Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perang Bukan Lagi Soal Peluru

j
Penulis: jpg❯
Teddy Hadi Yumitra
Teddy Hadi Yumitra

Advertisement

Oleh: Teddy Hadi Yumitra, Mahasiswa Universitas Andalas

Dalam teori hubungan internasional, Clausewitz mengatakan bahwa perang adalah kelanjutan politik yang tidak terselesaikan melalui jalur diplomasi dan berakhir dengan cara-cara lain, seperti perang. Pada abad ke-21, rumusan ini perlu diperbarui karena banyak kejadian politik yang tidak terjamah oleh teori terdahulu.

Saat ini, dunia sedang dihadapkan pada fenomena unik, yaitu perang menjadi arena politik ketika suatu aktor negara membagikan video dalam bentuk animasi Lego berdurasi dua menit di platform YouTube.

Advertisement

Pada konflik AS-Iran yang meledak pada awal 2026, dunia menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam skala seperti ini sebelumnya. Sebuah kelompok media Iran bernama Explosive Media memproduksi video AI bergaya The Lego Movie yang dalam hitungan minggu meraup 50 juta tayangan dari puluhan akun YouTube.

Video-video itu tidak ditujukan kepada warga Iran karena seluruh konten yang diproduksi menggunakan bahasa Inggris, diiringi trap beats, serta penuh referensi budaya pop Amerika yang secara eksplisit dirancang untuk mengubah cara warga Amerika memandang negaranya sendiri.

Inilah dimensi kontemporer perang yang paling sering luput dari analisis. Konflik bersenjata modern tidak lagi hanya memperebutkan wilayah atau sumber daya, tetapi juga memperebutkan sesuatu yang jauh lebih sulit dipertahankan, yaitu legitimasi atau pengakuan di mata publik global, bahkan lebih krusial lagi di mata warga negara musuh itu sendiri.

Advertisement

Dalam studi hubungan internasional, konsep ini dikenal sebagai strategic narrative, yaitu upaya aktor negara membentuk cara publik memahami identitas, peristiwa, dan tujuan suatu konflik. Perlu diketahui bahwa yang baru bukan konsepnya, melainkan instrumennya.

Emma Briant, pakar information warfare dari Inggris, menyatakan bahwa teknologi AI kini memberi Iran kemampuan memanfaatkan budaya dengan cara yang sebelumnya tidak pernah bisa mereka lakukan. “Bahkan lima tahun lalu, menciptakan sesuatu yang menghibur secara budaya dan melekat bagi audiens Barat akan sangat, sangat sulit,” katanya.

Yang membuat fenomena ini berbeda secara kualitatif dari propaganda konvensional adalah siapa yang disasar. Video-video Lego Iran tidak menyasar mereka yang aktif mengikuti berita. Namun, sebaliknya, dengan meniru bahasa budaya internet sehari-hari, fenomena konten ini menjangkau jutaan orang yang sama sekali tidak mengikuti perkembangan di Timur Tengah.

Dalam video ini, instrumen humor menjadi mekanisme yang dapat menarik perhatian audiens. Ketika seseorang tertawa melihat animasi Lego Trump tersandung Epstein files, ia tidak sedang membaca propaganda, tetapi sedang disuguhi propaganda tanpa menyadarinya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer