Audit Produk Ber-SNI di Tengah Covid-19

Covid-19 mengoyahkan semua sendi-sendi kegiatan. Hal itu juga terasa pada kegiatan audit mutu produk untuk memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kebutuhan sebuah produk oleh pengguna (customer need), adalah merupakan sebuah perancangan produk yang akan di produksi oleh sebuah pabrik. Jadi ada dua pemangku kepentingan bila kita bicara dari segi kebutuhan pelanggan yakni; pelanggan itu sendiri dan pabrik pembuat produk.Ada parameter produk yang perlu ditetapkan untuk memenuhi harapan pelanggan, yang diatur dalam fungsi sebuah produk.

Pertama, aspek fungsi produk, menyesuaikan jenis produk yang dibutuhkan. Kedua, aspek keselamatan dan keamanan produk, contohnya aspek keamanan cat mainan anak terhadap kulit anak yang bersentuhan dengan mainan itu. Dan ketiga, aspek lingkungan. Contohnya ketahanan ban mobil yang digunakan di daerah tropis akan berbeda dengan penggunaan di Eropa yang mempunyai empat musim yang berpengaruh terhadap ketahanan gesekan ban sewaktu di gunakan. Parameter standar produk perlu ditetapkan untuk melindungi konsumen dari tiga aspek penting itu. Masing masing negara pengguna produk menetapkan standard produk yang boleh diperdagangkan di pasar.

Standar Nasional Indonesia (SNI) mengatur produk yang beredar di pasar Indonesia. SIRIM, mengatur produk yang beredar di Malaysia, TIS di Thailand, CCC di Tingkok, SASO di Saudi Arabia, dan lain sebagainya.Tetapan mutu produk wajib ber-SNI harus dipatuhi oleh penjual/pengimpor, yang beredar di pasar. Parameter mutu SNI ditetapkan oleh panitia teknis masing masing produk, yang akan diuji di laboratorium resmi yang telah ditunjuk oleh Kemenetrian Perindustrian terhadap contoh produk sebelum diedarkan di pasar Indonesia.

Kementerian Perdagangan berwewenang memeriksa produk beredar yang diatur oleh direktorat khusus pengawasan barang beredar di pasar. Bilamana ditemukan produk wajib ber-SNI yang tidak memenuhi parameter mutu SNI beredar di pasar, maka pemilik produk wajib menarik produk bersangkutan dan tidak boleh memperdagangkannya. Bagi pelanggar ada sanksinya sesuai pelanggarannya. Parameter mutu produk akan diaudit di pabrik produk itu sendiri, dan mengambil contoh produk setelah adanya permintaan sertifikasi dari pemilik produk yang akan mengedarkan produk tersebut.Oleh karenanya pabrik pembuat produk akan merancang produknya juga mempertimbangkan standar produk, dimana produk akan digunakan. Dalam management pabrik perancangan ini dikendalikan oleh PPIC (product planning dan internal control).

Pengaruh Covid-19 terhadap SNI Produk

Lantas bagaimana proses audit mutu produk ekspor/ import, untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), selama masa lockdown Covid-19?Harus diakui, covid-19 juga terasa berpengaruh pada kegiatan audit mutu produk untuk memenuhi persyaratan SNI. Dalam pemenuhan regulasi produk yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional (BSN) dan petunjuk pelaksanaan yang diatur dalam skema audit oleh Pusat Standardisasi Industri (PSI) di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, telah menetapkan kebijakan mutu barang dengan skema SNI wajib terhadap beberapa produk ekspor dan import ( sekitar 114 jenis produk).

Dalam rangka penelitian mutu barang dilakukan audit yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro), yang telah ditunjuk oleh PSI Kemenperind. Audit dilakukan dengan dua metoda. Pertama, auditi system management mutu proses mengikuti ketentuan ISO 9001:2015, yang disebut audit kecukupan atau desk audit tahap 1. Dan kedua, audit mutu barang dengan melihat proses pembuatan produk dan pengendalian mutu di pabrik pembuat, yang disebut audit penentuan atau audit diterminasi dan diikuti dengan pengambilan contoh yang akan diuji di laboratorium yang telah ditunjuk oleh PSI. Audit dilakukan untuk melihat mutu produk dari pemenuhan kaidah kesehatan, keselamatan/ keamanan dan aspek lingkungan. Untuk melaksanakan audit diterminasi, terlebih dulu dikirimkan rencana audit/audit plan dan rencana pengambilan contoh/sampling plan. Kemudian LSPro mengirimkan tim audit ke pabrik pembuat produk untuk melakukan audit lapangan.

Dengan adanya pandemik covid-19, dimana adanya aturan perjalanan yang tidak boleh dilakukan atau lockdown, dan kunjungan ke pabrik tidak dapat dilakukan, proses audit diterminasi ditata ulang melalui surat edaran KAN, No. 001/KAN/03/2020, tanggal 16 Maret, 2020 dan aturan BPPI No. 111/BPPI/ IND/IX/2020, yang mengisyaratkan pemenuhan jadwal assessmen/penilaian, surveillance/ pemeliharaan sertifikat SNI (berlaku 4 tahun, dan dapat diperpanjang), dapat dilakukan dengan system audit virtue/ jarak jauh mengikuti skema yang diatur dalam International Accreditation Forum/IAF MD 4:2018, dengan pengaturan mekanisma teleaudit yang disepakati oleh aditor dan pabrik/auditee.

Pada prinsipnya audit dapat dilakukan tanpa mengunjungi lokasi pabrik (selama masa lockdown), dengan melihat proses pabrik melalui rekaman video proses in situ pabrik dan meneliti dokumen dan rekaman pengendalian produk bersangkutan yang harus dikirim oleh pabrik sebelum dilakukan teleaudit. LSPro Ceprindo Jakarta yang ditunjuk oleh Kemenperind untuk mengaudit produk; keramik lantai dan dinding, kaca, peralatan makan minum dari keramik, kloset duduk, AMDK, semen, ban, pupuk, pelumas telah melakukan audit jarak jauh ini dengan mengikuti ketentuan regulasi di atas. Proses audit dapat dilangsungkan dengan menggunakan media zoom, wichat, google duo dan merekam proses teleaudit untuk digunakan dalam penentuan dan pengambilan contoh dilakukan oleh pabrik dan dikirimkan ke Indonesia (untuk produk impor), untuk diuji di laboratorium. Hasil rekaman teleaudit dan hasil pemeriksaan mutu produk di laboratorium, dijadikan acuan pemeriksaan oleh Tim Teknis yang bekerja independen, untuk merekomendasikan hasil audit yang dilakukan. Rekomendasi dapat berupa penerbitan sertifikat SNI, perpanjangan sertifikat dan status sertifikat. Sejauh ini yang telah dilakukan oleh LSPro-Ceprindo dengan berpedoman kepada regulasi diatas tidak ditemukan kendala, dan proses audit tetap bisa dilakukan.

Semoga bencana global covid-19 segera berakhir, dan proses audit mutu produk secara normal dapat dilakukan, untuk tetap memenuhi persyaratan SNI produk demi melindungi dan memenuhi selera konsumen. Aamiin. (*)

*Dasriel Adnan Noeha – Chairman LSPro-Ceprindo, Jakarta