Mengapa Universitas Kita Gemar Jadi "University", Sementara Leiden Tetap "Universiteit"?

Penulis: Berri Brilliant Albar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas
PADEK.JAWAPOS.COM–Ketika berbagai perguruan tinggi di Indonesia melangkah ke panggung internasional untuk mengejar pemeringkatan dunia, ada satu hal yang hampir selalu ikut dikorbankan: namanya. Istilah resmi "Universitas" yang sakral sering kali otomatis bergeser menjadi "University" dalam brosur, jurnal, rilis pers, hingga situs web berbahasa Inggris resmi mereka.
Sebaliknya, jika kita menengok tetangga serumpun kita di Malaysia, kampus nomor satu mereka sangat kukuh mempertahankan jati dirinya. Universiti Malaya (UM), yang saat ini bertengger di jajaran elite dunia, tidak pernah sudi mengubah namanya menjadi Malaya University di panggung internasional.
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh perguruan tinggi papan atas di Eropa yang terkenal cukup "keras kepala" terhadap identitas mereka. Kampus-kampus legendaris seperti Universiteit Leiden di Belanda, Universität Heidelberg di Jerman, hingga Sorbonne Université di Prancis memilih membiarkan dunia yang datang untuk belajar mengeja bahasa asli mereka, alih-alih merombak nama resmi menjadi ejaan bahasa Inggris.
Mengapa universitas di Indonesia begitu rapuh mempertahankan nomenklatur aslinya dalam konteks branding global?
Inferioritas Merek dan Strategi Jalan Pintas Internasionalisasi
Dalam teori manajemen merek internasional, keputusan untuk menerjemahkan kata "Universitas" menjadi "University" sering kali dipicu oleh motif asimilasi merek (brand assimilation) demi kenyamanan pasar.
Institusi pendidikan dari negara berkembang sering kali merasa bahwa dengan menggunakan istilah bahasa Inggris, merek mereka akan langsung terkesan global, modern, dan sejajar dengan kampus-kampus di Amerika atau Inggris. Ada semacam rasa kurang percaya diri (brand inferiority) jika tetap menggunakan istilah lokal, yang dikhawatirkan akan membuat kampus tersebut terlihat "kurang internasional" di mata calon mahasiswa asing atau lembaga pemeringkat dunia.
Menerjemahkan nama dianggap sebagai jalan pintas (short cut) agar entitas mereka langsung dipahami oleh konsumen global tanpa perlu bersusah payah mengedukasi pasar.
Belajar dari Eropa: Ekuitas Merek Berbasis Otentisitas
Mengapa Universiteit Leiden tetap menggunakan kata Universiteit? Jawabannya terletak pada kekuatan otentisitas merek (brand authenticity). Bagi kampus-kampus tua di Eropa, bahasa asli mereka adalah bagian dari akar sejarah, prestise, dan kualitas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Dalam hukum pemasaran, otentisitas adalah kasta tertinggi dari sebuah merek. Ketika sebuah kampus mempertahankan kata Universiteit atau Université, mereka sebenarnya sedang memanfaatkan country-of-origin effect (efek negara asal).
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




