Gubernur Baru, Salam Lima Jari

41
Khairul Ikhwan. (net)

Khairul Ikhwan
Dosen STKIP Adzkia

Kemarin (25/2), Presiden Jokowi resmi melantik Mahyeldi Ansharullah-Audy Joinaldy menjadi gubernur/wakil gubernur Sumbar. Inilah tahapan akhir pelaksanaan pemilihan gubernur (Pilgub) Sumbar. Proses pelantikan ini sudah berjalan sejak keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan gugatan yang diajukan paslon Nasrul Abit-Indra Catri dan Mulyadi-Ali Mukhni.

Sebagaimana diketahui sesuai Pasal 160 A ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Penetapan Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menyatakan bahwa pengesahan pengangkatan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dilakukan paling lambat 14 hari kerja sejak diterimanya usulan.

Berikutnya Mahyeldi-Audy Gubernur Sumbar terpilih tentu juga sudah menyiapkan apa saja yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Mahyeldi, gubernur Sumbar terpilih ini merupakan alumni Unand satu-satunya maju pilkada dan banyak dibantu sesama almamater, serta dipastikan membuat program 100 hari masa jabatan.

Tidak hanya program 100 hari bakal dirancang, gubernur yang juga Ketua IKA Faperta Unand ini sesuai aturan perundangan yang berlaku juga harus menyiapkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2021-2024. Tentunya, selaras dengan RPJPD 2005-2025 yang telah dibahas kepala daerah sebelumnya.

Berangkat dari pengalaman dan jam terbang Mahyeldi yang sebelumnya wali kota Padang, dirasa tidak akan sulit menuntaskan langkah 100 hari kerja maupun menyusun RPJMD tersebut. Namun yang akan menjadi masalah nanti adalah apa yang akan dikerjakan melalui RPJMD tersebut tidak akan terealisasikan secara efektif dengan masa jabatan kepala daerah Sumbar ini yang kurang dari 4 tahun sesuai aturan terbaru.

Sedangkan masalah berikutnya adalah melalui dukungan politik di parlemen, karena PKS-PPP tidak memiliki kursi yang signifikan. Sehingga, realisasi RPJMD atau program unggulan Mahyeldi-Audy ke depan perlu dan harus mampu melakukan konsolidasi kekuatan lintas partai untuk menopangnya.

Jika dukungan politik ditambah dengan waktu jabatan periodesasi yang pendek, disinyalir bakal berdampak pada kinerja yang tidak maksimal. Maka dari itu, ke depan bisa diasumsikan pemenuhan janji visi-misi dan janji kampanye tidak akan bisa terwujud atau tidak akan bisa dinikmati masyarakat dengan baik.

Baca Juga:  Yakin Lai, Kok Picayo Antah Lah…

Penulis yang juga alumni Unand memahami kondisi yang ada, namun berkat kemampuan dan sinergisitas Mahyeldi dan Audy akan sanggup menghadapi keadaan yang diuraikan di atas. Langkah ini juga sudah nampak terantisipasi ketika Mahyeldi-Audy menampilkan sikap dan tebar salam 5 jari atau yang dimaksud salam Pancasila dengan sila ke-5 nya. Semua akan dapat porsi sesuai kekuatan politik.

Melalui berita daerah, Mahyeldi dan Audy Joinaldy menyatakan hingga hari ini, besok, dan hingga hari-hari berikutnya, paskapelantikan pun salam warga Sumbar adalah tetap dengan salam 5 jari. 5 jari yang dimaksud adalah simbol dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang termaktub di dalam sila ke 5 Pancasila. Bunyi Sila ke 5 itu adalah ”Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Ini adalah implementasi bagi warga Sumbar bagian dari NKRI guna mewujudkan keadilan sosial.

Berarti Mahyeldi-Audy tetap akan menebar keadilan sosial dan akan merangkul semua kalangan dan komponen, baik komponen politik, sosial maupun dari lainnya. Menurut penulis, agar semua gagasan, visi-misi, progul (program unggulan), dan janji kampanye bisa terealiasi melalui RPJMD nanti sudah menjadi hal yang mutlak untuk secepatnya dilakukan konsolidasi dengan para tokoh dan pihak, masa atau dengan merangkul kandidat kepala daerah lainnya yang tidak beruntung melalui salam 5 jari tersebut.

Secara teori salam 5 jari yang dimaksud sangat dibutuhkan oleh masyarakat Sumbar apalagi di saat pandemi Covid-19, termasuk pesaing Mahyeldi-Audy ketika sosialiasi pemenangan ditemui banyak menyebar gerakan lima jari melalui metode kampanyenya, yang dirasa banyak membantu masyarakat dalam hal ini dibutuhkan partisipasi banyak kekuatan agar lebih maksimal atas program yang ada.

Mahyeldi-Audy memiliki keterbatasan secara manusiawi dan politik, sebesar apapun yang diwacanakan dan akan dilakukan ke depan, dipastikan realitas lain bisa juga muncul, dalam hal ini diminta pada lapisan masyarakat untuk bersabar menunggu realiasi-realiasi janji tersebut dan mencoba memaklumi bahwa kelak tidak akan ditemui kejadian yang ideal. Wallahu’alam. (*)

Previous articlePicu Kerumunan, Enam Kafe Ditegur, 12 Motor Dikandangkan
Next articleLantik 11 Kada, Gubernur Mahyeldi: Kita Harus Kerja Sama