Menghadapi Bencana tak Terduga

Ilustrasi.

Setiap 26 April biasanya diperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB). Peringatan HKB ini sudah berlangsung sejak tahun 2017. Jadi hari ini mestinya kita memperingati hari kesiapsiagaan tersebut, yang tiga tahun berturut-turut diisi dengan berbagi kegiatan semacam sosialisasi, simulasi/latihan evakuasi, dlsb. Kali ini HKB diperingati sangat spesial. Kita tidak lagi dalam persiapan, tapi sejak bulan lalu kita sudah langsung masuk ke dalam aksi. Bukan lagi persiapan. Apa yang terjadi?

Sebenarnya diadakannya acara peringatan HKB itu awalnya lebih kepada mempersiapkan masyarakat serta pemerintah sendiri untuk menghadapi bencana besar yang berasal dari ancaman bencana alam geologis/hidrometeorologis, khususnya gempabumi dan tsunami. Seperti diketahui, negeri kita memiliki banyak potensi sumber gempa dan tsunami dengan potensi daerah terdampak yang sangat luas. Walaupun Indonesia memiliki sejumlah potensi bencana alam geologis dan meteorologis lain, tapi yang menjadi ancaman yang terbesar adalah gempa bumi. Kenapa gempa bumi selama ini dianggap sebagai bencana alam yang paling menakutkan?

Pertama, waktu datangnya tiba-tiba. Walaupun ilmu pengetahuan terkait dengan gempa seperti seismologi sudah berkembang, begitupun dengan alat teknologi pendeteksi getaran, namun sampai sekarang tetap orang belum sukses memprediksi kapan datangnya gempa. Seandainya para ahli bisa memprediksi datangnya gempa satu jam saja sebelum datang, apalagi satu hari, maka insya Allah manusia bisa selamat dari dampaknya. Kerugian jiwa bisa dihindarkan dan kerugian harta benda pun bisa ditekan seminim mungkin. Kedua, daerah yang terdampak sangat luas. Semakin besar kekuatan gempa dan semakin dangkal kedalaman pusat gempa, maka semakin luas wilayah yang terkena dampak. Ketiga, gempa bumi juga bisa memicu bencana lain seperti antara lain tsunami dan longsor. Karena itu, keempat, gempa bumi biasanya menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Jadi, selama ini peringatan HKB sejak 2017 dilakukan selalu berkaitan dengan potensi bencana alam geologis, khususnya gempa bumi dan tsunami. Penetapan/pemilihan tanggal 26 sebagai peringatan HKB ini pun dikaitkan dengan sejarah bencana gempa bumi dahsyat yang diikuti oleh tsunami di Aceh 26 Desember 2004. Saat itu gempa bumi berkekuatan M9.2 berepisentrum di utara pulau Simeulue Aceh menimbulkan dampak tidak saja di Aceh, tapi juga di beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, bahkan juga sampai ke Srilangka, India dan Afrika Timur. Korban jiwa tercatat hampir 250.000 orang.

Bencana Virus Korona Covid-19

Kita kemudian dikejutkan oleh bencana lain yakni pandemi virus korona yang dikenal dengan Covid-19 (Corona Virus Disease:Covid-19). Virus yang pertama merebak di Kota Wuhan, ibukota provinsi Hubei di RRC kemudian menyebar ke segala penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Hampir semua negara tertular melalui penularan yang sangat cepat. Bahkan negara-negara maju saja sampai kewalahan menghadapinya. Negara-negara seperti Itali, Inggris, Spanyol dan Amerika Serikat pernah mengalami kematian lebih dari 700 jiwa dalam sehari. Karena penyebarannya berlangsung dengan sangat mudah dan cepat, sedangkan obat dan vaksinnya belum ditemukan, maka semua negara termasuk Indonesia melakukan berbagai upaya untuk menghambat dan memutus mata rantai penyebarannya.

Dengan ditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi oleh WHO 11 Maret 2020, maka pemerintah 13 Maret 2020 melalui Keppres no. 7 Tahun 2020 membentuk gugus tugas penanggulangan penyebaran wabah ini. Dalam Keppres tersebut Kepala BNPB ditetapkan sebagai Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Pasal 8). Dengan ditetapkannya kepala BNPB sebagai ketua pelaksana, maka secara struktural BNPB terlibat dalam penanganan dan pengendalian virus yang berbahaya ini, bekerjasama dengan berbagai badan/lembaga yang sudah ditetapkan oleh Keppres tersebut seperti (utamanya) Kementerian Kesehatan. Konsekuensinya, BPBD provinsi dan kota/kabupaten juga menjadi koordinator penanganan virus ini di daerahnya masing-masing yang juga bekerjasama dengan lembaga terkait yang disebutkan dalam Keppres, utamanya Dinas Kesehatan.

Dengan keterlibatan BNPB di pusat dan BPBD di daerah sebagai koordinator, maka badan ini hari-hari belakangan ini terlihat sangat sibuk. HKB yang sejak beberapa bulan lalu direncanakan dan sudah mulai dipersiapkan dengan pola yang sama dengan tahun lalu (tentunya dengan sejumlah rencana peningkatan), berubah total. Kita tidak lagi dalam paradigma kesiapsiagaan menghadapi bencana (dengan asumsi bencana gempabumi), tapi sudah langsung menghadapi bencana yang menakutkan. Tidak gempabumi dan bencana alam geologis lain, tapi penularan virus, yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kita sudah berhadapan dengan sejumlah korban, baik yang positif terkena virus, maupun yang meninggal.

Alhamdulillah, sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap peringatan HKB ini, BNPB sudah mengeluarkan instruksi kepada seluruh gubernur di Indonesia untuk tetap melaksanakan HKB, dengan fokus kepada percepatan penanganan darurat bencana Covid-19. Surat BNPB kepada para gubernur ini dengan No. B.307/BNPB/SU/PK.03/04/2020 dikeluarkan 23 April 2020. Surat ini berisi imbauan kepada para gubernur untuk dilaksanakan di daerahnya masing-masing, yakni dukungan untuk mempercepat penanganan virus Covid-19. Jadi, di tengah kesibukan menangani penyebaran virus berbahaya ini BNPB/BPBD tidak lupa melaksanakan kegiatan memperingati HKB yang keempat kalinya diselenggarakan. Hanya saja hal ini dilakukan dengan cara yang berbeda.

Tapi ada yang sangat kita khawatirkan, yakni jika dalam masa darurat bencana Covid-19 ini terjadi bencana alam geologis, terutama gempa bumi. Kekhawatirannya adalah bahwa ada hal yang bertolak belakang dalam mitigasi antara kedua bencana ini. Seperti yang kita ketahui, mitigasi jika bencana alam geologis terjadi adalah orang berkumpul atau dikumpulkan di suatu tempat. Evakuasi dilakukan dengan mengumpulkan para korban selamat mislnya ke TES atau shelter. Sementara itu mitigasi bencana virus korona Covid-19 utamanya adalah physical/social distancing (menjaga jarak) minimal satu meter. Orang diimbau bahkan diperintahkan untuk bekerja dari rumah saja (WFH-Work From Home) atau diam di rumah saja (Stay at Home), terutama dengan telah diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk sejumlah wilayah, termasuk Sumbar.

Kedua mitigasi berbeda jenis bencana yang sangat bertolak belakang ini tentu akan sangat merepotkan apabila keduanya terjadi secara bersamaan. Bahkan diprediksi dampak dari kedua bencana ini tidak dapat dikendalikan lagi. Ini bisa terjadi dimana saja di bumi ini. Tidak harus di Indonesia, apalagi di Sumatra Barat saja, tapi di wilayah manapun di permukaan bumi yang memiliki potensi bencana alam geologis. Harapan kita tentunya semoga gempa tidak terjadi, semoga Allah Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi kita dari musibah besar ini. Bahkan kita berdoa semoga wabah virus korona Covid-19 ini segera berakhir, sehingga kehidupan kita kembali berjalan normal. Aamiin YRA. (*)

*Badrul Mustafa – Dosen Unand-Forum PRB Sumbar