Ramadhan di Rumah

Ilustrasi

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu muslimin dan muslimat di seluruh dunia, karena pada bulan inilah sang maha pencipta, Allah SWT, mewajibkan umatnya untuk melakukan ibadah istimewa, yaitu puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Nilai penting lainnya pada bulan ini adalah saat Allah melipatgandakan segala amalan dan memberi ruang sempit bagi perbuatan maksiat dan dosa.

Namun bulan Ramadhan tahun ini yang dijalani di tengah masih menyebarnya wabah Covid-19 menjadi sangat berbeda dibanding bulan Ramadhan sebelumnya.

Kegiatan ibadah yang selama ini banyak dilaksanakan di masjid, kita pindahkan ke rumah dengan keyakinan bahwa ibadah di rumah lebih baik dari pada di masjid, demi menghindar terjadinya kerumunan massa dalam upaya memutus rantai penularan Covid-19 sesuai protokol kesehatan yang diintruksikan Organisasi kesehatan Dunia (WHO).

Sekretaris Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Asrorun Niam Sholeh mengatakan, setidaknya ada dua manfaat ibadah di rumah. Pertama, manfaat sosial yang terkecil yaitu memperkuat ketahanan kita sebagai keluarga, mempererat hubungan kekerabatan antar anggota keluarga yang bisa jadi di dalam kondisi normal tidak ditemukan.

”Kesibukan ayah, kesibukan ibu, kesibukan anak sekolah, kuliah, hanya sekadar bertemu bertegur sapa saja tidak sempat dan hari ini kita memiliki waktu yang cukup untuk bertemu bertegur sapa dan saling belajar,” ujarnya di Graha BNPB Jakarta, Minggu (19/4).

Hikmah kedua, yakni hikmah kesehatan masyarakat. Menurut Asrorun Niam, dengan aktivitas ibadah di rumah, kita berkontribusi untuk meminimalisir potensi penyebaran Covid-19. Asrorun Niam menjelakan, perubahan kebiasaan ini tidak mengurangi arti ketaatan kepada Allah SWT. Aktivitas ibadah di rumah bagian dari kemulian. ”Ini adalah tuntunan yang diajarkan dalam Islam, menjaga agama dan jiwa. Hifdzu-din dan hifdzun-nafs, dua hal inti syariat Islam yang menjadi tujuan pembangunan hukum Islam. Tidak dibenarkan melaksanakan ibadah yang menimbulkan terancamnya jiwa,” tuturnya.

Masjid sendiri seperti dikatakan Asrorun Niam tetap menjadi pusat penyiaran, penanda waktu azan di setiap waktu shalat dan pengumunan-pengumuman keagamaan. Takmir, muazin tetap mengumandangkan azan pada saat waktu shalat.

Pertanyaan mendasarnya, amalan ibadah apa saja yang dapat dilakukan di rumah agar mencapai derajat takwa? Pertama, amalan Ramadhan yang terpenting adalah melakukan puasa. Sebagaimana dijelaskan surat Al-Baqarah ayat 183, sangat jelas menegaskan bahwa tujuan berpuasa diadakan di bulan Ramadhan adalah agar kita semua memiliki kesempatan untuk mendapatkan ’tiket’ takwa. ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, demikian perintah tegas di ayat itu yang menyiratkan garansi takwa bagi orang-orang beriman yang melakukan ibadah puasa dengan segenap bonus pahala dan ganjaran lainnya secara serius dan ikhlas.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: ”Siapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari No. 1802 dan Muslim No. 760).

Maka tidak diragukan lagi, pahala yang besar ini tidak diberikan kepada orang yang sebatas meninggalkan makan dan minum. Hal ini juga sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam, ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu) ini merupakan kiasan bahwa Allah tidak menerima puasa tersebut.

Kedua, amalan Ramadhan yang bisa juga kita lakukan di rumah adalah dengan membaca dan menyelesaikan Al Quran. Ya, karena di momen Ramadhan ini bisa dijadikan untuk merutinkan, serta melebihkan dalam membaca Al Quran. Terutama, bagi yang jarang membaca Al Quran di bulan lainnya.

Membaca Al Quran, memiliki banyak sekali kebaikan, terlebih Allah SWT akan melipatgandakan pahala pada setiap amalan yang dilakukan oleh umat Islam di bulan suci Ramadhan ini. Selain itu, usahakan juga untuk bisa khatam. Tidak hanya mengejar khatam Al Quran, namun perlu juga diperhatikan untuk membacanya dengan baik dan benar. Meskipun sedikit, namun membacanya dengan baik dan benar dan terburu-buru dan dilakukan dengan istikamah.

Ketiga, salah satu amalan Ramadhan yang bisa dilakukan di rumah untuk meraih keuntungan besar adalah bersedekah. Rasulullah SAW orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan beliau semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan (HR. Al-Bukhari No 4711 dan Muslim No 2307).

Oleh karena itu, sudah semestinya kita sebagai umat muslim untuk mencontoh beliau di bulan yang penuh barakah ini dengan perbanyak sedekah, baik untuk kepentingan fi sabilillah maupun kaum dhu’afa dan fakir miskin yang terdampak dari wabah Covid-19 ini. Nah, salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan selama Ramadhan ini adalah memberikan ifthar (hidangan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, bahwasanya Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa yang memberi ifthar kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu. Tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut”. (HR Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Keempat, ibadah sunah khas di bulan Ramadhan adalah Shalat Tarawih. Shalat Tarawih ibadah yang dilakukan oleh Nabi SAW di malam bulan Ramadhan. Shalat ini bisa dilakukan di rumah apa lagi dalam kondisi wabah Covid-19 saat ini.

Pada masa Nabi Muhammad, Shalat Tarawih hanya dilakukan tiga atau empat kali saja di masjid selebihnya dilakukan di rumah. Melakukan Shalat Tarawih di rumah dalam kondisi saat ini juga akan membantu orang lain tidak tertular dengan wabah Covid-19, dan tentu hal ini akan menjadi amal ibadah bagi yang melakukannya.

Kelima, sesungguhnya malam dan siang Ramadhan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama. Oleh karena itu, sebaiknya digunakan untuk memperbanyak zikir dan doa. Khususnya pada waktu-waktu yang istijabah, di antaranya saat berpussa hingga berbuka, saat malam terutama pada sepertiga malam terakhir, dan saat sahur.

Semoga Ramadhan kali ini benar-benar mampu membentuk manusia baru, walaupun kita laksanakan di rumah. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa dengan niat mencari pahala dari Allah SWT, maka ia keluar dari bulan Ramadhan sebagaimana bayi baru lahir.” Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, semoga kita semua mencapai derajat takwa. (*)

*Ganefri – Rektor UNP/Ketua PW NU Sumbar