Daratan dan Lautan makin Parah Akibat Sampah Plastik

ilustrasi. (net)

Skunda Diliarosta
Dosen FMIPA/ Pascasarjana Lingkungan UNP

Sampah plastik sangat merusak lingkungan, sekaligus menciderai ekologi dan lingkungan daratan maupun lautan. Dampak buruk sampah plastik tidak hanya merusak kesehatan manusia, membunuh berbagai hewan dan ikan, tetapi juga merusak lingkungan secara sistematis. Oleh karena itu jika tidak dikelola secara serius, maka pencemaran sampah plastik sudah pasti sangat berbahaya bagi kelanjutan ekologi dan lingkungan di muka bumi ini.

Di Indonesia, sampah plastik bukan hanya menjadi masalah sosial saja, namun juga ekonomi dan budaya. Dan, hampir di semua kota mengalami kendala dalam mengolah sampah. Hal ini terjadi karena pengolahan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di sebuah kota, jumlah dan luas lahan tersedia masih kurang. Sehingga, masyarakat banyak membuang sampah sembarangan. Sehingga, kebersihan dan ekosistem perairan darat maupun laut rusak. Ikan dan terumbu karang di laut akan mati akibat sampah plastik dibuang warga di sekitar pantai.

Diperkirakan penggunaan kantong platik oleh masyarakat dunia ada 500 juta hingga 1 miliar kantong plastik dalam setahun. Studi yang dilakukan peneliti di Pusat Nasional UC Santa Barbara yang diterbitkan dalam jurnal Science menyatakan bahwa 8 juta metrik ton sampah plastik mencemari laut setiap tahun. Dan, diperkirakan tahun 2025 mendatang sampah plastik mencapai 2 kali lipat jumlahnya.

Beberapa tahun lalu ketika Menteri Kelautan dan Perikanan dijabat Susi Pudjiastuti pernah mengatakan, berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun.

Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan pemukiman sebanyak 10 miilar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Sedangkan yang dibuang ke laut 3,2 juta ton. Bahkan menurut perkiraan Bank Dunia, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton tahun 2025 mendatang. Kota-kota di dunia menghasilkan sampah plastik hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Dan ternyata dalam daftar negara penyumbang sampah plastik di dunia, Indonesia menduduki di peringkat kedua sebagai negara dengan sampah terbanyak dibuang ke laut.

Menyikapi kekhawatiran akan bahaya sampah plastik menciderai lingkungan, maka Jakarta sudah mulai melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai lewat Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 mewajibkan penggunaan kantong belanja ramah lingkungan pada pusat perbelanjaan, pasar rakyat dan toko swalayan.

Volume sampah plastik di Jakarta bisa mencapai 8.765 ton per hari yang didominasi kantong belanja plastik sekali pakai. (Bank Dunia, 2018) Begitu juga di Kota Padang terdapat jumlah sampah plastik di TPA Airdingin, mencapai 40,5 ton data dari Januari hingga Oktober 2019 lalu. Ini berarti dalam satu tahun terdapat sampah plastik lebih kurang 48,6 ton, sedangkan jumlah sampah organik terdapat 94,5 ton per tahun (DLH 2019). Sumber sampah terbanyak berasal dari pemukiman dengan komposisinya berupa 75% terdiri dari sampah organik dan 25% sampah anorganik.

Untuk diketahui bahwa sampah plastik bahannya bukan berasal dari bahan komposisi biologis organik, dan plastik itu memiliki sifat sulit terdegradasi tidak dapat diuraikan. Agar dapat menghancurkan plastik diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun hingga dapat didekomposisi (terurai) sempurna. Sampah organik sudha banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos, briket, serta biogas.

Sedangkan sampah anorganik masih sangat minim pengelolaannya. Sampah anorganik seperti sampah plastik sangat sulit didegradasi, bahkan tidak dapat didegradasi sama sekali melalui proses alami. Bahan pembuat plastik, umumnya dari polimer polivinil terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Karena, bahan pembuat kantong plastik tersebut terdiri dari gas dan minyak disebut ethylene.

Sebagaimana diketahui bahwa sumber bahan pembuat plastik tersebut dari minyak, gas dan batu bara mentah. Semua ini sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Semakin banyak menggunakan plastik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut. Serta, kantong plastik itu sulit untuk didegradasi / diuraikan oleh tanah dan membutuhkan waktu sangat lama penguraiannya atau hancurnya diperkirakan lebih dari 100 tahun proses penguaraiannya.

Hal tersebut tentu akan memberikan konsekuensi buruk, di antaranya tercemarnya tanah, air tanah dan ekologi tanah. Lembaran dan partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan dapat merusak biologi tanah karena terkontaminasi zat beracun dari proses penguraian plastik tersebut.

Upaya untuk mengurangi jumlah sampah plasitik lewat program pengolah sampah dan pengurangan penggunaan bahan plastik, baik berupa kantong plastik maupun bentuk lembaran plastik lainnya. Salah satu program yang mampu melokalisir penyebaran sampah plastik dengan bank sampah. Di mana, saat ini terdapat sekitar 33 bank sampah di Kota Padang. Program bank sampah salah satu cara masyarakat berpartisipasi mengurangi jumlah sampah.

Berbagai upaya terus dilakukan DLH dan kini dipasang pula kubus apung di banda bakali/ banjir kanal secara horizontal dan memelintang sedemikian rupa di Alai Parakkopi. Diharapkan kubus apung ini mampu menyekat dan menjaring sampah yang hanyut, baik sampah organik, anorganik termasuk sampah plastik terutama yang melayang dan mengapung di permukaan aliran air. Sehingga, jumlah yang masuk laut bisa diatasi dan berkurang menurut DLH (Padang Ekspres, 18/7/2020)

Namun untuk penempatan kubus apung ini perlu dipertimbangkan debit aliran sungai dan kecepatan aliran sungai, karena curah hujan di Padang cukup banyak rata rata per tahunnya 4.800 mm dan apalagi sering terjadi cuaca ekstrem, terutama curah hujan tinggi saat tertentu. Hal ini sangat berpengaruh terhadap debit dan kecepatan aliran sungai yang akan berisiko terhadap kubus apung bisa terbalik dihantam derasnya aliran sungai tersebut. Jadi, penempatan kubus apung harus lewat analisa cermat pula agar fungsinya untuk menjaring sampah terjamin.

Untuk menanggulangi sampah plastik beberapa pihak memang sudah pula berusaha membakarnya. Akan tetapi, prosesnya yang tidak baik dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna. Hal ini menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini, mengakibatkan manusia rentan terhadap berbagai penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi karena lingkungan tidak bersih dan tidak sehat tersebut.

Semua program pengendalian dan pengelolaan sampah plastik sudah tercantum dalam peraturan Wali Kota (Perwako) Padang Nomor 44 Tahun 2018 dan program yang mengatur belanja plastik Nomor 36 Tahun 2018. Diharapkan kegiatan dan keberadaan bank sampah terutama untuk mengendalikan sampah-sampah plastik di Padang dapat melaksanakan fungsi dan tanggungjawabnya guna mengelola sampah plastik dan kegiatan lainnya. Sehingga, mampu mengendalikan pencemaran lingkungan oleh sampah plastik.

Sebenarnya perhatian terhadap bahaya pencemaran sampah terhadap lingkungan kota sudah diantisipasi sejak lama oleh managemen kota lewat Perda Nomor 21 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah berikut sanksinya. Setiap rumah, kantor, kedai, sekolah dan tempat-tempat umum lainnya diminta menyediakan tempat sampah. Sampah yang terkumpul kemudian dimasukkan ke kontainer terdekat mulai pukul 17.00 hingga 05.00. Dalam perda tersebut, orang yang membuang sampah sembarangan dikenai tindak pidana ringan. Pelaku bisa terancam hukuman kurungan maksimal 3 bulan, dan denda maksimal Rp 5 juta.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita betul-betul memberdayakan perda dan perwako Padang tersebut dengan mematuhi dan laksanakan, serta hentikan penggunaan plastik sekali pakai. Semuanya agar perairan/ darat dan laut Padang tidak tercemar, serta terancam sampah plastik yang sangat merusak ekologi lingkungan tersebut. (*)