APBN 2022, Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural

86

Oleh : Arsal, S.E, Kanwil DJPb Provinsi Sumbar

APBN tahun 2022 telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat tanggal 30 September 2021. Saat ini kita masih menghadapi kondisi yang tidak pasti akibat pandemi Covid 19 yang masih melanda. Banyak sekali tantangan dalam pembangunan yang harus diantisipasi dan dihadapi dengan respons yang tepat. Pandemi bisa saja merebak kembali dan berdampak pada ketidakpastian dalam menjalani tahun 2022. Untuk itu APBN tahun 2022 disusun dengan membawa tema pemulihan ekonomi dan reformasi struktural.

Terdapat 6 kebijakan utama,yang menjadi fokus pemerintah di tahun 2022 yaitu melanjutkan perlindungan terhadap COVID-19 dengan tetap memprioritaskan sektor kesehatan. Menjaga keberlanjutan program perlindungan sosial bagi masyarakat kurang mampu dan rentan. Selanjutnya peningkatan SDM yang unggul, melanjutkan pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kemampuan adaptasi teknologi. Lalu penguatan desentralisasi fiskal untuk peningkatan dan pemerataan kesejahteraan antar daerah dan melanjutkan reformasi penganggaran dengan menerapkan surplus budgeting agar belanja lebih efisien.

Terdapat beberapa asumsi makro yang disusun oleh pemerintah dalam penetapan APBN 2022. Asumsi tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi 5.2%, inflasi 3%, nilai tukar rupiah sebesar Rp. 14.350,- per 1 dolar amerika dan suku bunga SBN 10 tahun sebesar  6.8%. Adapun untuk harga minyak ditetapkan sebesar 68 dolar per barrel, lifting minyak mentah sebesar 703.000 barrel per hari, serta lifting gas alam sebesar 1,36 juta barrel per hari.

Untuk target pembangunan, pemerintah menargetkan tingkat pengangguran turun pada level 5,5 persen hingga 6,3 persen, sedangkan tingkat kemiskinan ditargetkan turun di bawah 9%  Selain itu rasio gini ditargetkan akan mebaik yaitu di angka 0,376 hingga 0,378. Indeks Pembangunan manusia ditargetkan naik di 73,41 hingga 73,46, kemudian untuk nilai tukar petani berada di angka 103 hingga 105, dan nilai tukar nelayan berada di angka 104 hingga 106.

Baca Juga:  Pembangunan Infrastruktur Penggerak Ekonomi

Untuk penerimaan Negara, pemerintah menetapkan target pendapatan negara pada tahun depan sebesar Rp1.846,1 triliun yang ditopang dari pendapatan perpajakan, PNBP dan Hibah. Untuk penerimaan dari perpajakan, pemerintah menetapkan target sebesar Rp1.510 triliun, Untuk pendapatan negara bukan pajak (PNBP) ditargetkan sebesar Rp335 triliun, dan pendapatan hibah sebesar Rp0,6 triliun.

Untuk belanja Negara, pemerintah menetapkan angka sebesar Rp2.714 triliun, Belanja tersebut berupa belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.944,5 triliun dan TKDD sebesar Rp769,6 triliun. Terdapat defisit yang ditargetkan sebesar Rp868 triliun  atau 4.85% dari PDB

Terkait kebijakan penyaluran TKDD tahun 2022, terdapat 5 fokus yang menjadi fokus yaitu :

  1. Melanjutkan kebijakan perbaikan kualitas belanja daerah untuk peningkatan dan pemerataan kesejahteraan antar daerah.
  2. Melanjutkan penguatan sinergi perencanaan penganggaran melalui peningkatan harmonisasi belanja Kementerian/Lembaga dan TKDD terutama terkait Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik.
  3. Melanjutkan kebijakan penggunaan Dana Transfer Umum (DTU) untuk peningkatan kualitas infrastruktur publik daerah, pemulihan ekonomi di daerah dan pembangunan SDM.
  4. Meningkatkan efektivias penggunaan Dana Transfer Khusus (DTK) melalui penyaluran DAK Fisik berbasis kontrak untuk menekan idle cashdi daerah dan DAK Nonfisik untuk mendorong peningkatan capaian output dan outcome serta mendukung perbaikan kualitas layanan; serta,
  5. Memprioritaskan penggunaan Dana Desa untuk pemulihan ekonomi di desa melalui program perlindungan sosial, kegiatan penanganan pandemi Covid-19 dan mendukung sektor prioritas di desa.

Dengan asumsi yang telah disusun dan fokus kebijakan yang akan diambil, maka pemerintah optimistis walaupun dihadapkan dengan ketidakpastian ekonomi dunia di tahun 2022, perekonomian Indonesia akan melanjutkan pemulihan yang makin kuat, penanganan pandemi yang efektif berhasil mengendalikan varian delta dengan lebih cepat, sehingga aktivitas perekonomian kembali meningkat pada tahun 2022. (*)