
Oleh: Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai dan Dosen UM Sumbar
PADEK.JAWAPOS.COM-Timur Tengah adalah panggung paradoks yang tak pernah sepi: tanah yang diberkahi sumber daya, tetapi dihantui kekurangan rasa aman.
Dentuman misil dan drone pada 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran, bukan hanya mengguncang langit Teheran, tetapi juga menebarkan getar ke seluruh Teluk Persia.
Dunia terperanjat ketika balasan Iran tidak berhenti pada Israel dan pasukan Amerika, melainkan merambah ke beberapa negara Teluk.
Mengapa negeri-negeri yang tampak netral ikut terseret? Jawabannya terletak pada jalinan geopolitik: pangkalan militer, jaringan logistik, dan infrastruktur perang Amerika bersemayam di tanah Teluk.
Bagi Iran, serangan balasan bukan sekadar aksi militer, melainkan pesan politik: ancaman terhadap kedaulatan tidak mengenal batas negara.
Mosaik Teluk: Lebih dari Sekadar Peta
Istilah “Negara Teluk” sering dipahami sebagai semua negeri yang mengelilingi Teluk Persia. Namun secara politik, hanya enam negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council): Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Iran dan Irak, meski berbatasan langsung dengan Teluk, tetap berada di luar lingkaran ini. Perbedaan ideologi dan sejarah menjadi tembok pemisah. Iran dengan republik Islamnya berdiri di luar monarki Arab yang konservatif.
Irak, pasca pergolakan panjang setelah tumbangnya Saddam Hussein, belum menemukan pijakan stabil di antara tetangga Teluknya. Populasi kawasan ini memperlihatkan kontras yang tajam. Iran berpenduduk sekitar 93 juta jiwa, Irak 48 juta, sementara total enam negara GCC hanya 62 juta jiwa.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





