Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Warga Taiwan Memilih Menjauh Saat Terjadi Kecelakaan?

I
Penulis: Indah Maya Sari❯
Ilustrasi Jalan Raya di Taiwan (Foto: tingyaoh from Pixabay)
Ilustrasi Jalan Raya di Taiwan (Foto: tingyaoh from Pixabay)

Advertisement

Penulis: Indah Maya Sari, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas

PADEK.JAWAPOS.COM–Bagi warga Indonesia yang mengendarai motor atau berjalan kaki di Taiwan, ada satu fenomena di jalan raya yang sering kali memicu rasa heran sekaligus bingung. Ketika terjadi kecelakaan lalu lintas—misalnya seorang pengendara skuter tergelincir atau bersenggolan hingga terkapar di aspal—para pengguna jalan di sekitarnya sering kali hanya melambat, melihat, lalu melanjutkan perjalanan.

Sangat jarang ada kerumunan warga yang langsung berlarian menghampiri korban, menggotongnya ke pinggir trotoar, atau mencoba memijat luka-lukanya seperti yang biasa kita lihat di tanah air. Di mata orang asing, respons yang minim ini sering kali dicap secara miring sebagai sikap acuh tak acuh, egois, atau hilangnya rasa kemanusiaan di tengah masyarakat urban yang modern.

Advertisement

Namun, benarkah orang Taiwan sedingin itu? Jika kita membedah fenomena ini dari sudut pandang hukum sengketa sipil, protokol darurat medis, serta kesadaran keselamatan nasional, apa yang terlihat sebagai "keapatisan" sebenarnya dapat dipahami sebagai bentuk kepatuhan yang ketat terhadap prosedur dan ketakutan finansial yang rasional.

Momok Hukum Sengketa Sipil dan Jebakan "Niat Baik"

Akar masalah utama mengapa orang Taiwan sangat berhati-hati, bahkan cenderung menghindar, untuk menyentuh korban kecelakaan adalah risiko gugatan hukum sekunder. Di Taiwan, sistem peradilan sipilnya sangat aktif dan masyarakatnya sangat melek hukum.

Advertisement

Sayangnya, hal ini menciptakan efek samping berupa tingginya tingkat tuntutan hukum atas dasar kerugian finansial.

Di masa lalu, sempat terjadi beberapa kasus terkenal ketika seorang "Samaritan yang Baik" (Good Samaritan) mencoba menolong korban kecelakaan di jalan. Namun, karena korban mengalami cedera yang lebih parah setelah dipindahkan, misalnya cedera tulang belakang atau patah tulang akibat posisi yang salah, keluarga korban justru menuntut sang penolong ke pengadilan atas tuduhan kelalaian yang memperparah luka, atau bahkan menuduh sang penolong sebagai penyebab kecelakaan yang sebenarnya.

Meskipun Taiwan telah berupaya melindungi para penolong melalui penyesuaian regulasi serupa Good Samaritan Law dalam undang-undang darurat mereka, ketakutan psikologis di tengah masyarakat sudah telanjur mengakar. Bagi rata-rata warga Taiwan, menyentuh tubuh korban atau memindahkan kendaraan di tempat kejadian perkara (TKP) adalah tindakan berisiko tinggi yang bisa menyeret mereka ke dalam pusaran penyelidikan polisi, sidang pengadilan yang melelahkan, hingga potensi tuntutan ganti rugi yang dapat menghancurkan kondisi finansial mereka.

Protokol Medis: Serahkan Segala Urusan kepada Profesional

Faktor kedua adalah literasi keselamatan medis yang ditanamkan sejak usia dini di sekolah-sekolah Taiwan. Masyarakat Taiwan sangat dididik untuk memahami bahwa memindahkan korban kecelakaan tanpa keahlian medis dan peralatan yang tepat merupakan tindakan yang sangat berbahaya.

Mereka tahu bahwa cedera dalam—seperti pendarahan internal atau trauma leher—tidak terlihat dari luar. Mengangkat korban secara sembarangan justru bisa berakibat fatal, seperti kelumpuhan permanen atau kematian. Oleh karena itu, bagi orang Taiwan, tindakan "menolong" yang paling benar, aman, dan logis bukanlah dengan menyentuh fisik korban, melainkan dengan mengamankan situasi secara digital dan prosedural.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Candu 'Untung-untungan' di Formosa: Mengapa Orang Taiwan Sangat Suka Gacha dan Berburu Lotre Struk?

Candu 'Untung-untungan' di Formosa: Mengapa Orang Taiwan Sangat Suka Gacha dan Berburu Lotre Struk?

Gacha dan lotre struk menjadi budaya unik di Taiwan. Simak alasan ekonomi dan psikologi di balik kebiasaan berburu keberuntungan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer