/ kota ini. Bukan hanya bagaimana memperoleh pendapatan asli daerah (PAD), tanpa peduli dan berbuat untuk menjaga dan memelihara biofisik sosekbud daerah ini.

Karena saat ini calon kepala daerah sudah ada, tentu kita tidak lagi dalam tahapan mencari tapi kita kini dihadapkan kepada harus memilih dari cakada yang sudah ada. Pilihan kita sangat terbatas dari calon yang sudah ada tersebut, dan siapa di antaranya yang paham dan mengerti, serta punya kemauan memperhatikan dan memelihara, serta berbuat untuk memulihkan biofisik daerah ini. Serta, keberpihakan kepada kehidupan kesejahteraan masyarakat.

Adakah grand design pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah ini untuk kesejahteraan masyarakat dalam program-program cakada yang mereka usung.
Menarik apa yang diungkapkan Agusli Thaher (2020), tidakkah muara otonomi daerah itu adalah peningkatan partisipasi masyarakat dan kemandirian daerah otonom dalam pembangunan di daerahnya. Inilah persoalannya. Sumbar berada di hulu. Indikasinya sangat jelas, diisyaratkan oleh laju pertumbuhan ekonomi Sumbar dan PAD yang masih rendah. Artinya, tingkat ketergantungan APBD Sumbar masih tinggi ke pemerintah pusat.

Baca Juga:  Kearifan Lokal, Pembentukan Karakter Berbahasa

Oleh karena itu, elite Sumbar perlu menetapan grand design pembangunan daerah yang lebih kontekstual dan realististik, serta inovatif dan solute. Pernyataan ini bisa dikatakan sejalan dengan apa yang diungkapkan Tajuk Rencana Padang Ekspres tersebut, paling tidak sama-sama bermuara kepada manajemen pelaku daerah ini.

Beberapa tahun terakhir wilayah di Sumbar memang sering dilanda banjir dan longsor pada waktu musim hujan datangnya di akhir tahun. Hal ini dipicu beberapa faktor, antara lain curah hujan melebihi batas normal, kerusakan lingkungan, perubahan iklim global, dan kapasitas saluran air baik sungai maupun drainase, serta lainnya tidak memadai. Dari beberapa penyebab banjir tersebut, paling dominan sebagai faktor penyebab ialah akibat rusaknya tata guna lahan, lingkungan suatu DAS, dan tidak memadainya kapasitas saluran air baik sungai, drainase dan lainnya di wilayah tersebut.

Keberhasilan mengatasi banjir dan longsor tidak hanya diupayakan dengan ketersediaan drainase saja. Namun, juga ditentukan oleh kondisi dan kualitas lingkungan, intesitas hujan yang terjadi dan kepedulian masyarakat, serta dukungan manajemen pelaku daerah terhadap pengendalian banjir dan longsor di daerah ini.

Merujuk kepada sistem drainase sebagai alternatif pemecahan masalah untuk mengurangi dan menghilangkan genangan atau banjir mempunyai pengertian tidak hanya sarana penyaluran genangan air melalui pembuatan saluran drainase saja, melainkan mengandung arti lebih luas yaitu suatu sarana untuk membuang kelebihan atau genangan air sebesar-besarnya, baik melalui peresapan air ke dalam tanah, pembuangan air secara alami, maupun pembuangan air melalui sarana pembuangan buatan seperti saluran drainase maupun sumur resapan dan waduk retensi.

Benar sekali untuk menyikapi dari apa pesan peringatan dini BMKG, waspada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat disertai petir/kilat dan angin kencang di beberapa wilayah di Sumbar, berarti potensi banjir dan longsor akan semakin mengancam Sumbar dan daerah lainnya, karena sudah banyak terjadi penggurunan atau degradasi lahan dan lingkungan.

Bencana alam banjir, longsor dan kekeringan yang terjadidi silih berganti yang berdampak pada kerusakan lingkungan menjadi keprihatinan banyak pihak. Rendahnya daya dukung DAS sebagai suatu ekosistem diduga salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam terkait dengan air (water related disaster) tersebut.

Jelas sekali pemahaman yang ditangkap dari pesan Tajuk Rencana Padang Ekspres tersebut yang mengarah kepada kebijakan manajemen daerah peduli terhadap pengelolaan lingkungan yang tidak akan menimbulkan bencana banjir dan longsor berkepanjangan. Hal ini diwujudkan lewat grand design pembangunan daerah dan lingkungan berkelanjutan.