Bahaya Penggunaan Vitamin C untuk Cegah Covid-19

ilustrasi. (Jawapos.com)

Hansen Nasif
Ketua Bagian Ilmu Farmakologi & Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Unand

Saat ini penggunaan vitamin C atau asam askorbat lagi tren, lebih khusus lagi saat pandemi Covid-19 karena dianggap bisa meningkatkan daya tahan tubuh supaya tidak mudah terserang Covid-19. Malah banyak yang merasa makin sering mengkonsumsi vitamin C atau makin besar kadar yang diminum, justru makin baik.

Omset penjualan vitamin C baik dalam bentuk sediaan tunggal maupun dalam bentuk kombinasi dalam multivitamin telah melambung tinggi. Perusahaan-perusahaan farmasi yang memproduksi produk ini panen keuntungan dalam jumlah besar. Bahkan saking larisnya vitamin C dalam bentuk multivitamin, pernah sulit didapatkan saat bulan-bulan pertama pandemi Covid-19 melanda negeri kita ini.

Vitamin C sebenarnya digunakan untuk mencegah defisiensi dan mengobati scurvy /scorbut yaitu suatu kondisi yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C dalam jangka waktu lama, (ratusan tahun lalu sering menimpa pelaut yang berlayar untuk jangka waktu lama) yang bisa memicu pembengkakan dan perdarahan gusi. Kondisi ini sekarang jarang terjadi karena vitamin C cukup mudah ditemui pada berbagai jenis makanan terutama buah dan sayuran, di antaranya seperti jeruk, kentang, tomat, paprika merah.

Bahkan dalam sejarahnya, Dr James Lind tahun 1753 melalui penelitian terapetik terkontrol pada 12 orang pelaut dengan kondisi scurvy yang parah hanya dengan memberikan diet tambahan harian berupa 3 buah jeruk/ lemon dalam waktu satu minggu, mereka bisa pulih dan kembali bekerja. (Clinical Pharmacology, 2008) Defisiensi vitmin C bisa terjadi pada bayi, peminum alkohol, serta orangtua, namun jarang sekali terjadi pada usia dewasa.

Vitamin C juga dikenal sebagai antioksidan, dibutuhkan pada sintesa kalogen, berfungsi membantu proses enzimatik dalam tubuh, serta berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak. Vitamin ini termasuk larut air dengan kebutuhan harian bervariasi mulai 15 mg untuk anak-anak sampai 90 mg per hari untuk dewasa, dan hanya wanita menyusui yang membutuhkan vitamin C 120 mg setiap harinya. Pada pencegahan defisiensi hanya dibutuhkan 25-75 mg vitamin C sehari, dan pengobatan defisiensi hanya dibutuhkan 250 mg per hari. ( AHFS, 2011; Martindale 36, 2009)

Hal yang menarik adalah, ternyata vitamin C yang dijual di pasaran umumnya dengan kadar 500 mg sampai 1.000 mg, sedikit sekali vitamin C dengan kadar 250 dan sangat jarang dengan kadar 100 mg (silakan di-goggling ya). Lalu apa akibatnya jika kita mengkonsumsi vitamin C dengan kadar berlebihan ini? Kalau kita ambil contoh mereka yang mengkonsumsi vitamin C kadar 500 mg, maka mengkonsumsi 5x lipat kebutuhan harian (anggap saja kebutuhan harian 100 mg), dan jika mengkonsumsi vitamin C 1.000 mg maka mereka mengkonsumsi vitamin C dengan jumlah 10x lipat kebutuhan harian.

Vitamin C dengan kadar tinggi akan memicu mual, diare, kram otot perut (abdomen), serta gangguan saluran pencernaan lainnya. Kondisi berikutnya yang bisa terjadi adalah gangguan ginjal yang berhubungan dengan ekresi oksalat berlebihan. Suatu penelitian dengan memberikan vitamin C kadar 1.000 mg selama 3 hari pada subjek sehat menunjukkan hasil eksresi oksalat urine dan risiko kristalisasi kalsium oksalat meningkat secara signifikan. Penelitian lainnya pada subjek yang mengkonsumsi vitamin C lebih dari 1.000 mg sehari menunjukkan hasil yang signifikan terbentuknya batu pada ginjal. (Martindale 36, 2009).

Selain itu, analisis farmakokinetik menunjukkan tidak ada gunanya mengkonsumsi vitamin C dengan kadar berlebihan. Tubuh kita akan berusaha keras untuk menghindari akumulasi/ kelebihan vitamin C yang kita konsumsi, dan tubuh akan melakukan nya setidaknya melalui tiga cara berikut: Pertama, penyerapan vitamin C di usus akan dibuat sangat jenuh supaya jumlah vitamin C maksimum yang diserap pada kadar yang relatif rendah. Kedua, ginjal dengan cepat akan mengeluarkan vitamin C karena reabsorbsi dari tubulus ginjal setelah disaring oleh glomerulus ginjal juga sangat jenuh.

Ketiga, penyerapan vitamin C oleh jaringan tubuh akan dibuat jenuh, sehingga peningkatan kosentrasi vitamin C dalam darah (karena mengkonsumsi vitamin C kadar tinggi) tidak akan mengakibatkan peningkatan vitamin C pada jaringan tubuh kita. Faktanya konsentrasi vitamin C jaringan tubuh, diukur dalam leukosit, jenuh pada angka 100 mg/ hari.

Jadi, tidak peduli berapa tinggi kadar vitamin C yang kita konsumsi, yang terjadi adalah bahwa kita hanya akan meningkatkan kosentrasi vitamin C pada urine dan usus kita. Inilah yang jadi pemicu kerusakan ginjal dan gangguan saluran cerna seperti pemaparan di atas. (Meyler, 2016). Lalu, untuk apa gunanya kita mengkonsumsi vitamin C kadar tinggi sementara tubuh kita mati-matian menolaknya.

Sedikit tips untuk kita semua, tidak perlu mengkonsumsi sesuatu itu secara berlebihan dalam ini adalah vitamin C. Walaupun kondisi pandemi Covid-19 masih berlangsung, mari gunakan vitamin C dengan benar, jangan mudah terpengaruh medsos. Sayangi ginjal kita dan kalau masih ada yang ragu silakan tanya farmasis (apoteker) anda. Salam sehat selalu. (*)