
Sehari menjelang peringatan Hari Puisi Nasional 2026, penyair asal Payakumbuh, Sumbar, Iyut Fitra, dipanggil Sang Khalik. Menurut istrinya, Zarni Jamila, Iyut Fitra yang bernama asli Zulfitra, meninggal di RSUP.M Djamil Padang, Senin (27/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Kepergian lelaki yang menyala dengan puisi ini menyisakan begitu banyak kenangan.
Catatan: Fajar Rillah Vesky
"Ke sana, ke stasiun
berulang-ulang suara tiada jemu memanggil
namun kita hanya terpana
selalu bertanya-tanya
tentang kenangan
tapi lupa akan Tuhan"
Itulah puisi yang ditulis penyair Iyut Fitra di dinding rumahnya, kawasan Padangtongah, Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh. Setiap orang yang pernah singgah ke rumah Iyut, pasti membaca puisi berjudul "Stasiun Kenangan" itu. Sebab, selain ditulis dengan huruf ber-font besar, warna tulisannya juga mencolok di mata.
Ya, Iyut sengaja menulis puisi itu dengan cat minyak berwarna ungu. Kata Ilham Yusardi, alumni Fakultas Sastra Unand, Iyut menulis puisi itu bukan untuk dirinya saja. Bukan pula untuk dibaca-baca Zarni Jamila, pegawai Disdikbud Limapuluh Kota yang dinikahi Iyut bertahun silam.
Lebih dari itu, Iyut ingin mengingatkan setiap insan, betapa pentingnya mengingat Tuhan, ketimbang sekedar mencatat kenangan.
Ah, entahlah. Iyut Fitra semasa hidupnya, hanya tersenyum ketika ditanya soal "Stasiun Kenangan". "Wah, itu puisi lama, dibuat Februari 1999," ucapnya.
Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, 16 Februari 1968. Ia merupakan ungsu dari tujuh bersaudara. Hasil pernikahan pasangan suami-istri Safri dan Jawani. Sebagai penyair, Iyut telah menyalami dalamnya lautan sastra nusantara. Ia juga telah menjelajahi berbagai belahan bumi. Mulai dari Malaysia, Singapura, sampai Australia.
Di Austria, Iyut Fitra pada 13 sampai 16 Mei 2010 silam, mewakili Indonesia dalam The Festival Of Australian Writing WordStorm 2010. Ini semacam festifal yang mempertemukan penulis dari Asia Pasifik dan Australia. Saat itu, Iyut Fitra mewakili Indonesia bersama penulis "Laskar Pelangi" Andrea Hirata, editor Jurnal Perempuan MGuntur Romli, dan cerpenis Yulianti Farid.
Iyut Fitra adalah potret nyata penyair dan penulis daerah yang bisa go-nasional dan internasional.
Pria berambut gondrong ini lebih banyak melewati karier kepenulisan di daerah. Seperti cerpenis Gus tf Sakai dan sastrawan Adri Sandra yang tinggal sekota dengannya, Iyut memilih tidak "merantaukan" fisik. Dia lebih senang menetap di Payakumbuh, Sumbar.
Di kota itu pula, Iyut pada tanggal 2 Mei 1990 mendirikan komunitas seni Intro bersama sejumlah pelaku seni. Diantaranya, Yusril Katil, Ijot Goblin, Cibot Irsa, Petra, Rudi Cirut, YM Dallu Awartha. dan Sigit A Yazid. Belakangan, Yusril menjadi dosen di ISI Padangpanjang. Sedangkan Sigit dan Ijot sudah lama berpulang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




